Apakah Iran Siap Hadapi Serangan Baru AS-Israel?

Apakah Iran Siap Hadapi Serangan Baru AS-Israel?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2026 10:27 WIB
Saat ini AS memiliki dua grup kapal induk di Timur Tengah, yang ketiga akan tiba pada akhir November (US Navy/REUTERS)
Teheran -

Para pejabat di Teheran harus bersiap menghadapi serangan baru menyusul laporan media bahwa AS dan Israel tengah menelaah opsi baru untuk meningkatkan eskalasi perang melawan Iran.

Pemilu sela AS yang akan diselenggarakan 3 November dan pemilu Israel pada 27 Oktober turut menyoroti faktor politik kedua negara dalam menangani konflik pada akhir Februari 2026.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa tingginya harga energi yang dipicu oleh perang Iran telah merugikan Partai Republik pimpinan Donald Trump. Pada 8 Oktober, presiden mengunggah di media sosial bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela, dengan alasan "diskusi produktif" dengan Teheran. Awal September lalu, AS terakhir kalinya melancarkan serangan atas Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, setelah pemilu usai, Trump mungkin merasa tidak lagi terbatas secara politik.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut berkampanye tentang perubahan rezim di Iran.

ADVERTISEMENT

Laporan: Rencana Operasi singkat AS-Israel telah disiapkan

Mengutip pejabat senior AS, New York Times melaporkan pada Rabu bahwa Amerika Serikat dan Israel telah "menyusun rencana spesifik" untuk sebuah "operasi singkat namun intensif" di Iran yang akan mencakup sasaran-sasaran seperti fasilitas nuklir, infrastruktur energi, serta persenjataan rudal dan pesawat nirawak negara tersebut.

Seorang pejabat mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk memaksa Iran melakukan kompromi diplomatik dengan melemahkan ekonominya, di tengah mandeknya perundingan mengakhiri konflik.l. Amerika Serikat juga tetap memberlakukan blokade terhadap ekspor minyak Iran di Selat Hormuz yang telah menguras pendapatan minyak Teheran.

Media lain telah melaporkan rencana serupa dalam beberapa pekan terakhir. Pada awal Oktober, Axios melaporkan bahwa Pentagon telah menginstruksikan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk menyelesaikan persiapan guna melanjutkan operasi tempur besar-besaran di Iran.

Saat ini terdapat dua kapal induk AS di Laut Arab, kapal induk ketiga diperkirakan tiba pada akhir November.

Pada 15 Oktober, Trump mengatakan kepada stasiun televisi sayap kanan Newsmax bahwa dirinya sedang mempertimbangkan penyerangan ke Gunung Pickaxe dekat kompleks nuklir Natanz, tempat yang diduga pejabat AS sebagai fasilitas pengayaan uranium.

Sehari kemudian, CNN melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan penggunaan bom Massive Ordnance Air Blast (MOAB) untuk menyasar target-target di Iran. Karena MOAB menghasilkan gelombang ledakan yang sangat besar di permukaan tanah, efektivitasnya menyerang fasilitas bawah tanah seperti Gunung Pickaxe akan terbatas.

Iran belajar dari serangan sebelumnya?

Pejabat-pejabat Iran menyatakan bahwa mereka siap menghadapi serangan, akan merespon luas termasuk menyerang pangkalan-pangkalan AS dan fasilitas energi di Teluk.

Ali Asghar Shafieian, penasihat media Presiden Iran Masoud Pezeshkian, mengatakan kepada DW bahwa, meskipun AS masih memiliki keunggulan teknologi dan militer yang signifikan, strategi Teheran didasarkan pada upaya mempertahankan kendali rezim atas negara tersebut, bukan untuk menyaingi kekuatan AS.

"AS memang unggul dalam kekuatan militer dan teknologi, tetapi kekuatan Iran terletak pada cara mereka menangani krisis," kata Shafieian.

Shafieian merujuk pada bagaimana Iran melakukan penggantian cepat para pejabat senior yang tewas dalam serangan sebelumnya sebagai cara bagaimana Teheran berusaha membuat struktur politiknya lebih tangguh. Iran juga telah membangun kembali kemampuan rudal dan pesawat nirawak yang hancur selama serangan besar-besaran di minggu-minggu pertama serangan AS-Israel.

Mengutip pejabat Iran, kantor berita Reuters melaporkan pekan ini bahwa Iran sedang "Bersiap menghadapi serangan baru dari Israel dan AS, bukan bersiap untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika guna mengakhiri perang," sambil menambahkan bahwa Teheran sedang memperpanjang negosiasi untuk mencoba melemahkan Trump dalam pemilu sela AS.

Pada pemerintah-pemerintah di kawasan Telok, Iran mengumumkan bahwa pangkalan militer AS dan infrastruktur kritis dapat menjadi target sasaran jika negara-negara tetangga membantu operasi AS atau Israel. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah memperingatkan bahwa partisipasi atau kerja sama negara-negara di kawasan tersebut akan mendapat "tanggapan yang tegas dan proporsional."

"Iran siap memberikan kesempatan berdiplomasi jika kami melihat bukti kuat adanya keinginan tulus dari AS untuk membangun kepercayaan & mencapai solusi yang adil," tulis Araghchi di X pada hari Rabu. "Namun, jika AS memilih perang daripada diplomasi, hal itu pasti akan mengakibatkan kegagalan strategis yang jauh lebih besar."

Bagaimana Iran bersiap?

Rahman Ghahremanpour, seorang analis politik yang berbasis di Teheran, mengatakan kepada DW bahwa persiapan Iran tidak hanya terbatas pada rudal dan pesawat nirawak, tetapi juga persiapan keamanan dalam negeri.

Termasuk menghadapi kelompok-kelompok oposisi bersenjata, menghadapi kemungkinan protes, menyusun rencana mencegah tekanan militer eksternal yang berpadu dengan kerusuhan dalam negeri.

Konflik lainnya, katanya, dapat memicu pembatasan internet dan mobilisasi yang lebih kuat dari para pendukung pemerintah di ruang publik.

"Dalam strategi perang asimetris pemerintah, tujuan utamanya adalah meyakinkan Amerika Serikat bahwa penggantian rezim melalui aksi militer tidak mungkin dilakukan," kata Ghahremanpour.

Ghahremanpour menambahkan bahwa beberapa faksi di dalam Iran telah mendukung kembalinya ke kesepakatan yang dinegosiasikan. Namun, ia meyakini bahwa tuntutan Washington kini dianggap begitu luas sehingga bahkan pejabat Iran yang mendukung kompromi pun kesulitan membangun dukungan domestik untuk tuntutan tersebut.

"Untuk saat ini menghadapi kebuntuan," kata Ghahremanpour. "Pejabat Iran tampaknya tidak optimis mengenai tercapainya kesepakatan."

Pembicaraan terus menemui hambatan terkait program nuklir Iran, yang menurut pejabat AS harus menjadi prioritas utama dalam agenda.

Usulan terbaru Iran kepada Amerika Serikat, yang dikirim melalui mediator Qatar, mencakup tawaran untuk membuka kembali Selat Hormuz di bawah kendali Iran, sebagai imbalan atas pencabutan blokade maritim AS, pembebasan aset yang dibekukan, dan penghentian aksi militer.

Mengutip data dari pelacak kapal Kpler, Wall Street Journal melaporkan bahwa pekan ini pengangkutan minyak melalui Selat Hormuz mendekati level sebelum perang karena militer AS mengawal kapal tanker dan perusahaan pelayaran lebih bersedia mengambil risiko demi keuntungan yang lebih besar. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah pengaruh Iran atas arus pengangkutan minyak sedang melemah.

Iran: Ketakutan akan perang di dalam negeri

Eskalasi dalam konfrontasi ini terjadi di tengah tekanan ekonomi yang parah dan polarisasi politik yang kian meningkat bagi warga Iran.

Seorang dokter di Teheran mengungkapkan kekhawatirannya kepada DW jika pertempuran kembali berkobar. Berbicara kepada media di Iran dianggap berbahaya, sehingga ia bersedia menyampaikan pendapatnya dengan identitas anonim.

"Situasi ekonomi menjadi sangat buruk," katanya. "Bahkan jika Anda sendiri memiliki penghasilan yang baik, Anda tidak akan merasa nyaman hidup di tengah begitu banyak orang yang berjuang melawan kemiskinan," tambahnya.

Ia memperkirakan bahwa pihak berwenang akan membatasi akses internet lagi jika pertempuran kembali berkobar.

Seorang perempuan di Teheran menggambarkan kemarahannya terhadap para pendukung rezim dan mengatakan bahwa perang yang dipadukan dengan protes dalam negeri dapat meningkatkan risiko terjadinya konfrontasi di jalanan.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir bawah tanah, ia mengatakan bahwa masalah tersebut terasa semakin jauh dari masalah sehari-harinya.

"Apa hubungannya fasilitas nuklir itu dengan kami?" katanya. "Fasilitas itu berada di dalam gunung."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

Tonton juga video "Netanyahu Dapat Dukungan Trump di Pemilu: Bersama, Kita Telah Remukkan Iran!"

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini