Foto

Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern

Getty Images - detikNews
Senin, 18 Mei 2020 21:59 WIB

Jakarta - Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Shirin Ebadi lahir pada 21 Juni 1947 di Hamedan, Iran, sebuah provinsi yang terletak 180 mil dari Teheran. Ia terlahir dari keluarga menengah dan terdidik yang menganut pola pemikiran cukup modern pada masanya. Ayah Ebadi, Mohammad Ali Khan, merupakan seorang pengacara yang bekerja di beberapa posisi penting pemerintahan selama hidupnya. Rad Eslami/Gamma-Rapho via Getty Images.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Di Iran Ebadi beruntung memiliki seorang ayah yang memperlakukan putrinya dengan cara yang sama seperti ia memperlakukan putranya. Padahal biasanya sejak usia dini, seorang anak laki-laki lebih diistimewakan oleh orang tuanya dibanding saudara perempuannya. Anak perempuan belajar untuk tidak mempertanyakan fakta bahwa anak laki-laki “lebih istimewa". Thomas Trutschel/Photothek via Getty Images.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Ebadi tumbuh dalam rumah tangga yang demokratis. Ayahnya selalu memperjuangkan kemerdekaan anak-anaknya, ia selalu mendukung keputusan anaknya sejak dari taman kanak-kanak hingga dewasa. Meskipun demikian, keluarga Ebadi tetap menjalankan lima rukun Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Eduardo Parra/WireImage.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Dalam bidang pendidikan, Ebadi beruntung tumbuh pada saat keterbukaan dan akses terhadap pendidikan masih mudah untuk perempuan. Mohammad Reza Pahlavi, penguasa Iran saat itu, memang memimpikan Iran menjadi negara modern layaknya negara-negara Barat. Untuk itu, ia memberi porsi lebih terhadap perempuan untuk bisa tampil di ruang publik. Behrouz Mehri/AFP via Getty Images.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Tumbuh di keluarga akademisi merupakan keberuntungan tersendiri untuk Ebadi, karena kebanyakan perempuan di Iran pada masa itu lebih sering dirumahkan setelah dewasa, namun orang tua Ebadi begitu memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ebadi disekolahkan di dua sekolah menengah, sekolah Anoshiravn Dadgar dan Reza Shah Kabir, tempat ia lulus pada tahun 1965. Victor Boyko/Getty Images.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Setelah lulus dari sekolah menengah, Ebadi masuk sekolah hukum di Universitas Tehran pada usia 18 tahun. Dari awal masuk kuliah, ia telah bercita-cita untuk menjadi hakim. Pada saat yang bersamaan, pengaruh westernisasi dan industrialisasi di Iran sedang mengalami peningkatan akibat kebijakan Revolusi Putih 1963 (Ahmad, 2004: 260). Gedung-gedung tinggi, pabrik-pabrik dibangun dimana-mana dan majalah Barat pun dapat dengan mudah ditemukan di pinggir jalan.  Micheline Pelletier/Corbis via Getty Images.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Di bangku kuliah, Ebadi menemukan hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah ia temukan. Mulai dari gaya berpakaian hingga pergaulan. Namun yang membuatnya paling tertarik adalah mengkaji isu-isu konflik dan ikut berdemonstrasi. Meskipun aksi-aksi mereka selalu diawasi oleh SAVAK polisi rahasia Iran. Andreas Rentz/Getty Images for 100 Lives.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Di saat kariernya cepat melejit, ternyata kehidupannya sebagai seorang perempuan intelektual menyebabkan banyak pria menjauhinya. Para pria yang terbiasa hidup dalam budaya patriarki itu takut apabila seorang perempuan memiliki pendidikan dan karier lebih tinggi dari mereka. Di sisi lain, Ebadi juga tidak mau jatuh ke dalam budaya patriarki yang mengharuskan penyerahan seorang wanita terhadap pria. Joel Saget/AFP via Getty Images.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Ebadi terkenal dengan pandangan Islamnya yang pasifis, pluralis, dan toleran. Ia mengatakan bahwa penafsirannya bersifat pasifis karena ia percaya bahwa Islam adalah agama damai dan nilai-nilai Islam sesuai dengan nilai-nilai universal hak asasi manusia. Carlos Alvarez/Getty Images.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Gagasannya tentang Islam adalah pluralis karena ia percaya bahwa Islam menghormati berbagai agama dan mengajarkan kesetaraan gender, keadilan sosial, dan kehidupan yang demokratis. Ebadi percaya bahwa Islam mengajarkan penghormatan terhadap kehidupan, kebebasan, keadilan, keadilan sosial, kesetaraan gender, dan martabat manusia. Pascal Le Segretain/Getty Images.

Shirin Ebadi adalah tokoh wanita berpengaruh dalam perkembang Islam di era modern. Ia merupakan wanita Muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Ebadi selalu menganggap bahwa agama tidak pernah mengikat wanita, namun interpretasi dari budaya patriarkilah yang selama ini membelenggu perempuan muslim. Tentu pandangan ini sangat bertentangan dengan rezim Khomeini yang ingin menerapkan hukum Islam absolut dalam kehidupan bernegara. Ebadi memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian pada 10 Oktober 2003, atas usahanya dalam memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia, terutama untuk hak perempuan dan anak-anak. Panitia acara itu memujinya sebagai seorang yang “pemberani yang tidak pernah mengindahkan ancaman atas keselamatannya sendiri. Odd Andersen/AFP via Getty Images

Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern
Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern
Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern
Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern
Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern
Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern
Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern
Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern
Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern
Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern
Sosok Shirin Ebadi, Sang Pejuang Perdamaian Islam di Era Modern