Eksekusi Mati di AS Gagal, Picu Keraguan soal Metode Suntik Mati

Eksekusi Mati di AS Gagal, Picu Keraguan soal Metode Suntik Mati

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 05 Okt 2026 09:44 WIB
Gedung Mahkamah Agung Amerika Serikat (Susan Walsh/AP Photo/dpa/picture alliance)
Gedung Mahkamah Agung Amerika Serikat (Susan Walsh/AP Photo/dpa/picture alliance)
Tennessee -

Selama tiga puluh tahun, Christa Pike, kini 50 tahun, hidup di balik dinding penjara Riverbend, Tennessee, Amerika Serikat.

Pada 1996, dia divonis mati karena membunuh seorang teman sekolahnya. Ketika itu usianya baru 18 tahun. Selama tiga dekade, kematian bagi Christa menjadi semacam tanggal yang terus ditunda.

Kini tanggal itu tiba. Eksekusinya dijadwalkan berlangsung pada malam 30 September 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa yang terjadi dalam eksekusi?

Namun, apa yang kemudian terjadi digambarkan perwakilan media dan pengacara sebagai proses yang kacau dan menyakitkan. Pemerintah Tennessee menggunakan protokol yang relatif baru dengan memberikan overdosis obat penenang kuat pentobarbital. Setelah obat disuntikkan, Christa tetap sadar dan mengeluhkan rasa sakit hebat pada lengannya. Petugas penjara kemudian memberikan dosis kedua. Terpidana mati itu kembali selamat.

Karena surat perintah eksekusi secara hukum berakhir pada tengah malam, pihak penjara akhirnya harus menghentikan eksekusi secara resmi. Christa Pike dibawa ke rumah sakit. Kondisi terakhirnya belum diketahui secara pasti.

ADVERTISEMENT

Gubernur Tennessee dari Partai Republik, Bill Lee, sontak menghentikan semua rencana eksekusi yang telah dijadwalkan di negara bagiannya sepanjang 2026. Dia juga memerintahkan penyelidikan menyeluruh dan independen atas insiden tersebut. Kasus ini kembali memicu perdebatan mengenai keampuhan sekaligus potensi kekejaman metode suntik mati.

Di mana hukuman mati masih berlaku di AS?

Pada 2026, hukuman mati masih tercantum dalam undang-undang di 27 negara bagian Amerika Serikat, selain berlaku pada tingkat federal dan militer. Dalam praktiknya, hanya beberapa negara bagian yang masih aktif melaksanakan eksekusi. Lebih dari separuh eksekusi pada 2026 berlangsung di Florida. Negara bagian lain yang juga melakukan eksekusi adalah Texas, Oklahoma, Alabama, Tennessee, dan Arizona.

Sebanyak 23 negara bagian serta Washington, D.C., telah menghapus hukuman mati. Di empat negara bagian lain, California, Ohio, Oregon, dan Pennsylvania, berlaku moratorium secara de facto, atau penghentian pelaksanaan. Di sejumlah negara bagian lain, seperti Kansas dan Wyoming, hukuman mati masih tercantum dalam undang-undang, tetapi sudah tidak dilaksanakan selama puluhan tahun.

Bagaimana eksekusi dilakukan?

Suntik mati merupakan metode utama yang digunakan di banyak negara bagian AS. Seluruh 30 eksekusi mati sepanjang tahun ini dilaksanakan dengan metode suntik, baik dengan pentobarbital maupun campuran beberapa obat.

Namun, secara statistik, suntik mati merupakan metode eksekusi yang paling rentan mengalami kegagalan. Sekitar 7 persen percobaan eksekusi dinilai bermasalah dan komplikasi serius berulang kali terjadi. Bergantung pada negara bagian, metode lain juga diperbolehkan secara hukum, antara lain eksekusi dengan gas dan kursi listrik. Regu tembak juga masih diperbolehkan di lima negara bagian dan pada tingkat federal.

Mengapa komplikasi terus terjadi?

Organisasi profesi dokter resmi, seperti American Medical Association, melarang anggotanya terlibat dalam pelaksanaan eksekusi. Karena itu, penyuntikan obat kerap dilakukan oleh petugas penjara yang hanya memiliki pelatihan medis terbatas. Tidak heran, petugas tercatat acap kesulitan menemukan akses ke pembuluh darah yang sesuai. Dalam sejumlah kasus, eksekusi akhirnya harus dihentikan.

Pentobarbital juga menjadi pusat perdebatan sengit di Amerika Serikat. Obat yang awalnya dikembangkan sebagai obat tidur, penenang, atau antiepilepsi itu kini digunakan dalam dosis sangat tinggi dalam eksekusi untuk melumpuhkan sistem saraf pusat dan pernapasan. Namun, komplikasi serius dalam hal dosis dan penggunaannya telah berulang kali terjadi.

Siapa yang pasok obat eksekusi?

Persoalannya berawal dari sikap hampir seluruh perusahaan farmasi Eropa dan Amerika Serikat yang menolak keras penggunaan produk mereka untuk hukuman mati. Uni Eropa juga menerapkan pengawasan ketat terhadap ekspor obat-obatan yang dapat digunakan dalam suntik mati.

Karena penjara-penjara Amerika Serikat tidak lagi dapat memperoleh pentobarbital melalui pasar reguler. Sebabnya, pemerintah harus membeli dari apotek peracikan alias compounding pharmacies yang berhak memproduksi obat secara terbatas, tanpa pengawasan ketat.

Di Amerika Serikat, obat-obatan pada umumnya diperiksa secara ketat oleh badan pengawas obat dan makanan, FDA, terkait kemurnian, efektivitas, dan sterilitas. Namun, apotek peracikan berada di bawah pengawasan negara bagian yang jauh lebih longgar.

Untuk melindungi apotek dari protes, boikot, atau kehilangan pelanggan reguler, sejumlah negara bagian mengeluarkan undang-undang yang melarang pengungkapan identitas apotek tersebut. Akibatnya, siapa yang memasok obat untuk eksekusi kerap tidak diketahui publik, pengacara para terpidana, bahkan pengadilan.

Apa masalah dalam proses peracikan obat?

Masalahnya, akibat aksi boikot perusahaan farmasi besar, apotek-apotek tersebut kerap harus membeli bahan kimia pengganti yang belum cukup teruji, untuk membuat pentobarbital dari sumber luar negeri yang lebih tidak dapat diandalkan. Larutan untuk suntik mati kemudian diracik sendiri di laboratorium dalam konsentrasi tinggi.

Jika bahan kimia yang digunakan tercemar, sudah terlalu lama, atau memiliki takaran yang keliru, obat yang diracik dapat menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan pada terpidana, bukannya membuatnya tidak sadar tanpa rasa sakit.

Serangkaian komplikasi yang terus muncul dalam pelaksanaan eksekusi turut mendorong pemerintahan Amerika Serikat di bawah Joe Biden memberlakukan moratorium pelaksanaan hukuman mati di tingkat federal dan memerintahkan peninjauan terhadap prosedur yang digunakan. Salah satu tindakan pertama Presiden Donald Trump setelah terpilih kembali adalah mencabut moratorium tersebut. Langkah itu kembali memanaskan perdebatan.

Apa kritik terhadap suntik mati?

Organisasi hak asasi manusia telah lama menolak hukuman mati secara keseluruhan, termasuk penggunaan suntik mati. Kritik terhadap metode yang disebut-sebut lebih "manusiawi" tersebut semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut jajak pendapat Gallup pada Juni 2026, proporsi warga Amerika yang menganggap hukuman mati dapat diterima secara moral turun ke titik terendah sepanjang sejarah, yakni 52 persen.

Ahli anestesi yang diakui, Joel Zivot dari Emory University School of Medicine di Atlanta, telah meneliti sejumlah laporan autopsi setelah eksekusi. Pada 2024, dia memberikan kesaksian di pengadilan federal Amerika Serikat di Kansas.

"Kematian dengan metode ini lebih menyerupai tenggelam dalam darah sendiri daripada tertidur," katanya.

Kritik serupa juga datang dari Death Penalty Information Center (DPIC). Dalam laporan pada Juni 2026, lembaga itu menyatakan bahwa setiap negara bagian yang masih melaksanakan hukuman mati kini memiliki undang-undang yang melindungi informasi penting mengenai eksekusi, termasuk asal obat untuk suntik mati, identitas anggota tim eksekusi, dan pelatihan mereka.

Akibatnya, publik, menurut laporan tersebut, "dihadapkan pada lebih banyak pertanyaan daripada jawaban mengenai bagaimana pejabat yang dipilih menggunakan uang pajak untuk menjalankan hukuman paling berat ini."

Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Lihat juga Video: Putri Eksekusi Mati Debt Collector Sukabumi, 48 Adegan Diperagakan

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini