Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis

Foto

Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis

Ari Saputra - detikNews
Minggu, 23 Agu 2026 07:30 WIB

Bekasi - Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan.

Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Enda melangkah perlahan dari saung bambu di tengah hamparan sawah. Ia menghampiri sapi gembalanya yang terus merengek kehausan. Dengan tubuh kurusnya, kakek itu membimbing sapi menuju sumur dangkal di tengah paparan cuaca terik tanpa awan. Sumur sedalam 2 meter dengan diameter 1 meter itu menjadi satu-satunya penyelamat di tengah kemarau yang merenggut hujan lebih dari tiga bulan.
Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jikapun ada secuil warna hijau di antara persawahan yang meranggas, itu hanyalah rumput liar yang sapi enggan sentuh. Seolah-olah alam sengaja menyisakan sekadar untuk menahan tanah berdebu tak terbang diempas angin.
Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Sudah dua minggu saya bikin sumur ini. Nggak ada air sama sekali. Jadi bikin sumur khusus buat minum sapi," tutur Enda lirih.
Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sekitar 2 kilometer dari lokasi Enda, tepat di tepian anak Sungai Cipamingkis, Amsari sibuk merawat tanaman sawi dan kangkung daratnya. Sayangnya, tak ada cukup pasokan air untuk membasahi benih-benih yang ia sebar. Setiap hari sepanjang kemarau panjang ini, Amsari harus memikul dua ember plastik berkapasitas 10 liter, turun-naik tebing sungai yang curam.
Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Ada kalau 20 kali naik-turun setiap hari," ungkap Amsari, menggambarkan perjuangan keras menumbuhkan bibit sayuran demi menyambung hidup. Kulit tangannya legam terbakar sengatan matahari, punggungnya mulai membungkuk, dan badannya tampak kering dengan sedikit otot tersisa. Ia ditemani istri di tengah cuaca lembap yang mempercepat dehidrasi. Tanah yang semula subur itu kini merekah retak, nyaris menyerupai gurun jika tak disiram secara telaten oleh Amsari.
Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kalau yang punya uang, bisa beli mesin pompa untuk narik air ke atas. Kalau saya, ya begini saja," kata Amsari sambil menunjuk pikulan kayu dan ember plastik di dekat kakinya.
Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menyusuri jejak kekeringan sejauh 18 kilometer ke arah hulu, Bendungan Cipamingkis tampak meratap. Tak ada lagi gemercik air deras seperti tiga atau empat bulan lalu. Sungai yang sedemikian lebar menyisakan lanskap yang menyedihkan—ditinggalkan air sebagai sumber kehidupan, dan hanya menyisakan kubangan dangkal yang dimanfaatkan warga untuk sekadar mencuci pakaian dan kendaraan.
Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pohon-pohon besar peneduh jalan kian langka di sepanjang daerah aliran sungai (DAS). Sengatan panas tanpa ampun menyambut siapa saja yang melintas. Genangan air atau comberan becek sulit ditemukan.
Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sekitar 5 kilometer naik lagi ke hulu sebelum bendungan, kondisinya tak kalah memprihatinkan. Sisa-sisa air sungai yang terus menyusut menjadi gantungan hidup warga dari tiga desa untuk urusan mandi-cuci-kakus (MCK).  Sore itu, puluhan warga tampak berkumpul, mencuci pakaian kotor dan membersihkan kendaraan mereka yang tertutup debu tebal.
Kemarau panjang membuat warga Cibarusah kesulitan mendapatkan air. Debit Sungai Cipamingkis terus menipis, sementara warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Cibarusah dan DAS Cipamingkis tampak tidak baik-baik saja. Sistem irigasi yang belum maksimal memperparah krisis air tahunan dari masa ke masa. Alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai tergolong masif—hutan-hutan asri berganti menjadi ladang kering, permukiman warga hingga kawasan perumahan yang dikelola pengembang. Akibatnya, sumber mata air surut drastis saat kemarau dan saat musim hujan datang, tanah tak lagi mampu menyerap air, menyebabkan ribuan kubik air langsung terbuang sia-sia ke sungai dan berakhir ke laut. Perlu ada solusi konkret memulihkan kondisi ekosistem yang terus menurun.
Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis
Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis
Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis
Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis
Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis
Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis
Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis
Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis
Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis
Kekeringan Cekik Cibarusah, Air Cipamingkis Menipis


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini