Foto

Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman

Agung Pambudhy - detikNews
Minggu, 14 Nov 2021 07:01 WIB

Jakarta - Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Meski tergilas zaman, Layar pun harus terus Terkembang.

Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Jamal, Pendi Dul dengan dibantu pekerjanya sibuk menurunkan alat-alat untuk pemutaran film layar tancap yang akan ditayangkan malam hari selepas Isya. Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Satu persatu alat seperti proyektor, film Seluloid 35 MM, kain layar dan sound sistem mulai diturunkan.
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.

Saat PPKM, ia hanya sesekali mendapatkan order pemutaran film layar tancap. Untuk mengisi kekosongan selama pandemi, ia pun terpaksa harus memutar otak dan menjual makanan frozen food dirumahnya. Usai pelonggaran aturan PPKM, dalam 1 bulan terakhir saja sudah mendapatkan order 7 kali pemutaran film. Harga penyewaan pemutaran layar tancap tergantung jarak dan jumlah film yang diputar, harganya berkisar antara Rp 700 ribu hingga Rp 1,2 juta. 

Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.

Layar putih berukuran 9x4 meter itu pun dibentangkan setelah semua alat pendukung untuk pemutaran siap. Jamal (29) sebagai pemilik operator JMF (Jamal Mahfud Film) mendapatkan order untuk menayangkan layar tancap bukan untuk hajatan atau khitanan seperti biasaya. Order ini datang dari seorang penikmat film yang bernama Baba Alex hanya untuk bernostalgia menikmati suasana layar tancap. Film yang ditayangkan pun beragam: mulai Rambo IV, HITMAN, Badai dan Nafsu Dalam Cinta.

Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.

Selepas Isya satu persatu masyarakat mendatangi lapangan sepak bola guna melihat layar tancap. Tua, muda dan anak-anak riang berkumpul menikmati pemutaran film layar tancap ini. Jamal merupakan generasi milenial yang kini mengikuti jejak ayahnya Mahfud untuk memutar layar tancap sejak 2001. Berawal dari hobi dan pada tahun 2018 ia pun memutuskan untuk serius terjun dan menekunin bisnis ini. 

Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Usaha layar tancap ini diakui akan terus eksis meski kini jumlah penontonnya berkurang drastis, tapi ia yakin akan tetap ada meski tergerus zaman.
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Di tempat berbeda, di salah satu Kabupaten Bekasi tepatnya di Desa Cikedokan, Cikarang Barat Supardi (38) juga menjadi pengusaha layar tancap dan sound sistem dengan koleksi filmnya kurang lebih ada 200-an judul film baik film nasional, india maupun barat.
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Bisnis ini sudah dijalani sejak tahun 2000an. Dengan bermodalkan Rp 9 juta, ia memberanikan diri membeli proyektor milik bosnya dan mulai buka usaha sendiri di Bekasi. Kini supardi dikenal diantara pengusaha layar tancap karena memiliki koleksi film yang banyak.
 
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Meski diakuinya bisnis layar tancap ini akan tetap eksis, yang menjadi kekhawatiran adalah dengan ketersedian suku cadang proyektor yang mulai sulit didapatkan dan yang harus import dari China.
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Usahanya itu dalam sebulan terakhir hanya mendapatkan order pemutaran film layar tancap sebanyak 6 kali pemutaran. Sedangkan untuk penyewaan filmnya dibanderol mulai Rp 20 ribu perjudul film.
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Sejarah mencatat Pada 5 Desember 1900, Belanda mendirikan bioskop pertama di Tanah Abang. Film yang diputar masih bisu dan hitam putih. Bioskop kala itu dipandang terlalu elit. Bioskop saat itu dibagi per kelas. Pribumi menonton harus paling belakang tidak diizinkan di depan layar.
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Jepang masuk pada 1942, mereka mencoba menghapus itu karena menonton di bioskop bukanlah budaya asli Indonesia, tak seperti kumpul-kumpul dan gotong-royong. Jepang pun menggagas bioskop keliling. Dengan cara itu dianggap lebih masif karena menjangkau lebih banyak masyarakat sehingga efektif untuk propaganda.
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Medianya tetap lewat film. Jepang menyelenggarakan bioskop keliling di lima daerah di Pulau Jawa: Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Malang dan Surabaya. Pemutaran film keliling ini lebih banyak dikhususkan untuk penonton tertentu, seperti romusha, pegawai pabrik, atau anak sekolah. Bioskop keliling itulah yang kemudian dikenal sebagai layar tancap.
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Kalau pada masa Jepang jadi propaganda, saat Indonesia sudah merdeka layar tancap digunakan sebagai penarik agar masyarakat datang saat pejabat seperti Bung Hatta pidato. Baru sekitar 1950-an, layar tancap dianggap sebagai hiburan.
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Pendiri Persatuan Layar Tancap Indonesia (PLTI) Muhamad Salam atau biasa dipanggil Ibhet Saif Khan mengatakan Tahun 1980-an sampai 1990-an adalah masa-masa jaya layar tancap. Saat itu teknologi alat pemutaran film semakin berkembang, alat-alat di bioskop pada masa itu seperti proyektor, semakin cepat dianggap usang. Rol-rol film pun banyak yang tak terpakai setelah masanya lewat. Alat-alat itu kemudian dijual dengan harga murah ke pengusaha kecil yang menjadikan layar tancap sebagai lahan bisnis.
Layar tancap merupakan hiburan masyarakat kelas bawah yang masih eksis keberadaanya hingga kini. Beginilah potretnya kini.
Kini di Era Milenial tak banyak lagi masyarakat yang menonton layar tancap. Meski demikian Banyak orang yang masih mencari jasa layar tancep karena ingin bernostalgia. Layar tancep menjadi obat penawar rindu masa lalu. Banyak orang berpikir saat ini layar tancep sudah punah, ternyata masih eksis seakan menolak punah meski kini semakin banyak bioskop modern dan platfom (aplikasi) film digital maupun online streaming yang bermunculan yang menjadi pilihan masyarakat saat ini untuk melihat film.  
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman
Tak Lekang Layar Terkembang Digilas Zaman