Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis didorong jadi penggerak ekonomi pangan. Skema baru diharapkan memberi dampak bagi petani dan pelaku usaha lokal.
Foto
MBG Didorong Bertransformasi dari Bantuan ke Penggerak Ekonomi
Adidaya Institute menggelar dialog bertajuk Tantangan Program Prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran di Tengah Gejolak Geopolitik Global, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Diskusi ini menghadirkan Ekonom Adidaya Institute Bramastyo B. Prastowo, Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Salamuddin Daeng, serta Koordinator Pusat BEM SI Muzzamil Ihsan.
Dalam forum tersebut, pemerintah didorong mengubah model program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari sekadar distribusi makanan menjadi platform ekonomi pangan terintegrasi.
Menurut Bramastyo, skema MBG saat ini masih berorientasi pada konsumsi dan serapan anggaran sehingga perlu ditransformasi menjadi strategi pembangunan ekonomi pangan. Perubahan ini mencakup pergeseran dari belanja sosial menjadi investasi ekonomi, serta dari output jumlah porsi menjadi outcome berupa ekosistem pangan yang tumbuh dan berkelanjutan.
Adidaya Institute juga menilai kebutuhan besar MBG berpotensi menjadi permintaan terstruktur yang dapat diserap langsung dari petani, nelayan, peternak, hingga UMKM pangan lokal sehingga menciptakan efek pengganda bagi perekonomian daerah.
Selain itu, dipaparkan lima langkah percepatan, yakni penyusunan aturan turunan Perpres Nomor 115 Tahun 2025, kontrak serapan yang mengikat bagi petani dan nelayan, penguatan kelembagaan seperti koperasi dan lumbung pangan, penyiapan buffer fiskal, serta transparansi melalui dashboard berbasis data real-time. Hingga kini, program MBG telah menjangkau lebih dari 61,6 juta penerima manfaat dan ditargetkan mencapai 82,9 juta pada akhir 2026. Transformasi model program dinilai penting agar MBG tidak hanya menjadi program bantuan, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi nasional.











































