Foto

Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara

Pradita Utama - detikNews
Rabu, 26 Jun 2019 15:20 WIB

Jakarta - Data yang didapat dari peta polusi udara online, AirVisual, menyatakan bahwa kualitas udara di ibu kota tak sehat. Hal ini tentunya bukan prestasi membanggakan.

Sejumlah kendaraan melintas di kawasan Jalan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (26/5/2019). Ini menjadi salah satu penyumbang polusi udara di Ibu Kota Jakarta.

Situs penyedia peta polusi udara online, AirVisual, menyatakan bahwa kualitas udara di Jakarta pagi ini tidak sehat. Berdasarkan data di situs maupun aplikasi AirVisual pada pukul 10.00 WIB, nilai air quality index (AQI) Jakarta, khususnya di Jakarta Utara, mencapai 200 dan masuk dalam kategori tidak sehat.

Jakarta ada di posisi kedua setelah Lahore, Pakistan. Kualitas udara di Jakarta dinyatakan 'unhealthy'. Pagi tadi, nilai AQI Jakarta juga sempat mencapai angka 216 atau masuk ke kategori 'very unhealthy'.

AQI adalah indeks yang dipakai AirVisual untuk mengukur tingkat keparahan polusi udara di sebuah kota. Indeks ini mempertimbangkan 6 polutan utama yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon di permukaan tanah. Enam polutan utama itu dikalkulasikan menjadi angka AQI. Rentang nilai AQI adalah 0-500. Semakin tinggi nilai AQI maka semakin tinggi tingkat polusi udara.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih menyebut residu hasil pembakaran bahan bakar minyak (BBM) kendaraan menjadi sumber utama pencemaran udara di Jakarta. Pasalnya ada sekitar 80 persen kendaraan yang menggunakan bensin berjenis solar mondar-mandir dari Jabodetabek ke Ibu Kota.

Andono menjelaskan pembakaran BBM jenis premium dan solar justru menghasilkan residu dengan kandungan sulfur atau belerang yang tinggi. Buruknya kualitas udara di Jakarta pun membuat warga harus menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Polusi udara yang terus menerus dihirup oleh manusia tentunya akan berakibat pada kondisi tubuh. Oleh karena itu, penggunaan masker jadi salah satu upaya untuk mengantisipasi dan meminimalisir munculnya infeksi maupun gangguan pernapasan akibat polusi udara.

Dalam pantauan Air Visual, Jakarta menempati kota dengan tingkat polusi tinggi di dunia pada Rabu (26/6/2019) pagi. Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia menyampaikan bahwa umumnya tingkat polusi Jakarta memang meningkat di pagi hari.

Bondan menjelaskan faktornya memang bisa beragam, mulai dari sejumlah PLTU Batu Bara di sekitar Jakarta, hingga kendaraan. Namun, ia tak dapat memastikan faktor-faktornya secara detail.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) punya standar untuk menyebut udara sehat. Udara yang dikategorikan sehat memiliki partikel debu halus atau Particulate Matter (PM) 2,5 sebesar 25 µg/m³. Problem polusi udara ini pun jadi salah satu perhatian utama para pegiat lingkungan untuk dapat membuat kualitas udara di Jakarta dapat menjadi lebih baik dan sehat, salah satunya dengan meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi saat beraktivitas sehari-hari.

Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara
Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara
Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara
Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara
Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara
Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara
Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara
Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara
Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara
Potret Muram Ibu Kota, Warga Digempur dengan Polusi Udara