Otoritas Arab Saudi pada Rabu (7/10) menyatakan tiga orang tewas dalam serangan yang menargetkan dua bandara internasional, termasuk di ibu kota Riyadh, setelah kelompok Houthi di Yaman mengaku melancarkan serangan terhadap kedua infrastruktur vital.
Kelompok Houthi yang didukung Iran dalam beberapa pekan terakhir mengklaim berada di balik serangkaian serangan terhadap infrastruktur sipil Arab Saudi. Gelombang serangan terjadi ketika pasukan yang didukung Riyadh meningkatkan operasi balasan untuk merebut wilayah yang dikuasai Houthi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu juga menyebut lebih dari 200 ribu orang telah mengungsi di dalam Yaman sejak perang saudara kembali memanas pada Juli lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Houthi mengaku menyerang bandara utama Riyadh, sementara koalisi militer pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional berjanji akan melakukan pembalasan.
Kelompok itu kemudian mengklaim kembali menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Kamis (8/10) dan mengulangi peringatan mereka, yang disebut sebagai "peringatan terakhir", kepada maskapai penerbangan agar menghindari wilayah udara Saudi.
"Pada Selasa dan Rabu, Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid menjadi sasaran serangan yang menargetkan fasilitas mereka," kata otoritas penerbangan sipil Arab Saudi dalam sebuah pernyataan.
Menurut otoritas tersebut, seorang warga Mesir dan seorang warga Aljazair tewas di Bandara Abha. Sementara itu, seorang warga Sudan tewas di Bandara King Khalid di Riyadh.
Serangan itu juga menyebabkan 36 orang mengalami luka-luka.
Serangan balasan Saudi
Dalam pernyataan lanjutan, koalisi pimpinan Arab Saudi secara langsung menyalahkan gerilyawan Houthi dan menegaskan akan memberikan respons.
"Serangan brutal Milisi Teroris Houthi terhadap warga sipil dan objek sipil di Kerajaan Arab Saudi, termasuk yang terbaru yang menargetkan dua bandara tersebut, tidak akan dibiarkan tanpa hukuman," demikian pernyataan koalisi yang dipublikasikan melalui platform X.
Koalisi menyatakan telah membalas serangan itu dengan menggempur 82 "target militer yang sah", termasuk fasilitas rudal, pusat komando, sistem komunikasi, dan lokasi konsentrasi pasukan Houthi.
Pemerintah Yaman pekan ini mengumumkan ofensif besar terhadap Houthi dan mengklaim berhasil memukul mundur kelompok itu dari sejumlah kawasan strategis di pesisir Laut Merah serta kota pelabuhan Mocha.
Namun Houthi bersikeras bahwa mereka masih mempertahankan wilayah-wilayah tersebut. Sumber militer dari kedua kubu yang dihubungi AFP juga tidak melaporkan perubahan besar di garis depan.
Klaim masing-masing pihak sejauh ini belum dapat diverifikasi secara independen karena situasi di lapangan terus berubah cepat dan akses jurnalis ke wilayah konflik sangat terbatas.
Penerbangan dialihkan
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan pada Rabu (7/10) bahwa kelompoknya menargetkan bandara di Riyadh melalui serangan yang disebutnya "akurat" dan menyebabkan gangguan terhadap lalu lintas penerbangan.
Koalisi pimpinan Arab Saudi kemudian menyatakan telah "menghancurkan peluncur rudal balistik" yang digunakan dalam serangan tersebut.
Houthi juga mengaku menyerang konvoi logistik militer di dekat Bandara Aden, ibu kota sementara pemerintahan Yaman.
Kantor berita pemerintah Yaman, Saba, melaporkan bahwa rudal dan drone menargetkan bandara itu.
Mengutip otoritas transportasi, Saba menyebut salah satu rudal jatuh di dekat landasan pacu beberapa menit sebelum kedatangan pesawat dari Kairo. Demi alasan keamanan, penerbangan tersebut dialihkan ke Jeddah, Arab Saudi.
Menurut Saree, drone dan rudal Houthi juga menargetkan Bandara Abha serta Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait. Ia mengklaim seluruh sasaran berhasil dihantam dengan tepat.
Ini merupakan kali kedua dalam sepekan Houthi mengaku menyerang bandara utama Riyadh.
Warga sipil dilanda ketakutan
Arab Saudi memimpin koalisi internasional yang memerangi Houthi sejak 2015 dan kini berupaya membalikkan kemajuan terbaru kelompok itu di medan tempur.
Koalisi menyatakan pada Senin bahwa mereka memberikan dukungan udara untuk ofensif balasan yang dilancarkan pemerintah Yaman.
Setelah gencatan senjata yang berlangsung selama empat tahun, Houthi bulan lalu mengklaim telah menguasai seluruh garis pantai barat Yaman di sepanjang Laut Merah. Pertempuran yang menyertai klaim tersebut disebut sebagai yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
Bentrokan baru pada Rabu di wilayah barat Yaman menewaskan sedikitnya 62 kombatan, termasuk 37 anggota Houthi, menurut sumber militer dari kedua pihak yang diwawancarai AFP.
Saba juga melaporkan sebuah rudal Houthi melukai lima warga sipil di Taiz, kota yang masih berada di bawah kendali pemerintah.
"Kami keluar ke jalan untuk memeriksa para korban dan melihat anak-anak muda sipil yang terkena serangan," kata seorang warga Taiz, Al-Fateh al-Eisaei, kepada AFP.
"Proyektil Houthi itu jatuh tepat di tengah jalan, di kawasan yang dipadati warga sipil."
Pemerintah Yaman telah menyatakan targetnya adalah merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai Houthi, daerah yang menjadi tempat tinggal sebagian besar penduduk negara itu dan telah berada di bawah kendali kelompok tersebut selama lebih dari satu dekade.
Krisis kemanusiaan yang dipicu perang berkepanjangan membuat sebagian besar penduduk Yaman bergantung pada bantuan internasional.
Mohammed, pekerja kemanusiaan berusia 33 tahun yang melarikan diri dari Mocha ke Aden, mengatakan warga setempat hidup dalam ketakutan.
"Orang-orang di sana sangat ketakutan terhadap Houthi," ujarnya.
Suriah pertimbangkan bantuan militer untuk Arab Saudi
Di tengah meningkatnya intensitas perang di Yaman, Suriah dilaporkan tengah mempertimbangkan kemungkinan memberikan bantuan militer kepada sekutunya. Informasi itu disampaikan seorang pejabat Amerika Serikat dan seorang pejabat militer Suriah yang mengetahui pembahasan tersebut.
Menurut kedua sumber, sejumlah opsi tengah dibahas, mulai dari bantuan pertahanan untuk melindungi Saudi dari serangan, hingga kemungkinan pengerahan pasukan guna membantu tentara Yaman yang didukung Riyadh melawan Houthi.
Pejabat Amerika Serikat itu mengatakan Arab Saudi telah meminta Suriah mengirim pasukan untuk menghadapi Houthi. Namun klaim tersebut dibantah penasihat media Presiden Suriah, Ahmad Zaidan, melalui unggahan di platform X setelah laporan itu terbit.
Menanggapi permintaan komentar yang diajukan kepada Kementerian Luar Negeri Suriah, seorang diplomat Suriah mengatakan negaranya berdiri bersama Saudi dalam menghadapi serangan Houthi. Meski demikian, pemerintah Suriah saat ini tetap memprioritaskan agenda domestik, terutama pemulihan pasca-perang saudara.
"Apabila Arab Saudi meminta kerja sama militer atau pertukaran keahlian, hal itu hanya akan dilakukan melalui jalur resmi dan dalam kerangka perjanjian bilateral yang mengatur hubungan kedua negara persaudaraan ini," kata diplomat tersebut.
Kantor media pemerintah Arab Saudi dan Menteri Informasi Yaman tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Arab Saudi kini aktif mencari dukungan dari berbagai pihak, mulai dari Amerika Serikat, negara-negara Eropa hingga kawasan Timur Tengah, baik untuk memperkuat pertahanan maupun mendukung operasi ofensif dalam perang yang kembali berkobar setelah serangkaian serangan rudal dan drone Houthi terhadap wilayah kerajaan.
Editor: Ayu Purwaningsih
Tonton juga video "Dua Bandara Arab Saudi Diserang Houthi, PBB Buka Suara"
(nvc/nvc)









































