Foto

Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil

ANTARA Foto/Harviyan Perdana Putra - detikNews
Jumat, 19 Jun 2020 20:15 WIB

Batang - Pandemi COVID-19 juga berimbas ke dunia pendidikan Indonesia. Siswa dan Guru pun harus rela jemput bola ke rumah anak didiknya sekalipun di desa terpencil.

Kepala Sekolah SMP N 4 Bawang Mulud Sugito (tengah) dan guru Wiyata Bhakti bersiap melewati aliran sungai di dasar bukit saat mengantar lembar tugas siswa secara langsung ke rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Selain ke perekonomian, dampak pandemi COVID-19 juga terasa ke dunia pendidikan. Sejak adanya pandemi ini, kebijakan-kebijakan baru pun mulai diterapkan di dunia pendidikan. Seperti belajar di rumah salah satunya. Para guru pun harus rela menjemput bola demi tercapainya pemerataan pendidikan di desa terpencil.

Kepala Sekolah SMP N 4 Bawang Mulud Sugito (tengah) dan guru Wiyata Bhakti bersiap melewati aliran sungai di dasar bukit saat mengantar lembar tugas siswa secara langsung ke rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Penerapan kebijakan belajar melalui sistem daring mungkin tak menjadi masalah di area perkotaan karena dukungan infrastruktur telekomunikasinya seperti koneksi internet yang baik. Akan tetapi beda halnya dengan nasib para pelajar dan guru di pedesaan yang jauh dari akses dan kemudahan internet.

Kepala Sekolah SMP N 4 Bawang Mulud Sugito (tengah) dan guru Wiyata Bhakti bersiap melewati aliran sungai di dasar bukit saat mengantar lembar tugas siswa secara langsung ke rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Ya, itulah yang dialami sejumlah siswa SMP Negeri 4 Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah karena tidak semua siswa dapat menikmati akses internet. Keterbatasan piranti seperti telepon genggam, atau bahkan jaringan internet yang semulus perkotaan menjadi kendala.

Kepala Sekolah SMP N 4 Bawang Mulud Sugito (tengah) dan guru Wiyata Bhakti bersiap melewati aliran sungai di dasar bukit saat mengantar lembar tugas siswa secara langsung ke rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat juang untuk memajukan dunia pendidikan. Seperti yang dilakukan Mulud Sugito, Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Bawang. Sekolah yang terletak di Dusun Sigemplong, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang ini terletak di wilayah paling selatan Kabupaten Batang yang bersebelahan dengan kawasan wisata Dieng.  

Kepala Sekolah SMP N 4 Bawang Mulud Sugito (tengah) dan guru Wiyata Bhakti bersiap melewati aliran sungai di dasar bukit saat mengantar lembar tugas siswa secara langsung ke rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Namun apa daya, tidak semua tenaga pendidik menguasai sistem daring ini. Siswa pun juga ada yang tidak memiliki telepon genggam atau pun jaringan internet lancar. Akhirnya Sugito bersama 11 guru Wiyata Bhakti lainnya sepakat untuk melakukan 'jemput bola' dengan mengantar tugas sekolah secara langsung ke rumah siswa.

Kepala Sekolah SMP N 4 Bawang Mulud Sugito (tengah) dan guru Wiyata Bhakti bersiap melewati aliran sungai di dasar bukit saat mengantar lembar tugas siswa secara langsung ke rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Beginilah salah satu medan yang terekam oleh kamera pewarta foto dari Antara ini. Terjal dan berliku, ditempuh demi memenuhi kebutuhan pemerataan pendidikan bagi anak-anak di desa terpencil.

Kepala Sekolah SMP N 4 Bawang Mulud Sugito (tengah) dan guru Wiyata Bhakti bersiap melewati aliran sungai di dasar bukit saat mengantar lembar tugas siswa secara langsung ke rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Setiap Senin pagi, kepala sekolah dan guru membagi tugas untuk mengantar tugas sekolah ke rumah siswa. Total keseluruhan siswa kelas VII sampai IX mencapai 43. Namun untuk saat ini, yang masih aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) hanya kelas VII dan VIII yang berjumlah 35 siswa.

Kepala Sekolah SMP N 4 Bawang Mulud Sugito (tengah) dan guru Wiyata Bhakti bersiap melewati aliran sungai di dasar bukit saat mengantar lembar tugas siswa secara langsung ke rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Guru harus menyusun program belajar dan tugas yang bisa digunakan siswa saat belajar di rumah selama satu minggu. Kemudian pada hari Sabtu, guru mengambil kembali hasil pengerjaan siswa untuk dikoreksi.  

Kepala Sekolah SMP N 4 Bawang Mulud Sugito (tengah) dan guru Wiyata Bhakti bersiap melewati aliran sungai di dasar bukit saat mengantar lembar tugas siswa secara langsung ke rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberlakukan kebijakan belajar di rumah bagi pelajar hingga setingkat mahasiswa. Pembelajaran yang dikenal dengan sistem daring (online) mulai digeluti bagi semua siswa. Tapi bagi siswa di desa terpencil hal itu tak berlaku. Ini salah satunya. 

Kepala Sekolah SMP N 4 Bawang Mulud Sugito (tengah) dan guru Wiyata Bhakti bersiap melewati aliran sungai di dasar bukit saat mengantar lembar tugas siswa secara langsung ke rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Meskipun demikian, para siswa ini tetap semangat untuk meraih cita-cita mereka dengan belajar yang tekun dan gigih.

Siswa SMP N 4 Bawang, Dani Difanudin, mengerjakan tugas sekolah di rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Mereka rela berjalan kaki dengan turun naik bukit sejauh sekitar satu kilometer hingga melewati aliran sungai di dasar bukit. Selain berjalan kaki, ada pula beberapa alternatif jalan lainnya. Namun jarak tempuh perjalanan harus dilalui berputar sejauh lebih kurang 20 kilometer. Para guru memilih untuk melalui jalan tercepat meski harus turun naik bukit guna mengantar materi pembelajaran ke rumah siswa.

Siswa SMP N 4 Bawang, Dani Difanudin, mengerjakan tugas sekolah di rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Semangat belajar dan kegigihan siswa di desa terpencil dalam menempuh pendidikan itu tidaklah mudah. Untuk itu, semangat yang tinggi perlu dihargai.

Siswa SMP N 4 Bawang, Dani Difanudin, mengerjakan tugas sekolah di rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Mereka dengan penuh semangat dan antusias menerima pelajaran dan tugas dari guru-guru mereka saat belajar di tengah pandemi ini. 

Siswa SMP N 4 Bawang, Dani Difanudin, mengerjakan tugas sekolah di rumahnya di Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

"Dari situasi pandemi ini, kami mengambil hikmah bahwa perjuangan anak didik kami dalam memperoleh pendidikan tidaklah mudah. Kami harus berjuang demi mereka agar dapat selalu belajar. Semoga pandemi COVID-19 ini segera sirna," ujar Mulud Sugito.

Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil
Begini Potret Dunia Pendidikan di Desa Terpencil