Pemilu Israel, Netanyahu Unggul Tipis Tapi Tanpa Suara Mayoritas

Pemilu Israel, Netanyahu Unggul Tipis Tapi Tanpa Suara Mayoritas

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 28 Okt 2026 17:27 WIB
Calon petahana perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menjadi kandidat utama Partai Likud (Ohad Zwigenberg/AP Photo/picture alliance(
Tel Aviv -

Persaingan antara kubu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan oposisi berlangsung ketat dalam pemilu Israel. Hasil jajak pendapat seusai pemungutan suara atau exit poll menunjukkan kedua kubu memperoleh kursi yang hampir sama, dengan keunggulan tipis bagi petahana.

Hasil sementara yang dirilis oleh Komite Pemilihan Umum dan dilaporkan oleh Times of Israel, setelah 57,3% suara dihitung, menunjukkan bahwa blok pendukung Netanyahu diproyeksikan memperoleh 55 kursi, unggul tujuh kursi dari blok anti-Netanyahu yang memperoleh 49 kursi.

Hasil tersebut berubah dari proyeksi awal yang sempat menunjukkan keunggulan tipis kubu oposisi pimpinan Gadi Eisenkot.

Partai Likud pimpinan Netanyahu diperkirakan meraih 27 kursi, naik dari proyeksi sebelumnya sebanyak 25 kursi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, tidak satu pun dari ketiga stasiun televisi nasional Israel memproyeksikan adanya kubu yang mampu meraih 61 kursi, jumlah minimum yang dibutuhkan untuk menguasai mayoritas di Knesset, parlemen Israel yang memiliki 120 kursi.

Untuk itu, kedua kelompok harus menjalin koalisi dengan blok Arab. Namun opsi ini telah ditolak oleh Netanyahu dan Eisenkot sejak jauh hari. Sebabnya, pemerintahan baru Israel akan bergantung pada negosiasi alot antarpartai.

ADVERTISEMENT

Netanyahu ingin bentuk pemerintahan sayap kanan

Meski tidak berpeluang meraih suara mayoritas, Netanyahu bertekad membangun koalisi pemerintahan baru dari partai-partai sayap kanan.

"Kami masih menunggu hasil yang sebenarnya," kata Netanyahu dalam pidato di hadapan para pendukungnya pada Rabu (28/10) dini hari. Ia juga menegaskan bahwa Partai Likud merupakan partai terbesar di Israel.

"Kita harus membentuk pemerintahan sayap kanan yang kuat," sambungnya.

Netanyahu menolak kemungkinan pemerintahan yang bergantung pada dukungan partai-partai Arab, yang mencatat peningkatan suara cukup besar dalam pemilu Selasa (27/10).

Terkait keamanan, ia juga menyebut Israel memiliki "kesempatan unik" bersama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakhiri apa yang disebutnya sebagai ancaman Iran.

Oposisi desak Netanyahu mundur

Sebaliknya, pemimpin oposisi Gadi Eisenkot mendesak Netanyahu mundur setelah hasil exit poll menunjukkan penurunan tajam dukungan terhadap koalisinya. Menurutnya, anjloknya dukungan bagi koalisi pemerintah merupakan isyarat pencabutan mandat dari rakyat.

Koalisi Netanyahu saat ini menguasai 68 kursi di parlemen, tetapi hasil exit poll memproyeksikan perolehan kubunya turun menjadi sekitar 55 kursi.

"Kita telah mencetak sejarah," kata Eisenkot kepada para pendukungnya di Yerusalem. Menurutnya, hasil pemilu menunjukkan bahwa masyarakat Israel tidak lagi menginginkan Netanyahu sebagai perdana menteri.

Eisenkot mengatakan pemimpin yang baik seharusnya menghormati kehendak rakyat dan mengundurkan diri. Ia juga memperingatkan bahwa menggelar pemilu ulang merupakan langkah yang keliru.

Mantan panglima militer Israel itu menyatakan siap membentuk pemerintahan Zionis yang stabil dan mewakili seluruh masyarakat Israel, sekaligus memperluas kewajiban dinas militer. Salah satu isu utama kampanyenya adalah penghapusan pengecualian wajib militer bagi laki-laki Yahudi ultra-Ortodoks.

Eisenkot juga memperingatkan Netanyahu agar tidak mengambil keputusan besar terkait keamanan atau memulai perang baru karena dia menilai Netanyahu tidak lagi memiliki mandat untuk melakukannya.

"Netanyahu, jangan berani-berani menggunakan keamanan Israel demi kepentingan politikmu," tegas Eisenkot.

Meski koalisinya diperkirakan kehilangan banyak kursi, Netanyahu kemungkinan tidak akan mengakui kekalahan begitu saja. Respons dari jajaran Partai Likud dan mitra koalisinya juga masih belum diketahui.

Tingginya partisipasi ancam partai kecil

Pemilu kali ini mencatat tingkat partisipasi pemilih yang tinggi. Hingga pukul Selasa (27/10) pukul 18.00 waktu setempat, sebanyak 66,7% pemilih telah memberikan suara atau sekitar dua dari setiap tiga orang yang memiliki hak pilih, menurut Komite Pemilihan Umum Pusat Israel.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi pada pukul 18.00 sejak pencatatan serupa dimulai pada 1973, melampaui rekor sebelumnya sebesar 65,2% pada 1973 dan 1988, serta 57,7% pada 2022. Padahal, angka pada 2022 sudah menjadi yang tertinggi pada abad ke-21.

Tingginya partisipasi ini berpotensi menyulitkan partai-partai kecil, termasuk yang berpeluang mendukung Netanyahu. Semakin banyak suara yang masuk, semakin besar pula jumlah suara yang dibutuhkan untuk memenuhi ambang batas parlemen sebesar 3,25%.

Berdasarkan jajak pendapat pekan lalu, dua partai berada di sekitar ambang batas tersebut, yakni Amcha Israel, partai sayap kanan jauh pimpinan mantan komandan militer Ofer Winter, dan Partai Reservis yang belum menyatakan dukungan kepada salah satu kubu utama.

Winter berulang kali menyatakan ingin bergabung dengan koalisi Netanyahu. Jika partainya gagal masuk parlemen, peluang Likud membentuk koalisi pemerintahan bisa semakin kecil.

Partai Ra'am jadi penentu?

Di tengah ketatnya persaingan, Partai Ra'am muncul sebagai kekuatan yang berpotensi menentukan pembentukan pemerintahan Israel berikutnya.

Partai berhaluan Islam tersebut diperkirakan memperoleh tujuh kursi berdasarkan hasil exit poll. Dengan perolehan ini, pembentukan pemerintahan baru diperkirakan tidak bisa dilakukan tanpa melibatkan Ra'am dalam bentuk tertentu.

Ra'am sebelumnya menjadi sorotan setelah menunjuk Yoav Segalovich, mantan pejabat tinggi kepolisian Israel yang beragama Yahudi, sebagai kandidat nomor dua setelah pemimpin partai, Mansour Abbas.

Tingginya angka kriminalitas dan kekerasan di komunitas Arab dan Palestina, serta perang di Gaza, diduga turut memengaruhi perolehan suara Ra'am.

Koalisi pimpinan Likud maupun sebagian besar kelompok oposisi sebelumnya menolak kemungkinan berkoalisi dengan Ra'am. Namun, hasil pemilu kali ini bisa membuat kedua kubu tidak punya banyak pilihan selain mencari bentuk kerja sama dengan partai tersebut.

Seperti dikatakan seorang pengamat jajak pendapat di Israel, "Malam ini, warga Israel kembali diingatkan bahwa penduduk negara mereka juga mencakup warga Arab dan Palestina yang memiliki kewarganegaraan Israel."

Pemungutan suara di Israel ditutup pada Selasa pukul 22.00 waktu setempat, dengan pemilih yang sudah mengantre masih diperbolehkan memberikan suara.

Penghitungan berlangsung sepanjang malam dan hasil akhir diperkirakan baru dapat dipastikan pada Rabu. Meski demikian, hasil resmi belum tentu langsung memberikan kepastian mengenai siapa yang dapat membentuk pemerintahan koalisi.

Laporan ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara

Editor: Muhammad Hanafi & Rizki Nugraha

Lihat juga Video: Israel Gelar Pemilu, Iran Pesimistis Pembantaian di Palestina Berakhir

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini