Seperti dikutip dari Reuters, Nash menjanai operasi tahap ketiga di Boston's Brigham and Women's Hospital, Jumat (10/6) waktu setempat. Setelah operasi, Nash diharapkan mendapatkan indera perasa dan penciumannya kembali. Sehingga ia akan bisa tersenyum, mengekspresikan emosi dan makan dengan normal.
Pada Mei lalu, wajah Nash juga dioperasi oleh tim medis lebih dari 30 orang, di antaranya perawat dokter, ahli anestesi dan dokter bedah. Tim bekerja lebih dari 20 jam untuk mengganti bagian hidung, bibir, kulit dan otot wajah, animasi serta saraf. Nash juga mendapatkan gigi dan langit-langit dari donor anonim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter berharap Nash dapat menikmati kehidupan sosial yang lebih normal pasca-operasi. Sebelum transplantasi, ia memutuskan untuk tidak menghadiri kelulusan sekolah menengah karena khawatir akan membuat para siswa merasa ketakutan.
Nash, terluka setelah seekor simpanse seberat 200 pound peliharaan temannya mengamuk dan merusak wajahnya. Akibat serangan tersebut, Nash kehilangan tangan, bibir, hidung dan matanya buta setelah serangan. Polisi kemudian menembak simpanse brutal tersebut.
"Bagi kami, dia bukan seperti seorang wanita yang dianiaya oleh simpanse," kata Dr Bohdan Pomahac, yang memimpin tim bedah.
"Bagi kami, Charla adalah orang, berani kuat yang mengilhami tim untuk melakukan segala yang mungkin menggunakan keahlian kolektif kami untuk mengembalikan kualitas hidupnya," lanjutnya.
Brigham and Women's Hospital, sebuah rumah sakit yang berafiliasi dengan Harvard Medical School, sebelumnya telah berhasil melakukan transplantasi terhadap dua wajah pada awal tahun 2011.
Dallas Wiens (26), pasien transplantasi wajah yang pertama. Di sana, dia melanjutkan rehabilitasi otot wajah dan kembali menjalani kehidupan normal. Transplantasi wajah penuh pertama di dunia sbelumnya juga terjadi di Spanyol pada tahun 2010.
(mei/anw)