Foto

Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata

Istimewa/UNICEF - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 20:30 WIB

Jakarta - Sepanjang 2019, pembunuhan, penculikan, kekerasan seksual hingga rekrutmen kelompok bersenjata menghancurkan mimpi anak-anak korban perang di negara konflik.

Januari 2019, seorang pria terlihat menggendong balita di dekat desa Baghoz di distrik Hajin, Suriah. Kekerasan yang terjadi di Suriah Utara dan timur menewaskan sedikitnya 32 anak-anak pada bulan pertama tahun ini. Setelah lebih dari 8 tahun konflik, situasi di Suriah menjadi salah satu krisis paling parah. Dan anak-anak harus membayarnya dengan harga yang mahal. Istimewa/UNICEF/Souleiman.

Februari 2019, petugas kesehatan terlihat menghampiri seorang wanita dan balitanya di daerah karantina perawatan ebola di Provinsi Kivu Utara, Kongo. Ebola menjadi mimpi buruk bagi orang dewasa dan juga anak-anak. Para anak-anak kehilangan orang tua, pengasuh dan saudara-saudara mereka. Serangan hebat yang terjadi di pusat perawatan ebola itu semakin memperumit upaya untuk melawan penyakit tersebut. Istimewa/UNICEF/Tremeau.

Seorang wanita berjalan dengan putrinya saat melintas di desa Ogossagou-Peulh di Mali setelah serangan pada bulan Maret 2019 lalu. Krisis kemanusiaan di Mali terus memburuk sepanjang 2019. Serangan di desa tersebut merenggut lebih dari 150 orang. Istimewa/UNICEF/Keïta.

April 2019, sejumlah anak-anak tampak duduk di depan rumah yang rusak parah di kawasan Kota Tua San'a, Yaman. 14 anak-anak tewas dan 16 kritis dalam ledakan di San'a. Peristiwa tersebut terjadi di dekat dua sekolah saat makan siang, saat siswa berada di dalam kelas. Yaman merupakan negara dengan krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Konflik membuat keterbelakangan dan kemiskinan selama bertahun-tahun. Merampas hak anak-anak di Yaman dan kesempatan mereka untuk masa depan yang lebih baik. Istimewa/UNICEF/Romenzi.

Pada bulan Mei 2019, seorang gadis berdiri di depan pintu pada sebuah bangunan di Al-Hasakeh, Suriah. Di Irak, Suriah dan tempat lain, ribuan anak-anak mendekam di kamp-kamp pengungsian. Anak-anak ini termasuk yang paling rentan di dunia karena hidup dalam kondisi mengerikan dan terus-menerus mendapat ancaman terhadap kesejahteraan mereka. Istimewa/UNICEF/Keder.

Seorang gadis meletakkan tangannya di pintu rumahnya di negara bagian Borno, Nigeria pada bulan Juni 2019 lalu. UNICEF mengutuk Nigeria yang menggunakan anak-anak sebagai tameng untuk bom dalam konflik. Laporan menyebutkan bahwa tiga anak digunakan sebagai bom manusia dan menewaskan 30 orang dan melukai puluhan lainnya di kawasan Kondogo, Borno. Sejak 2012, kelompok bersenjata di Nigeria merekrut dan menggunakan anak-anak sebagai tameng perang. Bahkan anak-anak diperkosa hingga melakukan pelanggaran berat. Beberapa gadis hamil dalam penahanan dan melahirkan tanpa bantuan medis. Istimewa/UNICEF/Kokic.

Sejumlah anak-anak terlihat di panti asuhan di Kandahar, Afghanistan. Pada bulan Juli 2019, 32 anak-anak dibebaskan dari kelompok oposisi bersenjata di Sudan Selatan. Meskipun begitu, beberapa anak diperkirakan masih digunakan oleh kelompok tersebut sebagai tameng perang. Bahkan, ketika anak-anak berhasil melarikan diri dari penculiknya atau dibebaskan, mereka masih harus berjuang mencari makanan dan tempat tinggal. Istimewa/UNICEF/Bouvet.

Sebuah keluarga menumpang truk di Suriah. Lusinan orang dilaporkan tewas selama bulan Agustus 2019 lalu di Suriah. Setelah lebih dari 8 tahun konflik, anak-anak terbunuh dan terluka oleh penggunaan senjata hingga peledak. Semua itu menghancurkan fasilitas kesehatan hingga pendidikan. Istimewa/UNICEF//Al Ahmad.

Dalam foto terlihat seorang pria berdiri di depan rumahnya bersama empat buah hati di Yaman pada September 2019 lalu. Sekitar 2 juta anak putus sekolah di Yaman. Setengahnya putus sekolah sejak konflik meningkat sejak bulan Maret 2015 lalu. Istimewa/UNICEF/Alahmadi.

Seorang gadis menatap keluar dari balik jendela besi saat beberapa keluarga pengungsi tiba di Tal Tamer, Suriah. Pada Oktober 2019 lalu, peningkatan kekerasan di Suriah terus merangkak naik. Insiden tersebut menewaskan 5 orang anak dan membuat puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Anak-anak disana mengalami trauma parah setelah menyaksikan penembakan, pertempuran dan ledakan. Istimewa/UNICEF/Souleiman.

November 2019, seorang bocah berdiri di depan kelas di sekolah dasar pemerintah yang didukung UNICEF di kawasan Douala, Kamerun. Kekerasan selama tiga tahun terakhir di Kamerun menyebabkan 855.000 anak putus sekolah. Krisis kemanusiaan di negara ini terus berkembang dari empat wilayah pada 2017 menjadi 8 wilayah pada 2019. Desa-desa, sekolah dan fasilitas kesehatan diserang, membuat ribuan anak-anak hidup dalam ketakutan. Istimewa/UNICEF/Bindra.

Pada pertengahan Desember 2019, seorang anak berdiri di dalam asrama di Kandahar, Afghanistan. UNICEF mengumumkan dalam peringatan bahwa rata-rata sembilan anak terbunuh atau cacat setiap harinya di Afghanistan dalam kurun waktu sembilan bulan pertama di tahun 2019. Istimewa/UNICEF/Bouvet.

Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata
Anak-anak di Tengah Kekerasan Konflik Bersenjata