ADVERTISEMENT

Foto

Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera

ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan - detikNews
Sabtu, 02 Jul 2022 13:18 WIB

Sumatera Selatan - Anggota tim pemonitoran gajah berjuang menjaga tapak jalur di hutan Jambi-Sumatera. Konflik antar gajah dan warga setempat pun menjadi tantangan tersendiri.

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) memeriksa temuan pohon kelapa yang patah karena dilewati gajah saat pemonitoran gajah di Sarolangun, Jambi.

Di jantung Hutan Harapan, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, Januardi (40) dan Saleksa (26) memulai pagi dari balik jendela kayu. Keduanya menerawang langit, bergumam soal jalan damainya di rimbun rimba. Langkah-langkah kecil yang mereka rintis sebagai anggota tim pemonitoran gajah di koridor hutan dataran rendah Jambi-Sumatera Selatan itu masih memerlukan lebih banyak tapak.   

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) memeriksa temuan pohon kelapa yang patah karena dilewati gajah saat pemonitoran gajah di Sarolangun, Jambi.

Janu meyakini, satwa berbelalai yang dikenal memiliki daya ingat kuat itu bisa lebih mudah diarahkan, ketimbang manusia. Apalagi, jelajah gajah cenderung hanya melewati jalan yang “itu-itu saja” selama bertahun-tahun. Namun sayang, konflik sering kali terjadi justru karena campur tangan manusia, salah satunya saat ketersediaan sumber daya alam di jalur atau koridor gajah berubah.   

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) memeriksa temuan pohon kelapa yang patah karena dilewati gajah saat pemonitoran gajah di Sarolangun, Jambi.

Hutan Harapan dengan luas 98.555 hektare yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) merupakan rumah bagi delapan ekor gajah sumatra (elephas maximus Sumatranus) dan sekaligus perlintasan satwa payung lain seperti harimau dan beruang madu.   

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) memeriksa temuan pohon kelapa yang patah karena dilewati gajah saat pemonitoran gajah di Sarolangun, Jambi.

Koridor gajah Hutan Harapan bertalian dengan kawasan perkebunan milik beberapa perusahaan dan warga yang setiap menitnya terus mendapatkan ancaman konversi hutan, lahan, dan praktik tambang ilegal. Laju ancaman yang coba diredam oleh langkah-langkah kecil Janu dan Saleksa.  

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) memeriksa temuan pohon kelapa yang patah karena dilewati gajah saat pemonitoran gajah di Sarolangun, Jambi.

Dua laki-laki itu bertugas memastikan jalan gajah di koridornya tidak terganggu. Termasuk, kebersihan jalur mata air yang menjadi nadi keberlangsungan hidup semua satwa di alam bebas.  

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) memeriksa temuan pohon kelapa yang patah karena dilewati gajah saat pemonitoran gajah di Sarolangun, Jambi.

Selain itu, mereka juga bertanggung jawab melakukan pendekatan damai kepada warga yang kadang “tiba-tiba” berkebun atau bermukim di dalam kawasan terlarang.   

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) memeriksa temuan pohon kelapa yang patah karena dilewati gajah saat pemonitoran gajah di Sarolangun, Jambi.

Sepeda motor dengan ban khusus yang biasa dikendarai Janu dan Saleksa untuk berpatroli acap kali tak sampai ke tujuan. Beratnya medan dan lebatnya hutan memaksa mereka harus berjalan kaki hingga puluhan kilometer. Sesekali, bahkan mereka harus mendirikan tenda untuk bermalam.  

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) memeriksa temuan pohon kelapa yang patah karena dilewati gajah saat pemonitoran gajah di Sarolangun, Jambi.

Menurut Janu, membawa alat komunikasi, GPS, parang, dan petasan merupakan perangkat wajib tambahan yang turut mereka selipkan di antara bawaan logistik, obat-obatan, makanan, dan lainnya.  

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) memeriksa temuan pohon kelapa yang patah karena dilewati gajah saat pemonitoran gajah di Sarolangun, Jambi.

Namun berdasarkan pengalamannya, ancaman tersulit yang pernah dia alami justru datang dari luar, yakni mendinginkan kemarahan warga yang kebunnya “tiba-tiba” berada di koridor gajah atau adanya ranjau paku dan jerat.  

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) memeriksa temuan pohon kelapa yang patah karena dilewati gajah saat pemonitoran gajah di Sarolangun, Jambi.

Bagi gajah, ranjau paku adalah ancaman serius. Kaki mamalia besar itu bisa terluka dan terinfeksi parah.   

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) menandai temuan jejak gajah saat pemonitoran gajah di Batanghari, Jambi.

Saat ini, Hutan Harapan memiliki enam ekor gajah Sumatra betina dan dua ekor gajah Sumatra jantan. Dua ekor gajah jantan didatangkan dari lanskap Bukit Tigapuluh dengan tujuan regenerasi. Kedua gajah itu didatangkan terpisah, yakni pada 2014 dan 2018. Hutan Harapan dipilih karena memiliki tutupan hutan yang terbilang cukup baik dan pakan alami yang memadai.  

Januardi (kiri) dan Seleksa (kanan) menandai temuan jejak gajah saat pemonitoran gajah di Batanghari, Jambi.

Pemonitoran rutin yang dilakukan Janu dan kawan-kawan dengan menyisiri jalan hutan dan perkebunan diharapkan bisa mengantisipasi konflik antara gajah dengan manusia. Langkah kecil mereka memerlukan lebih banyak dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemakluman manusia.  

Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera
Para Penjaga Damai Gajah dan Manusia di Pedalaman Sumatera

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT