Jakarta - Nama Dadan Hindayana kembali menjadi sorotan usai dicopot dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional. Selama menjabat, Dadan menuai banyak kontroversi.
Foto
Potret Dadan Hindayana, Pernah Usul Menu Serangga hingga Dicopot dari BGN
Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN) pada Selasa (2/6/2026), dengan memberhentikan Dadan Hindayana bersama dua wakil kepala BGN, yakni Lodewijk Paulus dan Sony Sanjaya. Posisi Dadan kini digantikan oleh Nanik S Deyang yang sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala BGN bidang komunikasi publik dan investigasi. Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Sebelum menjabat sebagai kepala BGN, Dadan dikenal sebagai akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan latar belakang keilmuan proteksi tanaman. Ia menempuh pendidikan tinggi di IPB dan melanjutkan studi doktoral di University of Bonn serta Leibniz Universität Hannover, Jerman. Meskipun memiliki rekam jejak akademik yang kuat, kepemimpinannya di BGN tidak lepas dari berbagai kontroversi yang muncul selama pelaksanaan program MBG. Foto: Agung Pambudhy/detikFoto
Salah satu kontroversi yang banyak dibahas muncul pada Mei 2025 saat Dadan Hindayana menghadiri kegiatan di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut, Dadan menceritakan pengalaman pribadinya mengonsumsi dua liter susu setiap hari. Ia mengaitkan kebiasaan tersebut dengan tinggi badan kedua anaknya yang mencapai lebih dari 180 sentimeter. Pernyataan itu kemudian menuai berbagai kritik karena dianggap kurang sensitif terhadap kondisi ekonomi sebagian masyarakat Indonesia. Foto: Agung Pambudhy/detikFoto
Kontroversi lain muncul pada Januari 2025 ketika Dadan mengusulkan pemanfaatan serangga dan ulat sagu sebagai alternatif sumber protein dalam program MBG. Dalam sebuah forum diskusi, ia menyebut belalang maupun ulat sagu dapat menjadi pilihan sumber protein di daerah tertentu yang memang telah memiliki budaya mengonsumsi bahan pangan tersebut. Meski disampaikan dalam konteks pemanfaatan pangan lokal, pernyataan tersebut memicu perdebatan luas di media sosial maupun ruang publik. Foto: Agung Pambudhy/detikFoto
Pelaksanaan MBG selama masa kepemimpinan Dadan Hindayana juga diwarnai berbagai kasus keracunan makanan yang memicu kekhawatiran masyarakat. Data Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 446 kasus keracunan dengan total korban mencapai 37.693 orang hingga awal Mei 2026. Kasus tersebut terjadi di 220 kabupaten dan kota yang tersebar di 36 provinsi. Puncak kejadian terjadi pada September 2025 ketika 657 pelajar di Jawa Barat mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. Insiden serupa kemudian dilaporkan muncul di sejumlah daerah lain, termasuk Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Selatan dalam periode yang relatif berdekatan. Foto: Pradita Utama/detikFoto
Selain persoalan kualitas makanan, BGN juga menjadi sorotan karena sejumlah pengadaan barang dan jasa yang dinilai terlalu besar. Salah satu yang paling banyak dikritik adalah rencana pembelian lebih dari 20.000 unit motor listrik operasional MBG dengan harga sekitar Rp 42 juta hingga Rp 56,8 juta per unit. Nilai pengadaan tersebut diperkirakan mendekati Rp 2 triliun dan memicu perdebatan karena dianggap tidak sejalan dengan kondisi ekonomi masyarakat pada saat itu. Sorotan juga muncul terhadap pengadaan berbagai perlengkapan operasional dan pelatihan, seperti handuk mandi, sikat semir sepatu, alat makan, laptop, hingga kaos kaki. Foto: Pradita Utama/detikFoto
Kontroversi berikutnya muncul ketika MBG tetap dijalankan selama Ramadan 2025. Untuk menyesuaikan kebutuhan siswa yang berpuasa, BGN mengubah mekanisme distribusi makanan agar dapat dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa. Menu yang disiapkan, antara lain susu, telur rebus, kurma, buah, serta sejumlah makanan yang dapat bertahan lebih lama. Kritik bermunculan karena menu tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan gizi siswa secara optimal selama bulan Ramadan. Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Terbaru, Dadan Hindayana juga sempat menjadi sorotan setelah mengungkap rencana perluasan program MBG ke Sekolah Indonesia Jeddah di Arab Saudi. Ia menyebut pihak sekolah dan para guru di Jeddah menyambut baik program tersebut. Foto: Gilang Faturahman/detikFoto











































