Foto

Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta

Dikhy Sasra - detikNews
Rabu, 06 Feb 2019 15:24 WIB

Jakarta - Tahun baru Imlek 2019 diselengarakan dengan meriah di Nusantara, berikut potret pembauran masyarakat Tionghoa di Jakarta dan sekitarnya.

Masjid Hidayatullah di Jakarta Pusat, didirikan pada tahun 1747 dengan sentuhan kebudayaan Tionghoa. Masjid ini didirikan oleh Muhammad Yusuf yang berdarah Tionghoa. Masjid ini dulunya sering digunakan sebagai tempat para pejuang berkumpul dan mengatur strategi untuk melawan para penjajah.

Sebuah bangunan toko di kawasan pasar Baru Jakarta Pusat telah berdiri seratusan tahun yang lalu. Dibandingkan dengan etnis-etnis lainnya yang ada di Indonesia, jumlah orang Tionghoa memang tak bisa dikatakan sangat banyak. Menurut data termutakhir Badan Pusat Statistik, Sensus Penduduk tahun 2010 jumlah etnis Tionghoa berada pada peringkat ke-18 terbanyak. Jumlah mereka yakni sebanyak 2,8 juta jiwa.

Sebuah menara masjid bergaya Tinghoa yang berdiri di Tangerang ini dibangun pada abad ke-17. Menara masjid itu merupakan bukti akulturasi dan toleransi masyarakat lokal muslim dengan warga pendatang China.

Seorang warga keturunan Tionghoa berjualan di sebuah warung klontong sederhana di kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Para jemaah menunaikan salat di Masjid Lautze. Pendirian masjid ini diawali dengan usaha dakwah di kalangan etnis Tionghoa di Jakarta. Pada tahun 1994, masjid diresmikan oleh Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia B. J. Habibie.

Sebuah masjid berdiri di bawah kolong tol. Masjid bergaya arsitektur China ini dibangun oleh seorang mualaf warga Tionghoa di kawasan Papanggo, Jakarta Utara.

Gedung Chandra Naya dengan latar apartemen mewah simbol warisan masa lalu, kemakmuran orang Tionghoa di masa sekarang Glodok, Jakarta Barat.

Dua orang warga Tionghoa menikmati air kelapa di depan Klenteng Boen Tek Bio di kawasan Pasar Lama, Kota Tangeranga, Banten.

Tidak ketinggalan masyarakat Tionghoa menyumbang budaya kuliner mereka di Nusantara, bukti akulturasi dan toleransi yang begitu kental.

Kebanyakan kuliner yang berasal dari China sangat digemari.

Seorang tukang jamu gendong melayani anak-anak di kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Begitu dekatnya budaya mereka di Nusantara, puluhan pengemis mengais rejeki di Klenteng Petak Sembilan Glodok.

Seorang penjaga membersihkan kuburan China di Cipinang, Jakarta Timur. Setiap bulan mereka mendapat imbalan dari keluarga pemilik makam itu.

Gereja Santa Maria de Fatima, Glodok, awalnya gereja ini adalah rumah dari seorang Tionghoa. Kemudian pada 1950, seorang pastur membeli rumah tersebut dan menjadikannya gereja.

Bangunan rumah toko manjadi ciri khas kawasan pecinaan Glodok yang sampai saat ini masih berdiri kokoh.

Warga Tionghoa identik dengan kemakmuran namun berbading terbalik dengan nasib Engkong alias Koh Lian Han (80), Ia sudah sejak masa muda bekerja sebagai pemulung dan jasa penyeberangan di sungai Cisadane Kota tangerang.

Untuk melihat sejarah datangnya warga Tionghoa ke Nusantara kita bisa datang ke museum Hakka di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Di sana memuat berbagai koleksi sejarah dan tokoh-tokoh Tionghoa yang telah berjasa untuk Bangsa Indonesia.

Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta
Potret Pembauran Warga Tionghoa Jakarta