Hal itu ditekankan Deputi Perdana Menteri Hungaria Zsolt Semjén melalui pidato pengukuhannya dalam trialog Kristen-Yahudi-Islam pada konferensi tingkat Menteri Negara di Gödöllő, Hungaria, Kamis (2/6/20110).
"Adalah sangat penting untuk memperjelas bahwa pemisahan antara agama dan negara tidak berarti pemisahan agama dan masyarakat," ujar Semjén dalam siaran pers Uni Eropa (UE) yang diterima detikcom Den Haag, Kamis petang atau Jumat pagi WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Semjén, agama terhubung ke negara dalam beberapa cara. "Simbol-simbol menentukan suatu negara adalah apa-apa yang dibuat oleh nenek moyang kita, dan negara harus menghormati mereka," papar tokoh partai Kristen Demokrat Hungaria itu.
Semjén mengingatkan bahwa di beberapa belahan dunia, berbagai cara telah diterapkan untuk mencegah orang dari menjalankan agama mereka secara bebas.
Lanjut Semjén, rezim komunis ateis di Hungaria telah menggunakan cara-cara agresif di eranya, tetapi ada lain lagi yang menggunakan metode lebih canggih juga.
“Negara seyogyanya tidak mengganggu ketetapan dalam urusan- urusan agama," demikian Semjén.
Konferensi diselenggarakan oleh Kantor Kepresidenan Hungaria dengan tujuan untuk memperkuat dialog dan kerjasama di antara agama-agama bersejarah.
Di samping perwakilan negara-negara anggota UE, delegasi dari Kroasia, Serbia, Bosnia-Herzegovina, Ukraina, Rusia, Israel, AS, dan beberapa negara Timur Tengah juga diundang dalam dialog yang berlangsung selama tiga hari itu.
Para peserta melaporkan pengalaman-pengalaman mereka dalam hal kebebasan menjalankan agama serta hubungan antara agama dan negara di negara mereka masing-masing. Agendanya termasuk situasi agama individu dan agama minoritas.
(es/es)











































