Foto

Corona Bikin Derita Anak-anak di Negara Konflik Bertambah

Dok. UNICEF - detikNews
Kamis, 28 Mei 2020 18:32 WIB

Jakarta - Pandemi Corona membawa ancaman baru bagi anak-anak yang hidup di negara konflik. Akibatnya, derita anak-anak semakin bertambah.

Pandemi Corona membawa ancaman baru bagi anak-anak yang hidup di negara konflik. Akibatnya, derita anak-anak semakin bertambah.

Konflik dan gejolak selama 40 tahun berdampak buruk di Afghanistan. Sekitar 3,7 juta anak-anak putus sekolah. 600 ribu lainnya terdampak malnutrisi akut dan ribuan lainnya terbunuh oleh konflik bersenjata selama dekade terakhir. Kini, pandemi Corona yang merebak membuat situasi semakin mengerikan dan menjadi jauh lebih buruj bagi anak-anak di Afhanistan.

Pandemi Corona membawa ancaman baru bagi anak-anak yang hidup di negara konflik. Akibatnya, derita anak-anak semakin bertambah.

Konflik menahun juga terjadi di Sudan Selatan. Sekitar 1,4 juta anak membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk di dalamnya sekitar 1,3 juta anak di bawah usia 5 tahun menderita kekurangan gizi. Bahkan, ketika COVID-19 merebak, sangat penting untuk menjaga layanan dasar tentang pencegahan Corona.

Pandemi Corona membawa ancaman baru bagi anak-anak yang hidup di negara konflik. Akibatnya, derita anak-anak semakin bertambah.

Konflik di Ukraina Timur telah memasuki tahun ketujuh. Ditambah dengan penyebaran massal COVID-19 semakin membuat anak-anak terancam. Untuk membantu anak-anak di seluruh Ukraina, kementerian pendidikan bersama UNICEF mendukung akses belajar jarak jauh selama karantina.

Pandemi Corona membawa ancaman baru bagi anak-anak yang hidup di negara konflik. Akibatnya, derita anak-anak semakin bertambah.

Anak-anak di Venezuela secara tidak proporsional terpaksa harus menerima tantangan ekonomi dan politik yang sedang berlangsung. Imbasnya, terjadi kekurangan pangan hingga gangguan pelayanan dasar. Pandemi menambah situasi kemanusiaan yang sedang panas menjadi semakin berbahaya di negara itu.

Pandemi Corona membawa ancaman baru bagi anak-anak yang hidup di negara konflik. Akibatnya, derita anak-anak semakin bertambah.

Suriah kini telah memasuki tahun ke-10 konflik di negara tersebut. Anak-anak kini bersiap memasuki dekade kedua kehidupan yang dikelilingi perang, kekerasan, kematian serta pengungsian. Dan mereka harus siap bergulat dengan ancaman baru yakni pandemi Corona. Lockdown yang diterapkan membuat bisnis di Timur Tengah dan Afrika Utara hilang. Hal ini langsung berdampak bagi 4 juta anak yang siap masuk ke jurang kemiskinan.

Pandemi Corona membawa ancaman baru bagi anak-anak yang hidup di negara konflik. Akibatnya, derita anak-anak semakin bertambah.

lebih dari 850 ribu pengungsi Rohingya dari Myanmar yang kini tinggal di kamp pengungsian Cox's Bazar, Bangladesh, juga terancam pandemi Corona. Termasuk anak-anak di dalamnya.

Pandemi Corona membawa ancaman baru bagi anak-anak yang hidup di negara konflik. Akibatnya, derita anak-anak semakin bertambah.

12 juta anak-anak membutuhkan bantuan kemanusiaan di Yaman. Sistem kesehatan disana kini terancam hancur. Sementara banyak keluarga yang membutuhkan layanan kesehatan untuk bertahan hidup. Negara ini pun sedang dilanda krisis pangan, ekonomi dan masyarakat yang rentan terhadap penyakit seperti demam berdarah, diare akut hingga kolera. Pandemi Corona semakin membuat situasi memburuk.

Corona Bikin Derita Anak-anak di Negara Konflik Bertambah
Corona Bikin Derita Anak-anak di Negara Konflik Bertambah
Corona Bikin Derita Anak-anak di Negara Konflik Bertambah
Corona Bikin Derita Anak-anak di Negara Konflik Bertambah
Corona Bikin Derita Anak-anak di Negara Konflik Bertambah
Corona Bikin Derita Anak-anak di Negara Konflik Bertambah
Corona Bikin Derita Anak-anak di Negara Konflik Bertambah