China dan Korea Utara resmi membuka jalur perbatasan darat terpenting mereka pada Kamis (15/10), dengan harapan menghidupkan kembali perdagangan setelah hubungan kedua negara memburuk selama bertahun-tahun dan pandemi mengganggu pertukaran lintas batas.
Aktivitas di Jembatan Sungai Yalu Baru sepanjang 3 kilometer dan fasilitas bea cukai China di ujung perlintasan sepanjang 1,3 kilometer terlihat meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pada Kamis (15/10), truk-truk berbendera China terlihat mengantre jelang pembukaan jalur tersebut. Sejumlah warga juga berkumpul di sisi China, di sepanjang jalan yang menghadap ke jembatan.
Bendera China dan Korea Utara menghiasi jembatan cable-stayed dengan tiang-tiang menjulang yang telah selesai dibangun sejak 2014. Jalan akses dan area bea cukai di sisi Korea Utara masih belum rampung saat itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Kamis (15/10), kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan kedua negara menggelar upacara pembukaan jembatan baru tersebut. Media pemerintah Korea Utara belum melaporkan acara yang telah dijadwalkan itu.
Pembukaan ini menandai kemajuan dalam hubungan bilateral antara Beijing dan Pyongyang, yang ditandai dengan dua pertemuan puncak antara para pemimpin kedua negara dalam setahun terakhir.
China sejauh ini merupakan mitra dagang terbesar Korea Utara. Namun, serangkaian sanksi PBB telah melarang perdagangan barang dan tenaga kerja dengan Korea Utara sebagai respons atas negara itu yang terus terang-terangan mengembangkan rudal dan senjata nuklir. China dan Rusia, dua anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang sebelumnya turut menyetujui resolusi sanksi hingga 2017, sejak itu mulai mempertanyakan legitimasi dan efektivitas larangan tersebut.
Para analis menilai Korea Utara berpotensi mendapat keuntungan ekonomi dari meningkatnya perdagangan, tetapi tetap berhati-hati agar tidak semakin bergantung pada China. Sementara itu, Rusia dituduh oleh Amerika Serikat, Korea Selatan, dan sejumlah negara lain memasok bantuan militer sensitif kepada Korea Utara sebagai imbalan atas dukungan Pyongyang dalam perang di Kyiv.
"Jembatan ini kecil kemungkinannya akan langsung membawa kembali perdagangan skala penuh seperti sebelum sanksi," kata Lim Eul-chul dari Institut Studi Timur Jauh Universitas Kyungnam.
Namun, menurutnya, jembatan itu akan mempermudah pengangkutan alat berat, bahan baku, dan produk energi yang dibutuhkan untuk berbagai proyek pembangunan di Korea Utara.
Ekspor China ke Korea Utara naik ke level tertinggi dalam enam tahun sebesar 2,3 miliar dolar AS tahun lalu, naik 25% dari tahun sebelumnya. Angka itu masih jauh di bawah level sebelum sanksi PBB diperketat pada 2017.
Tertunda lebih dari satu dekade
Jembatan empat jalur ini menghubungkan Dandong di timur laut China dengan Sinuiju di Korea Utara. Kedua kota itu sebelumnya sudah terhubung melalui Jembatan Persahabatan Sino-Korea yang sudah tua dan hanya satu jalur.
Jembatan lama yang dibangun pada 1937 itu selama ini menanggung beban besar. Jalur tersebut menopang lebih dari 70% perdagangan resmi antara kedua negara, baik melalui kereta api maupun kendaraan. Namun, kendaraan hanya bisa melintas satu arah pada satu waktu.
Jembatan baru ini awalnya dijadwalkan dibuka pada 2014. Namun, Korea Utara belum menyelesaikan pembangunan fasilitas bea cukai dan pengawasan perbatasan yang diperlukan. Penyebab keterlambatan itu tidak pernah diumumkan secara resmi. Sejumlah kemungkinan mencakup perselisihan antara Beijing dan Pyongyang serta penutupan perbatasan Korea Utara selama pandemi COVID-19.
Prospek investasi industri skala besar tetap terbatas akibat sanksi PBB, menurut analisis yang diterbitkan akhir Agustus oleh Institut Strategi Keamanan Nasional Korea Selatan.
Hubungan China-Korut kian membaik
Para pengamat menilai jembatan baru ini kemungkinan akan secara bertahap meningkatkan perdagangan bilateral dan memperbaiki efisiensi logistik.
"China dan Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK), nama resmi Korea Utara, adalah tetangga bersahabat yang dihubungkan oleh sungai dan pegunungan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning. Ia menambahkan bahwa jembatan ini adalah proyek konektivitas penting bagi kedua negara.
Hubungan kedua negara belakangan ini menunjukkan perbaikan yang nyata. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi Beijing pada September 2025, dalam salah satu kunjungannya yang jarang ke luar negeri. Presiden China sekaligus pemimpin Partai Komunis, Xi Jinping, kemudian membalas kunjungan tersebut dengan mendatangi Pyongyang pada Juni tahun ini.
Dalam jangka pendek, perdagangan diperkirakan tidak akan langsung melonjak tajam karena Beijing akan tetap mempertimbangkan kepentingan Pyongyang, menurut laporan terbaru Gyubeom Kim, pakar di Institut Strategi Keamanan Nasional Korea Selatan. Meski demikian, ekspor Korea Utara ke China, seperti barang olahan, produk makanan, kosmetik, dan minuman beralkohol, berpotensi meningkat, kata Kim.
Jembatan Sungai Yalu ini mulai beroperasi sekitar sebulan setelah pembukaan jembatan jalan pertama yang menghubungkan Rusia dan Korea Utara melintasi Sungai Tumen.
Editor: Hani Anggraini
Tonton juga video "Detik-detik Jembatan di Nepal Roboh-Hanyut Diterjang Banjir Bandang!"
(nvc/nvc)









































