Foto

Diminta Disita Pebisnis Singapura, Museum Soeharto di Ujung Tanduk

Rengga Sancaya - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 13:20 WIB

Jakarta - Perusahaan Singapura, Mitora Pte Ktd, gugat 5 anak Presiden Soeharto Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII juga diminta disita.

Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII juga diminta untuk disita.
Museum Purna Bhakti Pertiwi diminta disita setelah perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel.
Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII juga diminta untuk disita.
Berdasarkan website resmi TMII yang dikutip detikcom, Rabu (7/4/2021), museum itu dibangun dari gagasan Ibu Tien Soeharto dalam upaya mengungkap rasa syukur dan penghargaan yang tinggi atas peran serta dan dukungan masyarakat Indonesia dan mancanegara, serta keinginan beliau agar koleksi barang-barang keluarga Soeharto, termasuk cendera mata yang diperoleh dari para sahabat dan kenalannya selama masa pengabdiannya kepada nusa dan bangsa dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII juga diminta untuk disita.
Dibangun oleh Yayasan Purna Bhakti Pertiwi selama 5 tahun, yaitu dari 26 Desember 1987 sampai 26 Desember 1992 di atas area seluas 19,73 hektare. Kemudian diresmikan pembukaannya pada 23 Agustus 1993.
Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII juga diminta untuk disita.
Secara garis besar bangunan MPBP dapat dibagi menjadi 3 kelompok : Bangunan Utama, Bangunan Penunjang dan Tata ruang luar.
Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII juga diminta untuk disita.
Bangunan Utama seluas -+2,5 hektare ini, terdiri atas satu bangunan kerucut utama dan empat kerucut sedang, berfungsi sebagai ruang pameran. Bangunan penunjang terdiri atas gerbang penerima, kios cendera mata, kafetaria, kantor pengelola, musala, shelter, restoran, arena bermain untuk anak-anak dan sangkar burung merak putih berfungsi sebagai penunjang operasional MPBP. Sedang tata ruang luar yang berfungsi sebagai area rekreasi dan penghijauan ini terdiri atas berbagai area taman dan tanaman langka khas Indonesia.
Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII juga diminta untuk disita.
Bangunan Utama yang terdiri atas ruang perjuangan, Ruang utama, Ruang Khusus, Ruang Asthabratadan Perpustakaanini menyimpan koleksi benda-benda bukti sejarah perjuangan dan pengabdian Bapak Soeharto, serta perang kemerdekaan sampai masa pembangunan, benda-benda seni, koleksi keluarga, cendera mata dari teman dan sahabat, tanda-tanda kehormatan dari dalam dan luar negeri, dan yang tak kalah menarik menariknya adalah ajaran dasar-dasar kepemimpinan 'Asthabrata' yang divisualisasikan secara artistik dan sistematis dalam adegan wayang sesuai dengan urutan cerita Wahyu Makutha Rama, serta berbagai koleksi buku dari pelbagai disiplin ilmu.
Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII juga diminta untuk disita.
Kecuali benda-benda tersebut dan koleksi karya seni ukir kayu bertema Ramayana & Mahabarata, di halaman juga terdapat sebuah kapal perang KRI Harimau, bukti sejarah perjuangan pembebasan Irian Barat tahun 1962 dan pembangunan kubah berisi karya seni ukir kayu bertema Wahyu Makutha Rama (versi Bali), serta mobil bersejarah. Sebagai wahana pengumpul, pelestarian, dan penelitian, MPBP juga menghimpun, pelestarian berbagai jenis tanaman langka khas Indonesia, seperti jambu mawar, rambutan Irian, pohon laki-laki, dan duwet putih.
Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII juga diminta untuk disita.
Kini, nasib museum itu di ujung tanduk. Sebab, perusahaan Singapura, Mitora menggugat: 1. Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, 2. Ny Siti Hardianti Hastuti Rukmana, 3. Tn H Bambang Trihatmojo, 4. Ny Siti Hadiati Hariyadi, 5. Tn H Sigit Harjojudanto dan 6. Ibu Siti Hutami Endang Adiningsih.
Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII juga diminta untuk disita.
Salah satu petitum Mitora adalah menyatakan sah dan berharga Sita Jaminan yang diletakan pada Sebidang Tanah dan Bangunan beserta dengan isinya: Sebidang Tanah seluas +/- 20 Ha (lebih kurang dua puluh hektare) dan bangunan yang berdiri di atasnya beserta dengan seluruh isinya yang ada dan melekat serta menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan yakni Museum Purna Bhakti Pertiwi dan Puri Jati Ayu, yang beralamat di Jl. Taman Mini No. 1, Jakarta Timur.
Diminta Disita Pebisnis Singapura, Museum Soeharto di Ujung Tanduk
Diminta Disita Pebisnis Singapura, Museum Soeharto di Ujung Tanduk
Diminta Disita Pebisnis Singapura, Museum Soeharto di Ujung Tanduk
Diminta Disita Pebisnis Singapura, Museum Soeharto di Ujung Tanduk
Diminta Disita Pebisnis Singapura, Museum Soeharto di Ujung Tanduk
Diminta Disita Pebisnis Singapura, Museum Soeharto di Ujung Tanduk
Diminta Disita Pebisnis Singapura, Museum Soeharto di Ujung Tanduk
Diminta Disita Pebisnis Singapura, Museum Soeharto di Ujung Tanduk
Diminta Disita Pebisnis Singapura, Museum Soeharto di Ujung Tanduk