Paus Leo XIV menjalani operasi pada Selasa (13/10) untuk mengangkat sebuah nodul di paru-parunya yang kemudian dipastikan sebagai kanker, hal tersebut disampaikan Vatikan lewat sebuah pernyataan. Vatikan juga menyatakan bahwa paus "terbangun secara normal" setelah prosedur tersebut.
"Prosedur berjalan sukses, sesuai perkiraan waktu dan sebagaimana direncanakan," kata Vatikan dalam pernyataan singkat.
Leo meninggalkan Vatikan menjelang operasi, sesaat sebelum pukul 13.00 waktu Roma. Ia terlihat melambaikan tangan dari kursi belakang SUV hitam saat iring-iringannya menempuh perjalanan sekitar 9 kilometer ke utara dari Vatikan menuju Rumah Sakit Gemelli, yang selama beberapa dekade menjadi pusat perawatan utama bagi para paus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setibanya di rumah sakit, Leo berjabat tangan dengan sejumlah pejabat, berjalan melewati kerumunan warga yang menunggu untuk memberikan dukungan, beberapa di antaranya meneriakkan "Auguri", yang berarti "semoga berhasil", sebelum memasuki gedung melalui pintu utama.
Kanker paru yang berhasil terdeteksi sejak dini
Leo, yang dipilih oleh para kardinal dunia pada Mei 2025, tergolong relatif muda untuk seorang pemimpin Gereja Katolik. Ia dikenal gemar berolahraga, termasuk bermain tenis, serta tidak diketahui sebagai perokok maupun memiliki masalah kesehatan serius dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam buletin medisnya, Vatikan menyatakan bahwa lobus bawah paru-paru kanan Leo telah diangkat dan ia didiagnosis menderita adenokarsinoma paru, salah satu bentuk kanker paru-paru yang umum. Paru-paru manusia memiliki lima lobus, yaitu tiga di paru-paru kanan dan dua di paru-paru kiri.
Dokter bedah utama paus, Stefano Margaritora, bersama dokter pribadinya, Luigi Carbone, menyatakan bahwa prosedur tersebut berlangsung sekitar 90 menit dan berhasil dilakukan tanpa komplikasi. Paus Leo diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk pulih.
"Untuk memastikan prosedur ini bersifat kuratif, lobus bawah paru-paru kanan diangkat menggunakan teknik bedah minimal invasif dengan bantuan kamera," kata tim bedah paus, yang juga menegaskan bahwa tujuan operasi adalah untuk menghilangkan seluruh jaringan kanker.
Vatikan mengatakan diagnosis tersebut telah dicurigai melalui pemeriksaan sebelum operasi dan kemudian dikonfirmasi selama tindakan bedah berlangsung.
Menurut para ahli onkologi, prognosis Leo sangat baik karena nodul kanker tersebut terdeteksi pada tahap yang sangat dini.
Seorang sumber Vatikan yang dikutip kantor berita AFP mengatakan pemeriksaan lanjutan masih dilakukan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain.
Pernah terkena demam tifoid saat menjadi pastor muda di Peru
Leo, yang lahir di Chicago, AS, pada 1955 dengan nama Robert Prevost, menghabiskan puluhan tahun sebagai misionaris dan uskup di Peru sebelum terpilih menjadi paus. Pada 1985, saat masih menjadi pastor muda, ia terserang demam tifoid di Chulucanas, Peru, dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Ia menceritakan pengalaman tersebut dalam satu-satunya wawancara panjang yang ia berikan sebagai paus, yang diterbitkan dalam sebuah buku oleh Penguin Peru.
Leo mengatakan rasa sakit yang ia alami saat itu begitu hebat hingga ia memohon kepada Tuhan agar diizinkan meninggal daripada terus menderita. Ia menganggap keselamatannya sebagai tanda dari Tuhan bahwa, "Kami masih membutuhkanmu di sini (di dunia)," ujarnya.
Perubahan dalam transparansi seorang paus
Leo yang kini berusia 71 tahun mengungkapkan masalah kesehatannya kepada ribuan umat dalam sebuah ibadat doa pada Minggu (11/10) . Langkah itu menandai perubahan mencolok dalam tingkat keterbukaan mengenai kesehatan paus dibandingkan para pendahulunya.
Di masa lalu, Vatikan kerap dikritik karena mengeluarkan pernyataan yang membingungkan atau sangat minim informasi terkait kesehatan paus, bahkan terkadang tidak mengungkapkannya sama sekali.
Seluruh agenda kepausan telah dibatalkan hingga 20 Oktober. Namun, Leo masih diperkirakan akan melanjutkan rencana kunjungan ke Amerika Selatan pada November mendatang.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Pratama Indra
Editor: Muhammad Hanafi










































