Ekonomi Jerman Terjebak Krisis, Persaingan China Menguat

Ekonomi Jerman Terjebak Krisis, Persaingan China Menguat

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 23 Okt 2026 16:36 WIB
Pemerintahan Kanselir Friedrich Merz menetapkan agenda pengembangan teknologi tinggi yang berfokus pada enam sektor prioritas, termasuk akal imitasi (AI), komputasi kuantum, dan mobilitas netral karbon (NEURA Robotics/pexels.com/@eren-li)
Berlin -

Model ekonomi Jerman yang bertumpu pada ekspor menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, di tengah meningkatnya dukungan terhadap partai sayap kanan ekstrem Alternative fr Deutschland (AfD).

Persaingan dari perusahaan-perusahaan China secara bertahap menggerus pangsa pasar industri utama Jerman. Sementara itu, harga energi yang terus tinggi, biaya tenaga kerja yang mahal, serta birokrasi yang berbelit-belit semakin memperparah krisis struktural ekonomi negara tersebut.

Setelah mengalami kontraksi selama dua tahun, produk domestik bruto (PDB) riil Jerman hanya tumbuh 0,2% tahun lalu, menurut Kantor Statistik Federal Jerman, Destatis. Ekspor Jerman ke China turun 9,7% pada 2025, sementara pengiriman kendaraan dan suku cadang otomotif ke negara tersebut anjlok sepertiga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski terdapat tanda-tanda bahwa ekonomi Jerman mulai pulih, proyeksi terbaru pemerintah yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,3% pada 2026 masih tergolong moderat jika dibandingkan dengan masa pertumbuhan pesat sebelum pandemi COVID-19.

Saat ini, AfD berada di atas partai-partai politik lainnya dalam sejumlah survei elektabilitas di Jerman. Berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi negara tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan dukungan terhadap partai populis sayap kanan itu.

ADVERTISEMENT

Badan intelijen dalam negeri Jerman menyatakan terdapat indikasi kuat bahwa AfD secara keseluruhan merupakan partai ekstrem kanan.

AfD berjanji mengembalikan Jerman ke jalur pertumbuhan ekonomi dengan menghentikan transisi menuju energi terbarukan, menurunkan pajak, dan menegosiasikan ulang perjanjian Uni Eropa. Partai tersebut juga ingin mereformasi sistem kesejahteraan sosial dan membatasi imigrasi secara drastis.

Merz mengincar pertumbuhan melalui teknologi canggih

Ketika pemerintahan koalisi Kanselir Friedrich Merz mencari strategi pertumbuhan baru untuk membendung kebangkitan politik populis, pemerintah Jerman menetapkan agenda pengembangan teknologi tinggi yang berfokus pada enam sektor prioritas.

Keenam sektor tersebut meliputi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI), komputasi kuantum, mikroelektronika, bioteknologi, energi bersih termasuk fusi nuklir, serta mobilitas netral karbon.

Irene Bertschek, kepala unit riset Ekonomi Digital di Leibniz Centre for European Economic Research (ZEW), menilai Jerman memiliki kapasitas riset yang sangat kuat dalam bidang teknologi pendukung utama tersebut, khususnya teknologi netral karbon.

Namun, hasil penelitian itu kerap dikomersialkan di luar negeri. Amerika Serikat masih memimpin dalam pengembangan AI, sementara China dengan cepat mempersempit kesenjangan, kata Bertschek kepada DW.

Investasi baru bernilai triliunan euro

Laporan yang diterbitkan pada Senin oleh inisiatif Made for Germany, sebuah kelompok yang terdiri dari 147 perusahaan dan investor, mengembangkan lebih lanjut rencana pemerintah tersebut. Laporan itu memperkirakan bahwa teknologi-teknologi baru dan sektor terkait berpotensi menarik investasi hingga €4,1 triliun (sekitar Rp78,8 kuadriliun) pada 2035.

Namun, merealisasikan potensi tersebut tidak akan terlalu bergantung pada perusahaan industri besar yang telah mapan, seperti Volkswagen, Siemens, dan BASF.

"Bukan terutama perusahaan-perusahaan mapan yang akan menaklukkan bidang-bidang baru ini, melainkan para pendatang baru yang inovatif, yaitu perusahaan rintisan," kata Oliver Falck, direktur ifo Center for the Economics of Innovation and Digital Transformation, kepada DW.

Menurut Falck, tantangannya adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan perusahaan rintisan tumbuh, termasuk kedekatan dengan universitas terkemuka, akses terhadap modal swasta, serta keleluasaan untuk bereksperimen.

Ia juga mendorong pemerintah menyediakan pembiayaan pada tahap awal, yang dikenal sebagai valley of death. Istilah ini merujuk pada fase berisiko antara penelitian dan kelayakan komersial, ketika pendanaan swasta sering kali sulit diperoleh.

Investor membidik sektor-sektor yang berpotensi tumbuh

Sejumlah indikator menunjukkan bahwa pergeseran ini mulai berlangsung. Data Deutsche Bank dan startupdetector, basis data sekaligus platform intelijen pasar perusahaan rintisan Jerman, menunjukkan lebih dari 3.000 perusahaan rintisan didirikan di Jerman pada semester pertama 2026. Jumlah ini meningkat 88% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sepertiga dari perusahaan baru tersebut berfokus pada AI.

Investasi modal ventura melonjak 44% menjadi €5,8 miliar (sekitar Rp111,4 triliun) pada semester pertama 2026. Sejumlah perusahaan yang diuntungkan antara lain Neura Robotics serta produsen drone Stark dan Quantum Systems.

Sementara itu, investor Amerika Serikat semakin banyak mengakuisisi perusahaan-perusahaan Mittelstand Jerman yang terkenal, yakni usaha kecil dan menengah (UKM) tradisional yang memiliki teknologi khusus.

"Mittelstand Jerman sangat inovatif. Kini, yang penting adalah berinvestasi dalam teknologi utama seperti kecerdasan buatan dan memanfaatkan potensi yang muncul dari perpaduan teknologi tersebut dengan teknologi yang sudah mapan," kata Bertschek.

Bertschek, yang juga menjabat ketua Komisi Ahli Riset dan Inovasi (EFI) pemerintah Jerman, menilai UKM perlu memanfaatkan data produksi dalam jumlah besar yang mereka miliki secara lebih optimal. Mereka juga perlu bekerja sama dengan perusahaan rintisan AI untuk membantu perusahaan-perusahaan muda tersebut berkembang.

Gagasan membentuk zona ekonomi khusus

Gagasan lain untuk mempercepat peralihan menuju sektor teknologi tinggi datang dari Sven Gabor Janszky, ketua lembaga riset masa depan 2b AHEAD yang berbasis di Leipzig. Ia berpendapat Jerman membutuhkan zona ekonomi khusus untuk menangkap gelombang pertumbuhan ekonomi berikutnya.

"Untuk beberapa teknologi tertentu, Anda melonggarkan regulasi, merekrut tenaga kerja ambisius, dan menggelontorkan dana ke zona-zona tersebut," kata Janszky kepada DW.

Menurutnya, pendekatan ini dapat meniru pengalaman Silicon Valley di Amerika Serikat serta kota-kota besar China, seperti Shenzhen dan kawasan Pudong di Shanghai. Model tersebut juga mengingatkan pada kondisi yang membantu membangun kembali ekonomi Jerman setelah Perang Dunia II.

Janszky menilai zona ekonomi khusus dapat membantu Jerman menjadi pelopor dalam bidang-bidang baru yang sedang berkembang, alih-alih terus bergantung pada keunggulan industri lamanya.

"Regulasi Uni Eropa mungkin berusaha melarang langkah ini, tetapi Jerman harus mengatasinya agar kita dapat kembali menumbuhkan ekonomi," tambahnya.

Belanja pertahanan mendorong pertumbuhan teknologi

Lonjakan tajam belanja pertahanan Jerman juga akan membantu mengembangkan sejumlah sektor teknologi tinggi yang kini menjadi prioritas pemerintah.

Menurut International Institute for Strategic Studies (IISS), anggaran pertahanan Jerman diperkirakan mencapai sekitar €120 miliar (sekitar Rp2,3 kuadriliun) pada 2026, setara dengan sekitar 2,6% dari PDB. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 3,5% pada 2029.

Pengadaan peralatan pertahanan yang menyertai peningkatan anggaran ini akan memberikan dorongan besar bagi produksi drone, sensor, sistem komunikasi, serta teknologi penggunaan ganda (dual-use) lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan sipil maupun militer.

Kesenjangan biaya tidak selalu menentukan

Namun, China sebagai pesaing utama memiliki keunggulan berupa biaya energi dan tenaga kerja yang jauh lebih rendah, serta subsidi pemerintah dalam jumlah besar. Kondisi ini membuat Jerman kemungkinan tetap menghadapi kerugian dari sisi harga ketika mengekspor teknologi canggih yang baru dikembangkannya. Meski demikian, menurut Falck dari lembaga riset ifo, hal itu tidak serta-merta berarti Jerman akan gagal bersaing.

"Ambil industri semikonduktor sebagai contoh. Mungkin tidak realistis jika Jerman menargetkan posisi terdepan di sepanjang seluruh rantai nilai. Namun, cukup dengan menjadi pemimpin di titik-titik strategis tertentu," ujarnya.

"Dan justru di situlah Jerman memiliki keunggulan: sebagai pemasok peralatan untuk pabrik semikonduktor mutakhir dan sebagai pemasok semikonduktor daya bagi pabrik AI berskala sangat besar di seluruh dunia."

Dengan kata lain, berbekal keunggulan sebagai pelopor, data produksi berkualitas tinggi yang dikumpulkan selama puluhan tahun, serta fokus pada ceruk pasar khusus, Jerman masih dapat mempertahankan posisi penting dalam industri teknologi canggih dan rekayasa.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Ayu Purwaningsih

Tonton juga video "Sarmuji Bicara Masa Depan Industri Indonesia"

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini