Persaingan Rudal Hipersonik Memanas di Semenanjung Korea

Persaingan Rudal Hipersonik Memanas di Semenanjung Korea

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 19 Okt 2026 11:22 WIB
Pyongyang menyatakan telah menguji dua jenis rudal jelajah yang diluncurkan dari kapal selam di lepas pantai timurnya pada 14 Oktober (KCNA/REUTERS)
Pyongyang menyatakan telah menguji dua jenis rudal jelajah yang diluncurkan dari kapal selam di lepas pantai timurnya pada 14 Oktober (KCNA/REUTERS)
Seoul -

Korea Utara mengumumkan telah menguji dua jenis rudal jelajah yang diluncurkan dari kapal selam. Uji coba itu dilakukan di lepas pantai timur pada Rabu (14/10). Sehari sebelumnya, kantor berita pemerintah Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi museum industri pertahanan yang baru, serta meninjau rudal balistik antarbenua (ICBM) yang disebut mampu menjangkau wilayah daratan Amerika Serikat (AS).

Kunjungan tersebut berlangsung lima hari setelah Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyaksikan uji peluncuran rudal hipersonik pertama yang dikembangkan sepenuhnya di dalam negeri.

Terobosan Korea Selatan itu terjadi setelah Pyongyang pada 3 Oktober mengumumkan uji coba rudal hipersonik jarak menengah yang disebut menempuh jarak 350 kilometer sebelum mengenai sasarannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kim Jong Un menyampaikan harapan dan keyakinannya bahwa seluruh pasukan rudal negara akan tetap setia pada misinya untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan republik dengan kesiapan tempur yang bertanggung jawab," demikian laporan KCNA.

Perlombaan teknologi hipersonik di Semenanjung Korea

Korea Utara dan Korea Selatan sama-sama berlomba mengembangkan teknologi hipersonik karena teknologi ini dianggap mampu meningkatkan kemampuan serangan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik.

ADVERTISEMENT

Rudal hipersonik adalah senjata yang mampu melaju sedikitnya lima kali kecepatan suara atau Mach 5, setara lebih dari 6.100 kilometer per jam.

Kecepatan tersebut membuat rudal jauh lebih sulit dideteksi, dilacak, dan dihancurkan oleh sistem pertahanan. Rudal ini dapat membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir. Dibanding generasi rudal sebelumnya, rudal ini mampu mengubah arah secara tiba-tiba, menukik, atau bermanuver saat terbang sehingga jauh lebih sulit dicegat.

"Perlombaan senjata di Semenanjung Korea sudah berlangsung selama bertahun-tahun, dan senjata hipersonik hanyalah manifestasi terbaru dari perlombaan itu," kata Chris Green, penasihat senior Semenanjung Korea di International Crisis Group.

Menurut Green, senjata hipersonik menjadi "prioritas bagi Korea Selatan" seiring meningkatnya kemampuan militer Korea Utara serta semakin eratnya hubungan militer dan ekonomi Pyongyang dengan Rusia.

"Korea Utara memang memiliki senjata nuklir, tetapi penggunaannya tidak realistis," kata Green. "Selama ini ancamannya selalu sama, yakni jika senjata itu digunakan, Amerika Serikat akan menghancurkan negara tersebut."

Bagi Korea Utara, lanjut Green, dinamika geopolitik kawasan mendorong mereka mengembangkan senjata konvensional canggih demi memperoleh keunggulan di Semenanjung Korea.

Pakar: 'Dunia tidak boleh meremehkan Korea Utara'

Meski sulit memastikan apakah senjata yang dikembangkan Korea Utara benar-benar sesuai dengan klaimnya, Green menilai dunia tidak boleh meremehkan Pyongyang.

"Kita tidak tahu kemampuan mereka yang sebenarnya, dan mungkin saja semua ini propaganda. Namun, sudah banyak contoh ketika kemampuan Korea Utara diremehkan, lalu mereka justru membuktikan bahwa mereka memang mampu melakukan apa yang mereka klaim," ujarnya.

Penilaian serupa disampaikan Chun In-bum, purnawirawan jenderal Angkatan Darat Korea Selatan yang kini menjadi peneliti senior di National Institute for Deterrence Studies.

"Sulit memastikan apakah mereka mengatakan yang sebenarnya. Namun, setiap perencana militer yang bijak harus selalu bersiap menghadapi skenario terburuk," kata Chun.

Kemajuan Korea Utara dalam menguasai teknologi canggih untuk mengoperasikan rudal hipersonik terbilang cepat. Namun, bagaimana Pyongyang memperoleh kemampuan tersebut masih menjadi tanda tanya.

"Mereka kemungkinan mendapatkannya melalui cara-cara ilegal," kata Chun. "Mereka mengintai perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang untuk memperoleh informasi semacam ini. Mereka juga melakukannya terhadap negara-negara yang dianggap 'teman.'"

Dari mana pun asal teknologinya, rudal hipersonik Korea Utara dinilai cukup mengkhawatirkan.

"Kemampuan serangan yang lebih besar berarti tingkat ancaman dari Korea Utara juga meningkat. Jika mereka memiliki senjata yang lebih sulit ditembak jatuh, maka godaan untuk menggunakannya bisa saja bertambah," ujar Chun.

"Saya memang berspekulasi," lanjutnya. "Tetapi saya yakin kami sedang mencari cara untuk menetralkan ancaman ini. Sejauh yang saya pahami, saat ini belum ada solusi yang benar-benar memadai."

Akankah sistem rudal baru mengubah dinamika medan tempur?

Green menilai sistem rudal yang berhasil dikembangkan kedua negara pada akhirnya bisa saling meniadakan keunggulan satu sama lain di medan tempur.

"Saya tidak melihat ini mengubah keseimbangan kekuatan," kata Green.

Menurut dia, Korea Utara masih mengandalkan daya tangkal nuklir dan strategi "landak", yakni membuat diri cukup tajam dan berbahaya sehingga pihak lain enggan mendekat.

"Dan teknologi ini juga tidak terlalu mengubah permainan bagi Korea Selatan."

"Yang jelas, jika Korea Utara terus mengembangkan sistem persenjataannya dan mampu mengerahkannya dalam jumlah besar," kata Green, "maka butuh pembahasan lebih lanjut tentang penguatan pertahanan rudal, bukan hanya di Korea Selatan, tetapi juga di Jepang. Dan itu akan memunculkan berbagai persoalan yang tidak mudah untuk dijawab."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani

Editor: Rizki Nugraha

Lihat juga Video: Korut Luncurkan Rudal Balistik di Sabtu Pagi, Korsel Siaga Penuh

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini