Foto

Potret Tradisi Cekok Jamu di Bantul

Rifkianto Nugroho - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 11:18 WIB

Bantul - Cekok jamu merupakan tradisi di masyarakat Jawa untuk mengatasi masalah anak susah makan. Di Bantul, Yogyakarta, tradisi cekok jamu masih dilakukan orang tua.

Cekok jamu merupakan tradisi di masyarakat Jawa untuk mengatasi masalah anak susah makan. Di Bantul, Yogyakarta, tradisi cekok jamu masih dilakukan orang tua.
Ada banyak cara untuk mengatasi masalah anak susah makan, salah satunya yaitu 'cekok' jamu. Cekok jamu merupakan tradisi yang sudah melekat di masyarakat Jawa, dan jadi andalan warga Yogyakarta bahkan di era modern seperti saat ini, karena terbuat dari bahan-bahan alami.
Cekok jamu merupakan tradisi di masyarakat Jawa untuk mengatasi masalah anak susah makan. Di Bantul, Yogyakarta, tradisi cekok jamu masih dilakukan orang tua.
Dalam bahasa Indonesia, 'cekok' berarti mengucurkan jamu langsung ke dalam mulut. Penjual jamu asal Kiringan, Bantul, Murjiwati menjelaskan tradisi cekok jamu untuk anak dan balita sudah diwariskan turun-temurun sejak zaman dahulu, sekitar tahun 1970.
Cekok jamu merupakan tradisi di masyarakat Jawa untuk mengatasi masalah anak susah makan. Di Bantul, Yogyakarta, tradisi cekok jamu masih dilakukan orang tua.
Selama dicekok, anak biasanya akan dipegangi oleh orang tua agar tidak berontak. Sementara mbok penjual jamu sudah bersiap untuk menjejalkan ramuan jamu yang sudah diracik dan dibungkus kain ke dalam mulut anak.
Cekok jamu merupakan tradisi di masyarakat Jawa untuk mengatasi masalah anak susah makan. Di Bantul, Yogyakarta, tradisi cekok jamu masih dilakukan orang tua.
Meski sering membuat anak menangis, tapi para orang tua nampak tidak kapok dan tetap menjadikan cekok jamu sebagai alternatif saat anaknya susah makan. Sebab, tradisi ini diyakini ampuh mengembalikan dan menambah nafsu makan anak.
Cekok jamu merupakan tradisi di masyarakat Jawa untuk mengatasi masalah anak susah makan. Di Bantul, Yogyakarta, tradisi cekok jamu masih dilakukan orang tua.
Tidak hanya itu saja, cekok jamu juga bisa meningkatkan sistem kekebalan sehingga anak lebih kuat dan tidak mudah terserang penyakit. Meski dipercaya ampuh tingkatkan nafsu makan, Murjiwati tidak menganjurkan orang tua mencekoki anak setiap hari. Menurutnya, cekok jamu cukup dilakukan dua kali dalam seminggu dan diberikan pada anak berusia di atas 6 bulan yang sudah dikenalkan dengan MPASI. Hal ini mempertimbangkan kesiapan sistem pencernaan anak untuk menerima makanan dan minuman di luar ASI.
Cekok jamu merupakan tradisi di masyarakat Jawa untuk mengatasi masalah anak susah makan. Di Bantul, Yogyakarta, tradisi cekok jamu masih dilakukan orang tua.
Lebih lanjut, Murjiwati menjelaskan rempah-rempah yang terkandung dalam ramuan tradisional untuk cekok jamu. Adapun rempah tersebut terdiri dari temu ireng, temulawak, kunyit, daun pepaya, dan brambang puyang atau cabai dan puyang (lempuyang). detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.
Potret Tradisi Cekok Jamu di Bantul
Potret Tradisi Cekok Jamu di Bantul
Potret Tradisi Cekok Jamu di Bantul
Potret Tradisi Cekok Jamu di Bantul
Potret Tradisi Cekok Jamu di Bantul
Potret Tradisi Cekok Jamu di Bantul