Foto

Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra - detikNews
Jumat, 16 Jul 2021 12:30 WIB

Jakarta - Sang Penjaga Utara, itulah julukan Pulau Sabira karena letaknya di utara DKI Jakarta. Sempat luput dari perhatian pemerintah, perlahan pulau ini bangkit kembali

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.  

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Berada sekitar 160 kilometer dari wilayah ibukota di daratan Jawa dan menyendiri di sisi paling utara Kepulauan Seribu membuat Pulau Sabira sempat luput dari perhatian pemerintah.  

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Sejumlah masalah ketertinggalan Sabira dibandingkan wilayah DKI Jakarta lainnya sempat menenggelamkan beragam potensi pulau seluas 8,8 hektare yang berpenduduk 577 jiwa (data terakhir 20 Juni 2021) itu. Untuk memangkas ketimpangan yang ada, pemerintah kabupaten setempat mengupayakan sejumlah pembangunan fasilitas dan peningkatan pelayanan umum.    

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Sejak 1970-an atau masa awal dihuni penduduk pindahan dari Pulau Genteng, Sabira yang kaya akan hasil perikanan laut itu terasa sangat jauh untuk dijangkau. Pengunjung dari daratan Jakarta di Jawa membutuhkan waktu delapan jam perjalanan untuk mencapai pulau dengan mayoritas warga bersuku Bugis itu.  

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Namun, durasi itu dapat dipangkas menjadi tiga jam perjalanan setelah pemerintah mengoperasikan kapal cepat Chabing Nusantara pada 2019. Tak hanya penumpang, pengiriman logistik hingga keperluan-keperluan lainnya menjadi lebih mudah dilakukan masyarakat Sabira setelah layanan transportasi itu hadir sehingga meningkatkan taraf perekonomian mereka.  

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Selain itu, aliran listrik dari mesin genset yang mengalir tidak lebih dari 14 jam sehari juga sempat menghambat kehidupan masyarakat Sabira. Akan tetapi, aliran listrik 24 jam akhirnya dapat dinikmati setelah pada 2017 pemerintah menambah mesin genset dengan kapasitas 125 Kva.   

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Bahkan, kini listrik 24 jam di Sabira tidak hanya tergantung pada mesin genset berbahan bakar minyak. Pada 2019 Perusahaan Listrik Negara Induk Distribusi (PLN UID) Jakarta Raya mengoperasikan panel-panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang lebih ramah lingkungan.  

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Permasalahan tidak hanya pada akses dan listrik. Ketersediaan air bersih layak minum juga pernah menjadi permasalahan di sana. Bahkan, kualitas air yang terus menurun sejak 1990-an menyebabkan berbagai permasalahan kesehatan bagi sebagian warga Sabira, dari gangguan ginjal hingga prostat.  

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Untuk mengatasi permasalahan itu, sejak 2019 pemerintah membangun sistem Backrish Water Reverse Osmosis (BWRO) untuk penyediaan air bersih layak minum bagi masyarakat Sabira.   

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Yang terbaru, sejak Maret 2021 pemerintah juga telah mengoperasikan Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD) untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menjaga kualitas air permukaan dan air tanah di Sabira.  

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Meski menjadi bagian dari ibu kota negeri ini, Sabira pun pernah menjadi wilayah yang terasing dari informasi luar pulau karena minimnya infrastruktur telekomunikasi. Bahkan, masyarakat setempat harus memanjat pohon hingga memasang antena setinggi belasan meter untuk meraih sinyal koneksi telepon seluler.  

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Kondisi itu berakhir pada 2018 setelah dua perusahaan telekomunikasi nasional memasang pemancar sinyal pada mercusuar peninggalan kolonial Belanda yang didirikan pada 1869.   

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Sektor ekonomi, hiburan hingga pendidikan pun semakin menggeliat setelah layanan internet cepat 4G dapat dinikmati warga Sabira, terlebih saat pandemi di mana pembelajaran sekolah diwajibkan secara daring.  

Nochtwachter atau Sang Penjaga Utara. Begitulah julukan yang pernah tersematkan pada Pulau Sabira sejak zaman kolonial Belanda karena letaknya di paling utara wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Fase gelap penuh ketertinggalan kini sudah menjadi masa lalu. Kini, masa depan cerah terus ditatap dengan rasa optimis oleh para warga Sabira tanpa lagi merasa sebagai anak tiri dari ibu kota.  

Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota
Pelita Sang Penjaga Utara Ibu Kota