Putar Suara
Putar Device Anda untuk gambar yang lebih baik

Kang Deny dan Perjuangan di Dasar Selokan Kota

Fotografer
Rifkianto Nugroho

Deny Kurniawan (49) menyelam ke dalam selokan berlumpur di kawasan Bintara, Bekasi, Jawa Barat. Bau menyengat, air hitam pekat, serta tumpukan sampah menjadi ruang kerjanya sehari-hari. Pekerjaan yang bagi banyak orang dihindari itu justru dijalani Kang Deny demi keluarganya tetap bertahan hidup. Baginya, pekerjaan bukan soal gengsi, melainkan tanggung jawab seorang ayah untuk memastikan anak dan istrinya tidak kekurangan.

Perjalanan hidup Kang Deny tak pernah mudah. Pria asal Bogor itu merantau ke Bekasi pada 2010 setelah terkena PHK dari perusahaan manufaktur tempatnya bekerja. Ia sempat menjalani berbagai pekerjaan serabutan hingga menjadi tukang becak. Namun penghasilannya terus menurun sejak hadirnya ojek online pada 2018, lalu semakin terpuruk saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Banyak pelanggan lansianya meninggal dunia dan jalanan mendadak sepi. Dalam situasi sulit itulah Kang Deni mulai menekuni pekerjaan membersihkan selokan dan gorong-gorong—pekerjaan penuh risiko yang jarang dilirik orang.

Setiap hari ia harus bergelut dengan lumpur pekat, udara pengap, limbah berbahaya, pecahan kaca, hingga ancaman hewan berbisa seperti ular dan biawak. Tanpa pelatihan khusus, ia belajar secara otodidak, termasuk menemukan cara melindungi tubuh dari rasa gatal dengan melumuri kulit menggunakan minyak tanah dan oli bekas sebelum turun ke dalam got. Pengalaman pahit seperti infeksi kulit, kutu air, hingga luka akibat benda tajam pernah ia alami di awal bekerja. Meski berat, Kang Deny tetap bertahan karena pengalaman hidup sejak kecil membuatnya memahami kerasnya perjuangan mencari nafkah. Ia bahkan harus bekerja sejak sekolah demi membiayai pendidikannya sendiri.

Di balik pekerjaannya yang berat, Kang Deny dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap lingkungan dan warga sekitar. Ia kerap mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan ke selokan karena menjadi penyebab utama banjir dan saluran mampet. Warga juga sering memanggilnya dalam berbagai situasi darurat, mulai dari membersihkan drainase hingga membantu pemulasaran jenazah saat pandemi, sehingga ia dijuluki sebagai “unit reaksi cepat” lingkungan. Kini, di usianya yang tak lagi muda, Kang Deny hanya ingin hidup tenang dan memastikan keluarganya tetap tercukupi. Baginya, rasa syukur menjadi kekuatan utama untuk terus bertahan di tengah kerasnya kehidupan.

Deny Kurniawan (49) saat mengeluarkan sampah dari selokan.

Deny masuk ke dalam gorong-gorong berukuran 1,5 meter.

Deny menunjukkan sampah sterofoam yang mengendap di lumpur.

Dalam menjalankan tugasnya ia kerap dibantu dengan petugas kebersihan di lingkungan tersebut.

Wajah Deny berlumuran lumpur selokan, hal itu yang membuat dirinya kerap dijuluki “Manusia Got”.

Saat bekerja Deny dilengkapi sepatu boat agar terhindar dari pecahan kaca hingga tusuk sate.

Deny beristirahat usai menyelami pekatnya lumpur selokan.

Usai bermandi lumpur, ia membilas dengan air bersih sekujur tubuh.

Siluet Deny Kurniawan dengan air selokan yang berlumpur.

Deny berbaring sejenak, butuh tenaga ekstra untuk mendorong lumpur dan sampah yang tersangkut di selokan.

Selain menjadi “Manusia Got” Deny berprofesi sebagai karyawan toko, ia bertugas mengantarkan pesanan ke rumah-rumah.

Deny juga terkenal sebagai orang yang paling sigap saat warga membutuhkan bantuan.

Apapun ia lakukan demi menafkahi anak dan istrinya, alhasil anak sulungnya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga Sarjana.

Fotografer
Rifkianto Nugroho
Editor
Agung Pambudhy
Desainer
Dedi Arief Wibisono

detik detik
***Komentar***
SHARE