Seorang pria terluka setelah ditembak oleh agen Immigration and Customs Enforcement (ICE), lembaga penegakan imigrasi dan bea cukai AS, saat proses penangkapan di New York, Amerika Serikat, pada Kamis (08/10).
Insiden itu terjadi di kawasan Marble Hill, Manhattan, sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Peristiwa ini kian memicu perdebatan terkait operasi ICE yang dianggap semakin gencar dijalankan pemerintahan Donald Trump.
Menurut Kepolisian New York (NYPD), petugas mereka tidak terlibat dalam penembakan tersebut. Korban dilaporkan dalam kondisi sadar dan tengah menjalani perawatan di rumah sakit terdekat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump kian meningkatkan operasi ICE di sejumlah kota besar AS untuk menangkap dan mendeportasi orang-orang yang dianggap berada di AS secara ilegal.
Rekaman warga ungkap detik-detik setelah kejadian
Seorang pegawai restoran di dekat lokasi, Pedro Almaraz, mengaku mendengar tiga hingga empat kali letusan senjata sebelum melihat seorang pria tergeletak di jalan.
Menurutnya, korban saat itu dikelilingi sejumlah petugas yang mengenakan rompi dan atribut Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS).
Sejumlah video dan foto yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang pria duduk di jalan dengan tangan berada di belakang punggungnya sesaat setelah penembakan terjadi.
Video lain menunjukkan petugas NYPD mengangkat pria yang tampak terluka ke dalam kendaraan polisi.
Sementara itu, sebuah mobil yang mengalami kerusakan terlihat menghalangi jalan di sekitar lokasi kejadian. Dalam beberapa rekaman juga tampak agen yang mengenakan identitas ICE, termasuk seorang petugas yang membawa senapan.
Warga protes minta ICE hentikan operasi
Tak lama setelah penembakan, sejumlah demonstran berkumpul di lokasi sambil meneriakkan seruan agar ICE menghentikan operasinya di lingkungan mereka.
Massa kemudian bergerak menuju rumah sakit tempat korban dirawat. Sebagian pengunjuk rasa sempat memblokir akses menuju rumah sakit.
Situasi memanas ketika polisi memasang barikade untuk memastikan ambulans dan kendaraan lain tetap bisa melintas. Beberapa demonstran dilaporkan mendorong pagar pembatas dan melempar botol air ke arah petugas.
Polisi melakukan sejumlah penangkapan selama aksi berlangsung.
Sejumlah pejabat di New York kecam penembakan
Wali Kota New York Zohran Mamdani mengecam keras insiden tersebut dan mengatakan telah menghubungi Presiden Trump.
Menurut Mamdani, seorang anak berusia lima tahun berada di dalam kendaraan saat penembakan terjadi. Meski demikian, anak tersebut dilaporkan tidak mengalami luka fisik.
Dalam unggahannya di X, Mamdani menyebut insiden itu sebagai situasi yang "sangat serius dan tidak dapat diterima."
Ia menegaskan akan meminta Trump menghentikan seluruh operasi penegakan ICE di New York, "Saya tidak akan tinggal diam ketika agen ICE meneror komunitas kami," tulis Mamdani.
Gubernur New York Kathy Hochul juga meminta pemerintah federal memberikan penjelasan yang transparan mengenai kronologi dan alasan di balik insiden tersebut.
"Warga New York berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa hal itu bisa terjadi," katanya.
Kecaman serupa datang dari sejumlah politisi lokal yang mendatangi lokasi kejadian. Anggota Dewan Kota New York Carmen De La Rosa menyatakan dirinya "terpukul dan marah" atas insiden tersebut.
Pemerintah federal klaim korban punya catatan kriminal
Dalam sebuah unggahan di X, DHS mengonfirmasi bahwa seorang "petugas ICE melepaskan tembakan" saat berupaya menangkap seorang "alien kriminal ilegal asal Republik Dominika" yang memiliki hubungan "dengan geng Trinitarios."
DHS menyatakan bahwa pria tersebut sebelumnya pernah divonis dalam kasus pencurian berat (grand larceny) dan telah ditangkap "berkali-kali" atas tuduhan penyerangan, perampokan, kepemilikan narkoba, serta kepemilikan senjata.
DHS menyatakan para agen langsung memberikan pertolongan pertama setelah korban terluka.
Biro Investigasi Federal (FBI) juga dilaporkan telah berada di lokasi untuk membantu penyelidikan.
Menambah panjang daftar kontroversi
Insiden penembakan yang melibatkan petugas ICE maupun US Border Patrol, lembaga patroli perbatasan Amerika Serikat, kembali memicu kontroversi selama masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.
Perdebatan terutama berpusat pada penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat serta sistem pelatihan dan pengawasan terhadap para agen.
Pada Januari lalu, seorang agen ICE menembak mati Renee Good, warga negara AS berusia 37 tahun, dalam sebuah operasi di Minneapolis. Peristiwa tersebut memicu gelombang demonstrasi besar tak hanya di kota itu, tapi juga sejumlah wilayah lain di AS.
Masih pada bulan yang sama, warga AS lainnya, Alex Pretti, tewas setelah terlibat konfrontasi dengan dua petugas Customs and Border Protection (CBP), badan cukai dan penjaga perbatasan AS di Minneapolis.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz
Editor: Adelia Dinda Sani
Tonton juga video "Baku Tembak di Maybrat Papua, 3 Anggota OPM Tewas"
(nvc/nvc)









































