Foto

Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati

Ari Saputra - detikNews
Minggu, 03 Okt 2021 09:00 WIB

Jakarta - Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Beberapa waktu lalu tak jauh dari Lapangan Udara Pondok Cabe, Ahmad Hilmy (22) membuka kedai kopi 'Mata Hati Koffie'.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Penyandang tuna netra sejak 12 tahun itu menjadi barista, meracik sajian kopi, melayani pembeli dine in maupun online.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Ahmad Hilmy dibantu oleh rekan sejawat yang juga tuna netra. Status kebutaan bervariasi dari buta sebagian hingga nyaris buta total.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Uniknya, hasil racikan para barista itu sangat terkontrol dengan cita rasa relatif sama.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Salah satu alasannya karena Ia mempunyai kebiasaan menghafal aroma, tekstur, takaran dan waktu sehingga hasil racikan kopi lebih disiplin dan terjaga.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Seiring dengan itu, di era ekonomi kreatif yang makin meledak, menawarkan era baru bagi para penyandang difabel. Seperti yang terlihat di terowongan Kendal, ada ruang 'Difabis Coffee & Tea'.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Penyandang difabel tuna wicara dan tuna rungu diberi ruang 'Difabis Coffee & Tea' di terowongan Kendal, Jakarta Pusat.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Mereka tidak canggung walau keterbatasan yang mereka miliki, kios ini terbukti masih beratahan.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Dukungan masyarakat dan pemerintah terbukti  mendukung semangat para penyandang difabel untuk bisa hidup biasa-biasa saja, tidak minder dan jauh dari bullying.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Mereka bebas berkreasi apa saja, membuat apapun yang mereka bisa tanpa harus terbentur tembok sosial layaknya pekerjaan di sektor formal.  Terdapat lapak pedagang yang didesain untuk difabel berjualan, di antara ramainya kaum urban seliweran di kawasan itu.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Di kawasan Bintaro juga terdapat sebuah cafe yang memperkerjakan 5 penyandang tuna rungu mereka dibantu Erin (18), satu dari 4 barista yang bukan penyandang difabel.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Di kedai kopi Serona Coffee Bintaro, di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Viena bersama Roy (20) yang juga penyandang tuna rungu piawai meracik sajian layaknya barista pada umumnya.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Tak canggung meski mereka penyandang tuna rungu. Deretan racikan kopi mereka tunjukkan ke calon pembeli dengan bahasa isyarat dan bantuan kertas petunjuk.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Viena, Roy dan teman-temannya merupakan contoh kecil bagaimana kaum difabel bisa bekerja pada umumnya orang kebanyakan.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Akses dan kesempatan ekonomi yang membuat mereka berdaya dan tidak menyerah pada garis hidup.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Sajian kopi hasil racikan mereka tidak kalah nikmat.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Keberhasilan para difabel ke luar dari 'jebakan nasib' tersebut dipengaruhi beberapa faktor. Faktor pertama dari individu penyandang difabel, kedua mempunyai lingkungan yang mendukung untuk bertahan, ketiga merupakan faktor eksternal yang mendukung keberhasilan difabel dalam pemberdayaan ekonomi.

Keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat dalam berusaha hanya dengan berbicara dengan mata hati mereka mampu mandiri.

Suasana kedai kopi Serona terlihat nyaman. Viena, Roy, Hilmy dan para penyandang difabel bisa dikatakan cerminan dari diri kita. Bahwa menyerah pada masa sulit maupun menyalahkan takdir adalah pilihan yang buruk.

Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati
Ketika Mereka Berbicara dengan Mata Hati