Foto

Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra - detikNews
Sabtu, 15 Mei 2021 09:00 WIB

Flores Timur - Lamahala Jaya merupakan satu dari 21 desa yang berada di kecamatan Adonara Timur. Desa ini memiliki penduduk seratus persen Muslim.

Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

Berada di sisi selatan Pulau Adonara, Lamahala merupakan satu dari sedikit desa di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki penduduk seratus persen Muslim.  

Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

Denyut Islam masih kuat terjaga dalam kehidupan sekitar 7.000 penduduk Lamahala yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.  

Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

Berbagai kegiatan dari ibadah rutin harian, pendidikan keagamaan untuk anak, hingga adat istiadat bernafaskan Islam menjadi warna keseharian desa yang berada di kabupaten dengan mayoritas penduduk beragama Katolik. Kini tak kurang dari 14 surau dan satu masjid besar bernama Jami Al Maruf telah berdiri dan terus menyiarkan Islam di Lamahala.    

Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

Kuatnya nafas Islam di Lamahala tak lepas dari latar belakang sejarahnya sebagai salah satu kerajaan Islam yang disegani bangsa kolonial, Portugis dan Belanda.

Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

Di antara kerajaan-kerajaan yang berdiri di Flores Timur, Lamahala menjadi salah satu kerajaan yang tidak mau tunduk kepada pemerintah kolonial, baik kepada Portugis maupun Belanda. Sejumlah peperangan pun ditempuh rakyat Lamahala dalam mempertahankan negaranya.  

Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

Ada dua panglima Kerajaan Lamahala yang tercatat sebagai pahlawan bangsa karena kegigihannya memimpin rakyat melawan penjajah, antara lain Kapitan Lingga saat masa kolonial Portugis dan Kapitan Belae pada masa kolonial Belanda. Bahkan, saking sulitnya kaum penjajah menaklukkan Lamahala, Belanda pun mengambil langkah tipu muslihat. Salah satu pahlawan Lamahala, Kapitan Belae pun jadi korban. Setelah awalnya diajak berunding, ternyata pada akhirnya ditangkap dan diasingkan Belanda ke Jawa hingga wafat serta dimakamkan di sana.    

Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

Lamahala sendiri berkembang menjadi kerajaan Islam di Pulau Adonara sejak akhir abad ke-14 atau bersamaan dengan masuknya Islam dari Demak dan Bugis ke Flores serta pulau-pulau lain di sekitarnya, termasuk Adonara.    

Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

Selain Lamahala, di Pulau Adonara juga terdapat dua kerajaan Islam lainnya, antara lain Kerajaan Trong di sisi barat pulau dan Kerajaan Adonara di sisi utara pulau. Lamahala sendiri menguasai sisi selatan Pulau Adonara hingga Pulau Leur di dekat Pulau Lembata.

Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

Sejak berdirinya hingga medio 1940-an, Raja Lamahala tidak sekadar sebagai lembaga adat setempat, tetapi juga sebagai pemimpin negara yang mengatur segala sendi kehidupan masyarakatnya.  

Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala

Sistem kerajaan berakhir saat pemerintahan Raja Isma’il Adi pada medio 1942-1962. “Dengan adanya pengakuan Lamahala sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), selanjutnya kekuasaan raja hanya sebagai pemimpin adat dan untuk hukum perundang-undangan kami tunduk pada aturan yang berlaku di Indonesia,” kata raja ke-19 sang pemimpin Kerajaan Lamahala saat ini, Raja Haji Adnan Sangaji.  

Raja ke-19 Kerajaan Lamahala, Raja Haji Adnan Sangaji membawa tongkat berbentuk Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Tongkat berukir kepala Bung Karno itu merupakan warisan raja terdahulu sebagai bukti pengakuan Kerajaan Lamahala sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) usai kemerdekaan.

Masa kejayaan telah berlalu, generasi terkini Lamahala pun dihadapkan dalam pelestarian tradisi di tengah modernisasi. Sejumlah peninggalan nenek moyang Kerajaan Lamahala pun masih terawat hingga kini. Istana Raja Lamahala, bangunan pertama Lamahala Rumah Adat Lawaha, dan sejumlah pusaka menjadi warisan nenek moyang yang dirawat bersama oleh masyarakat Lamahala.  

Raja ke-19 Kerajaan Lamahala, Raja Haji Adnan Sangaji membawa tongkat berbentuk Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Tongkat berukir kepala Bung Karno itu merupakan warisan raja terdahulu sebagai bukti pengakuan Kerajaan Lamahala sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) usai kemerdekaan.

Raja ke-19 Kerajaan Lamahala, Raja Haji Adnan Sangaji membawa tongkat berbentuk Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Tongkat berukir kepala Bung Karno itu merupakan warisan raja terdahulu sebagai bukti pengakuan Kerajaan Lamahala sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) usai kemerdekaan.    

Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala
Melacak Jejak Kejayaan Kerajaan Islam Lamahala