Seperti Mamie, istri Dwight Eisenhower, Hillary pernah jadi Ibu Negara Amerika Serikat. Selama menjadi Ibu Negara, Hillary tak semata-mata hanya duduk manis sebagai pendamping sang suami, Presiden Bill Clinton, tapi dia terlibat aktif dalam sejumlah penentuan kebijakan. Sebelum maju sebagai calon Presiden, Hillary juga pernah menjadi Senator dan Menteri Luar Negeri, sama seperti Olimpia dan Condoleezza.
Kendati tak punya darah politikus, politik sepertinya memang sudah jadi dunia Hillary sejak masih duduk di bangku SMA Maine South di Park Ridge, Illinois. "Politik adalah bahan bakar roket yang menggerakkan mereka," kata Sally Bedell Smith, penulis buku soal pasangan Bill-Hillary Clinton, For Love of Politics.
Jerry Baker, guru Hillary di SMA Maine South masih ingat saat mereka hendak menggelar simulasi debat Calon Presiden Amerika pada 1964, gadis itu ingin berperan sebagai Senator Barry Goldwater, kandidat Presiden dari Partai Republik. Keluarga Hillary memang keluarga Republiken.
Tapi Jerry malah menunjuk Hillary sebagai pemeran Presiden Lyndon B. Johnson, lawan Senator Goldwater. Walaupun sempat protes, Hillary tetap mempersiapkan debat dengan sangat serius. Dia mempelajari semua isu dan segala hal tentang Presiden Johnson. Dasar memang jago berdebat, Hillary tetap tampil gemilang sebagai Presiden Johnson.
"Aku selalu mengasah kemampuanku dengan menantang debat teman-temanku," Hillary menulis dalam biografinya, Living History. "Aku akan menantang Ernest Ricketts berdebat soal perdamaian dunia, skor baseball, dan isu apapun yang lewat di pikiran kami." Dalam soal adu kata-kata, Ernest lebih sering mengakui kehebatan Hillary. "Jika ada yang bertanya kepada kami,"Siapa yang bisa mewakili berbicara soal isu ini atau itu?", kami selalu menjawab,"Biarkan Hillary yang melakukannya," Ernest menuturkan kepada New York Times.
Teman-teman sekolah dan kuliahnya tahu, di balik kacamata tebalnya, Hillary punya cadangan energi dan semangat yang tak ada habis-habisnya. Dia perempuan yang sangat cerdas, sangat fokus, sangat disiplin, kadang agak kurang sabar, dan tak gampang menyerah. Semangat kompetisi jadi DNA-nya.
"Banyak di antara kami berpikir bahwa Hillary akan menjadi presiden perempuan pertama.......Jika dalam hidup kami akan ada Presiden Amerika perempuan, maka itu adalah Hillary," kata Karen Williamson, teman sekelas Hillary di Welllesley College, kepada Boston Globe, beberapa tahun lalu.
Berkat kecerdasan, fokus, dan kerja keras, Hillary bisa menembus dominasi laki-laki di lapangan politik. Tapi dia sadar, tak terlahir sebagai politikus. "Aku bukan politikus alamiah seperti suamiku atau Presiden Obama," kata Hillary, dikutip Denver Post. Di atas panggung, Hillary sadar dia tak punya kharisma untuk menyihir massa seperti Presiden Clinton, juga tak pandai memilih kata-kata puitis seperti Presiden Obama.
Pengalaman politik puluhan tahun, sebagai istri Gubernur Arkansas, Ibu Negara Amerika, Senator dan Menteri Luar Negeri, telah mengasah kemampuan Hillary melayani segala macam serangan di atas podium. Setahun lalu, selama lebih dari sepuluh jam, Menteri Luar Negeri Hillary melayani cecaran Komite Intelijen DPR Amerika soal serangan terhadap kompleks diplomatik Amerika di Benghazi, Libya.
Patti Solis Doyle, Manajer Kampanye Hillary saat seleksi kandidatPresiden Amerika dari Partai Demokrat pada 2008, mengatakan, inilah kunci kemampuan Hillary di atas podium, "Dia sangat tekun belajar. Dia mempersiapkan segala hal sebelum naik podium." Itu lah yang kini Hillary kerjakan bersama timnya sebelum naik panggung untuk bertarung melawan Donald Trump. (sap/hbb)











































