detikNews
Jumat 13 Februari 2015, 21:19 WIB

Laporan Dari AS

Media AS yang Hipokrit dan Bahaya Radikalisasi dalam Kasus Penembakan 3 Muslim

Shohib - detikNews
Media AS yang Hipokrit dan Bahaya Radikalisasi dalam Kasus Penembakan 3 Muslim Shamsi Ali (Rengga/ detikcom)
Washington DC -

Media-media di Amerika Serikat terkesan enggan memberitakan peristiwa penembakan tiga warga muslim di Chapel Hill, North Carolina, AS. Awalnya tidak banyak media yang memberitakan peristiwa tersebut. Setelah peristiwa tersebut menjadi pembicaraan yang luas di media sosial, barulah media-media mainstream di AS memberitakannya.

“Memang ada double standard di media-media mainstream di Barat. Media dikuasai oleh kelompok tertentu yang punya kepentingan ideologi dan ekonomi. Secara ideologi mereka tidak setuju dengan masyarakat muslim. Secara ekonomi juga masyarakat muslim belum terlalu solid,” kata tokoh muslim Indonesia di AS, Muhammad Shamsi Ali, kepada detikcom, Jumat (13/2/2015).

Menurutnya, sikap media yang hipokrit ini justru semakin memperburuk hubungan antara dunia Barat dengan dunia Islam dan semakin menyuburkan radikalisme. Pasalnya, ketidakimbangan dalam pemberitaan itu memicu ketidakpuasan dan kemarahan di kalangan masyarakat Islam.

“Salah satu penyebab utama radikalisme adalah ketidakimbangan pemberitaan di media-media Barat. Ketika orang Islam melakukan sesuatu yang kurang baik, mereka mengeksposnya besar-besaran. Tapi ketika orang Barat yang melakukan dan orang Islam yang menjadi korban, media diam. Itu membuat orang Islam marah, sehingga wajar jika ada teori konspirasi yang tumbuh bahwa Barat ingin menghancurkan
Islam,” kata Ustad Shamsi.

Menurutnya, ketidakimbangan dalam pemberitaan itu terlihat di banyak kasus yang lain. Misalnya, dalam salah satu forum interfaith dialogue di New York, salah seorang petinggi media mempertanyakan kepada Ustad Shamsi mengapa masyarakat muslim tidak mengutuk kasus Charlie Hebdo.

“Saya katakan padanya bahwa para tokoh muslim mengutuk peristiwa tersebut. Hanya saja media tidak banyak memberitakan sehingga dipersepsikan seolah-olah kita ini diam saja. Seolah-olah kita ini tidak mengutuk ekstremisme. Padahal faktanya kita mengutuk keras ekstremisme,” ucapnya.

Untungnya, lanjut dia, saat ini ada media sosial yang bebas kepentingan dan lebih imbang dalam menilai suatu peristiwa. Setelah penembakan di Chapel Hill ramai dibicarakan di media sosial, akhirnya media mainstream mau tak mau ikut memberitakan.

“Setelah peristiwa itu menjadi trending topic, akhirnya media-media mainstream memberitakan meskipun tetap kelihatan enggan. Pemberitaannya juga terkesan menyudutkan masyarakat Islam,” kata pria yang aktif mengampanyekan dialog antar-agama ini.


(gah/gah)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com