Inggris akan mengerahkan jet tempur Royal Air Force Typhoon ke Arab Saudi untuk membantu mempertahankan negara tersebut dari serangan kelompok Houthi. Hal ini diumumkan pemerintah Inggris pada Selasa (20/10).
Kementerian Pertahanan Inggris menyebut jet tempur tersebut akan digunakan untuk melindungi kota-kota dan infrastruktur vital Arab Saudi dari serangan drone dan rudal. Namun, pesawat Inggris tidak akan melakukan serangan terhadap target-target Houthi di Yaman, melainkan hanya mencegat rudal atau drone di udara.
"Serangan Houthi yang terus berlanjut terhadap sekutu kami, Arab Saudi, benar-benar tidak dapat dibenarkan," ungkap Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengecam serangan terhadap Bandara Internasional Riyadh yang telah menjadi sasaran sedikitnya 20 kali sejak awal Oktober dan menewaskan sedikitnya 18 orang serta melukai ratusan lainnya.
Pasalnya, perang saudara di Yaman kembali memanas setelah gencatan senjata yang telah bertahan selama bertahun-tahun runtuh pada September lalu.
Houthi semakin sering menargetkan fasilitas minyak dan infrastruktur sipil Arab Saudi. Kelompok itu juga menerapkan blokade laut dan menyerang kapal tanker hingga mengganggu ekspor minyak dan mendorong kenaikan harga energi.
Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) menuding Iran mendukung kelompok Houthi. Namun, Teheran membantah tuduhan tersebut.
Dukungan militer tambahan dari Inggris
Pengerahan jet tempur dilakukan atas permintaan Arab Saudi dan melengkapi bantuan militer yang sebelumnya diumumkan London pada September lalu.
Selain jet Typhoon, Inggris juga akan mengirim pesawat angkut militer Atlas A400M serta penasihat militer.
Bulan lalu, Inggris sendiri telah menyediakan dukungan pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat-pesawat Arab Saudi yang melawan Houthi. Streeting menyebut misi itu kini diperpanjang selama 90 hari ke depan.
Meski begitu, ia juga menegaskan bahwa tidak ada solusi militer jangka panjang untuk mengakhiri perang di Yaman.
"Kami tetap mendukung proses politik yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai jalan terbaik menuju perdamaian yang berkelanjutan," ujarnya.
Juru bicara Perdana Menteri Andy Burnham membantah bahwa Inggris terseret lebih jauh ke dalam konflik ini.
"Dukungan kami kepada Arab Saudi bersifat terukur, proporsional, dan difokuskan untuk membantu mereka mempertahankan diri dari serangan Houthi yang terus-menerus," kata juru bicara pemerintah, Tom Wells.
Arab Saudi minta bantuan sekutu
Menurut Associated Press, Arab Saudi telah meminta sejumlah sekutunya, termasuk Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir, untuk memberikan dukungan pertahanan udara guna menghadapi serangan rudal dan drone dari Houthi maupun kelompok lain yang berafiliasi dengan Iran.
AS, yang pernah menggempur Houthi pada masa pemerintahan Joe Biden dan Donald Trump, kali ini justru tidak memilih langkah yang sama.
Di sisi lain, Mesir mengumumkan bantuan militer dan menyatakan siap memberikan "segala bentuk dukungan yang memungkinkan" guna membantu Arab Saudi "menjaga keamanan dan stabilitasnya."
Tak hanya itu, seorang pejabat pemerintah juga menyebut bahwa Mesir akan mengerahkan sistem pertahanan udara dan pesawat militer untuk membantu mencegat rudal serta drone yang ditembakkan ke arah Arab Saudi.
Seperti apa dampak konflik terhadap ekonomi Arab Saudi?
Meningkatnya ancaman keamanan mulai memengaruhi agenda ekonomi Arab Saudi.
Pemerintah Saudi memutuskan menunda penyelenggaraan Future Investment Initiative (FII) atau yang kerap dijuluki "Davos di Gurun" hingga 2027. Acara yang semula dijadwalkan berlangsung pada 26-29 Oktober itu diperkirakan akan dihadiri para investor dan pelaku keuangan global.
Sejumlah media melaporkan bahwa bank-bank besar dan perusahaan investasi swasta menyampaikan kekhawatiran terkait situasi keamanan.
Padahal, konferensi tersebut merupakan salah satu instrumen utama Arab Saudi untuk menarik investasi asing dan mengurangi ketergantungan ekonominya pada sektor minyak.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani
Editor: Tezar Aditya Rahman










































