Tirai Toleransi di Bulan Suci
Tirai Toleransi di Bulan Suci
Beberapa tahun ke belakang, pemandangan warung makan menutup tirai saat Ramadan mudah ditemui. Saat ini sudah semakin sulit terlihat, setidaknya di Jakarta. Apakah kemunduran toleransi ataukah bentuk kedewasaan dalam kehidupan beragama?
Saya mengemas kamera beserta buku ‘The Geography of Bliss’ dalam tas punggung. Menyalakan scooterItalia dan mulai menyusuri jalanan Jakarta. Terasa lebih sepi pada pagi menjelang siang pada pekan pertama bulan Ramadan. Belum terlalu hiruk-pikuk layaknya pekan kedua atau ketiga bulan puasa umat Islam.
Di jalan kecil di antara gedung perkantoran di jantung Sudirman, terdapat puluhan warung makanan. Terlihat beberapa berbaju karyawan kantoran membeli makan siang, beberapa nitip kepada office boy (OB). Suasananya ramai. Seolah menjadi halaman belakang bagi pekerja untuk mengisi perut saat siang hingga lembur.
Warung itu tak seluruhnya terbuka karena Ramadan. Ada yang menutup diri menggunakan tirai meski tetap mempertontonkan makanan siang hari. Semacam pernyataan pemilik warung untuk menghormati bulan Ramadan. Setidaknya tak terlalu provokatif dan menjaga harmoni sosial.
Di kawasan Palmerah, tirai merah yang masih baru menutup sebagian pandangan di warung mi ayam. Tak jauh dari sana, ada pedagang soto ayam Lamongan yang menutup sebagian fasad menggunakan kain ungu. Di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, warung masakan Padang yang menyerobot trotoar menutup lapak menggunakan kain merah dan menyisakan kaki-kaki bangku bakso.
Yang paling lazim tampaknya gerai warung Tegal (warteg). Warteg ramai-ramai menutup pintu dengan tirai besar menyerupai gorden. Termasuk bagian etalase kaca sehingga makanan dan aktivitas dine in tidak mencolok dari luar. Beberapa menuliskan kata ‘BUKA’ untuk memastikan semua berjalan biasa-biasa saja.
Di sebuah warteg di Mampang Prapatan, tirai dimanfaatkan menjadi media iklan salah satu aplikasi desain. Demikian pula di beberapa warteg yang menjadi bagian dari jaringan warteg itu. Tirai toleransi sedikit bergeser menjadi komoditas komersial. Kreatif.
Sebagai instrumen, tirai bukan toleransi itu sendiri. Ia hanya simbol untuk menyatakan bahwa toleransi memang perlu. Tirai memberi batas dan privasi ruang nyaman bagi mereka untuk tetap bisa makan tanpa merasa diperhatikan oleh publik atau saling menginterupsi.
Tirai menjadi wajah visual agar dua gaya hidup yang bertolak belakang bisa berada di satu jalan tanpa bentrok karena terbangun sikap saling percaya (trust). Dan mengutip Eric Weiner dalam buku ‘The Geography of Bliss’, trust merupakan prasyarat atau indikator bagi kebahagiaan. Anda tidak bisa bahagia jika terus-menerus menoleh ke belakang, bertanya-tanya apakah seseorang akan mencopet atau menusuk Anda dari belakang.
Pekerja menikmati makan siang di dalam tirai warung padang, di trotoar Jalan Jaksa, Jakarta Pusat.
Tirai warna oranye mencolok di sebuah warung makan di Jakarta. Tirai menjadi wajah visual agar dua gaya hidup yang bertolak belakang bisa berada di satu jalan tanpa bentrok.
Tirai besar menyerupai gorden di sebuah warung kopi di belakang perkantoran jalan Sudirman, Jakarta.
Soto Ayam Lamongan di Palmerah. Tirai ungu mendukung harmoni sosial tetap berjalan.
Pembeli menunggu makanan di warung soto di flyover Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Pemulung melintas di depan warteg waralaba yang kompak menggunakan tirai saat Ramadan.
Tirai yang dimanfaatkan menjadi media promosi di sebuah warteg di Mampang Prapatan. Kreatif.
Tirai dari kertas koran pada pedagang cemilan Cakue. Saat di-zoom, kertas koran berbahasa dan berhuruf mandarin.
Pelanggan perempuan keluar tirai dengan warna paling monokrom di sebuah coffeeshop.



