Bertemu Netanyahu, Obama Akui Beda Pandangan Soal Perbatasan Israel

Bertemu Netanyahu, Obama Akui Beda Pandangan Soal Perbatasan Israel

- detikNews
Sabtu, 21 Mei 2011 15:03 WIB
Bertemu Netanyahu, Obama Akui Beda Pandangan Soal Perbatasan Israel
Washington - Dalam kunjungannya ke Gedung Putih, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Netanyahu memperingatkan Obama untuk tidak mengejar 'angan-angan' perdamaian di Timur Tengah jika tak ingin membuka perselisihan dalam hubungan AS-Israel.

Pertemuan yang digelar di Ruang Oval Gedung Putih tersebut berlangsung selama 90 menit. Netanyahu juga menyatakan dengan tegas bahwa Israel tidak akan pernah menerima saran pengembalian wilayah perbatasan Israel-Palestina seperti sebelum perang Arab-Israel pada tahun 1967, maupun saran pertukaran wilayah antar kedua negara.

Netanyahu menekankan pada gagasan yang meminta agar Israel kembali begitu saja pada tapal batas tahun 1967. Padahal saat itu wilayah Israel hanya selebar 9 mil atau sekitar 14 kilometer dan setengah ukuran jalan lingkar di sekitar wilayah Washington, AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sementara Israel tengah bersiap melakukan kompromi untuk perdamaian. Tapi Israel tidak bisa kembali pada perbatasan tahun 1967, karena garis batas tersebut tidak bisa dipertahankan," ucap Netanyahu sembari menatap langsung mata Obama, seperti dilansir AFP, Sabtu (21/5/2011).

Menurutnya, jika Israel setuju kembali pada perbatasan tahun 1967, hal ini akan membuat pusat kawasan penduduk di Israel menjadi rentan. Ini juga berarti akan ada ratusan bahkan ribuan warga, yang harus 'digusur' dari rumah masing-masing di wilayah Tepi Barat dan Yerusalem bagian timur.

Netanyahu lantas menceritakan sejarah perjuangan bangsa Yahudi. Obama pun mendengarkan dengan serius sembari tangannya menutup mulutnya.

"Sebuah perdamaian yang didasarkan pada angan-angan akhirnya akan hancur saat berbenturan dengan 'batu-batu' relita di Timur Tengah," ucap Netanyahu.

"Kami tidak memiliki banyak kesempatan untuk melakukan kesalahan...karena, bapak Presiden, sejarah tidak akan memberi kesempatan lain bagi bangsa Yahudi," imbuhnya.

Terhadap pernyataan Netanyahu tersebut, Obama menyebut dirinya dan Netanyahu memang memiliki pemahaman berbeda tentang bagaimana cara menghidupkan kembali perundingan damai antara Israel-Palestina yang kandas tahun lalu.

"Saya pikir itu mungkin bagi kita untuk membuat kesepakatan yang membantu Israel untuk mengamankan dirinya agar tidak rentan, tetapi juga harus bisa mengatasi masalah-masalah kedua negara yang cukup memilukan selama satu dekade terakhir," tutur Obama.

(nvc/gah)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads