Di Tengah Krisis, PM Inggris Cetuskan Perubahan Arah Politik

Di Tengah Krisis, PM Inggris Cetuskan Perubahan Arah Politik

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 01 Okt 2026 13:23 WIB
Dalam pidatonya, Andy Burnham merujuk pada pemerintahan Partai Buruh pascaperang di bawah Clement Attlee, yang dianggap sebagai salah satu pemerintahan Labour paling populer (Temilade Adelaja/REUTERS)
Dalam pidatonya, Andy Burnham merujuk pada pemerintahan Partai Buruh pascaperang di bawah Clement Attlee, yang dianggap sebagai salah satu pemerintahan Labour paling populer (Temilade Adelaja/REUTERS)
London -

Perdana Menteri Kerajaan Serikat Britania Raya dan Irlandia Utara atau Inggris, Andy Burnham, menyerukan perubahan arah politik Inggris saat berbicara dalam konferensi Partai Buruh di kota kelahirannya, Liverpool. Burnham, yang baru beberapa bulan menjabat setelah menggantikan Keir Starmer, mengatakan pemerintahannya ingin memulihkan harapan sekaligus mengakhiri "politik seperti biasa".

Namun, ambisi tersebut datang ketika pemerintah menghadapi persoalan ekonomi dan politik yang kompleks. Sebagai perdana menteri Inggris ketujuh dalam satu dekade, Burnham harus menyeimbangkan sejumlah target fiskal yang tampak saling bertentangan: memperkuat pertumbuhan ekonomi, mengurangi tekanan biaya hidup, melindungi pensiun dan membuat biaya perawatan lebih terjangkau, memperbaiki infrastruktur yang menua, sekaligus meningkatkan belanja militer secara signifikan.

Pada saat yang sama, Partai Buruh menghadapi tantangan dari kelompok populis di kanan, seperti Reform UK dan Restore Britain, serta Partai Hijau di kiri. Tekanan politik tersebut datang setelah Partai Buruh mengalami kekalahan besar dalam pemilu lokal dan regional pada Mei, yang pada akhirnya turut mengakhiri masa jabatan pendahulu Burnham, Keir Starmer.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Burnham, yang sebelumnya menjabat sebagai wali kota Manchester sebelum menduduki jabatan politik tertinggi di Inggris, mengatakan bahwa persoalan-persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan dengan mempertahankan pendekatan yang sama.

"Kita tidak bisa terus berjalan seperti sekarang. Politik seperti biasa telah membawa Inggris mundur," kata Burnham. "Melakukan lebih banyak hal yang sama tidaklah cukup dan tidak akan membawa kita ke tempat yang kita tuju."

ADVERTISEMENT

Slogan utama konferensi Partai Buruh, "harapan kembali", menurut Burnham harus disertai pembicaraan yang lebih jujur mengenai kondisi Inggris.

"Harapan berasal dari kejujuran … dan mengatakan hal-hal yang biasanya dihindari para politisi," ujarnya.

Untuk menjelaskan arah yang ingin ia ambil, Burnham merujuk pada pemerintahan Partai Buruh pascaperang di bawah Clement Attlee. Pemerintahan tersebut antara lain dikenal karena mendirikan National Health Service (NHS). Menurut Burnham, pemerintahan Attlee telah "membangun perdamaian" demi kepentingan publik.

Namun, ia menilai arah tersebut kemudian hilang sejak era 1980-an, ketika ia masih muda dan Margaret Thatcher memimpin pemerintahan yang didominasi Partai Konservatif.

"Saya akan mengatakannya secara langsung, Inggris telah berada di jalur yang salah selama waktu yang lama. Deindustrialisasi, deregulasi, privatisasi, penghematan anggaran, Brexit, dan apa yang kita dapatkan? Sebuah negara yang dijalankan untuk kepentingan kelompok tertentu, bukan untuk kepentingan publik, dengan kekuasaan yang terkonsentrasi di terlalu sedikit tangan dan terlalu banyak wilayah dibiarkan terpuruk," kata Burnham.

Ia mengatakan pemerintahannya akan menghadapi "persoalan-persoalan sulit yang terlalu lama diabaikan". Isu yang disebutnya mencakup perawatan sosial, tingginya pengangguran kaum muda, serta peningkatan kendali publik atas sektor-sektor yang sebelumnya dinasionalisasi, seperti energi, air, dan perumahan.

Burnham juga menyinggung isu kendali politik yang menjadi tema penting dalam perdebatan mengenai Brexit.

"Kelompok kanan Inggris berbicara tentang 'mengambil kembali kendali'," kata Burnham, merujuk pada slogan kampanye Brexit 2016. "Jangan pernah lupa bahwa merekalah yang menyerahkan kendali itu sejak awal!"

Mengapa Burnham dan Inggris berada dalam posisi sulit?

Ketika mulai berkuasa, Burnham mengatakan ingin menjadikan masa pemerintahannya sebagai "pemutus siklus bagi Inggris" setelah bertahun-tahun menghadapi kenaikan harga dan pertumbuhan ekonomi yang lemah.

Sejumlah kebijakan baru segera diperkenalkan, termasuk pembatasan tarif bus, penghapusan sementara pajak pertambahan nilai (PPN) dari tagihan listrik di tengah perang Iran, serta upaya untuk mengakhiri masalah tunawisma yang tidur di jalan.

Namun, para pengkritik menilai strategi besar Burnham masih minim perincian dan berpotensi tidak layak secara ekonomi.

Ruang geraknya juga dibatasi sejumlah faktor. Di antaranya adalah janji kampanye Partai Buruh pada pemilu 2024 di bawah kepemimpinan Starmer, kondisi keuangan publik Inggris yang tertekan, serta pasar utang yang tiba-tiba menjadi lebih berhati-hati dan belakangan mulai memberikan tekanan terhadap sebagian besar negara maju.

Tekanan tersebut tercermin dari biaya pinjaman pemerintah Inggris. Pada pagi hari ketika Burnham menyampaikan pidatonya, biaya pinjaman mencapai level tertinggi dalam 10 tahun, sementara pemerintah tengah mempertimbangkan sejumlah rencana belanja besar.

Janji 'Sistem Perawatan Nasional' dan reformasi pemilu

Keterbatasan ruang fiskal juga terlihat dari keputusan Burnham menunda target untuk menyusun rencana reformasi sistem perawatan sosial Inggris.

Pada Selasa (30/9), ia mengatakan "Sistem Perawatan Nasional" akan diajukan sebelum pemilu berikutnya, yang saat ini dijadwalkan berlangsung pada 2029. Menurut Burnham, perubahan tersebut akan "sama signifikannya" bagi Inggris seperti pendirian NHS yang didanai negara. Ia juga menilai sistem baru tersebut penting untuk memastikan keberlangsungan NHS secara lebih luas.

Burnham menegaskan bahwa rencana tersebut akan "sepenuhnya didanai, dan bukan melalui utang".

Ia mengakui reformasi tersebut tidak akan mudah. "Saya mungkin harus membayar harga politik," katanya. Namun, Burnham menilai langkah tersebut diperlukan dan merupakan bentuk kepemimpinan yang telah ia janjikan kepada Partai Buruh ketika berupaya menggantikan Starmer pada musim panas ini.

Persoalan ekonomi tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya tekanan politik terhadap Partai Buruh. Tantangan datang dari Reform UK yang anti-imigrasi di sayap kanan, Partai Hijau di sayap kiri yang mengklaim memiliki solusi bagi persoalan ekonomi, serta partai-partai nasionalis di Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara yang mendorong kemerdekaan dari Inggris.

Karena itu, Burnham juga menyerukan kerja sama lintas partai. Menjelang akhir pidatonya, ia mengatakan akan berupaya membangun konsensus seluas mungkin dengan partai-partai politik lain untuk mendukung rencananya.

Ia sekaligus mengumumkan pembentukan "komisi nasional baru mengenai reformasi pemilu" dan mengundang semua partai lain untuk berkontribusi dalam proses tersebut.

Burnham mengatakan Partai Buruh akan mengikuti pemilu 2029 dengan platform reformasi sistem pemilu Inggris sehingga "setiap suara memiliki arti". Gagasan tersebut telah berulang kali didorong anggota Partai Buruh melalui pemungutan suara dalam konferensi partai pada tahun-tahun sebelumnya.

Selama beberapa dekade, pemerintahan Partai Buruh dan Konservatif tidak menyentuh sistem pemilu first-past-the-post, yang menggunakan prinsip pemenang mengambil seluruh kursi di daerah pemilihan. Kedua partai tersebut merupakan penerima manfaat utama dari sistem tersebut.

Apa reaksi publik terhadap visi Burnham?

Di Liverpool, pesan Burnham tampaknya mendapat perhatian. Paul James, seorang sopir taksi dan anggota serikat pekerja dari Manchester, mengatakan ia pernah bertemu Burnham ketika menjabat sebagai wali kota Manchester dan mempercayainya.

"Dia tidak pernah mengatakan bisa melakukan sesuatu jika memang tidak bisa melakukannya," kata James.

Ia berharap perdana menteri baru tersebut memprioritaskan pembangunan rumah yang dikelola pemerintah daerah, sebagaimana kembali dijanjikan Burnham dalam pidatonya.

Jajak pendapat Luke Tryl merangkum salah satu hal yang menurutnya menjadi kekuatan Burnham: "Orang-orang merasa dia memahami mereka," yakni memahami kekhawatiran mereka.

Sementara itu, Stephen Kinsella dari kelompok advokasi Patriotic Millionaires berharap Burnham akan memusatkan perhatian pada pajak kekayaan. Belum ada rencana konkret untuk menaikkan pajak bagi kelompok berpenghasilan tinggi. Namun, rencana ambisius Burnham, termasuk "memperbaiki sistem perawatan sosial yang rusak", akan membutuhkan dana tambahan.

"Dia menyampaikan rasa optimisme, perasaan bahwa sebagai sebuah negara kita bisa melakukan sesuatu," tambah Kinsella.

Ia juga berharap Burnham membawa Inggris lebih dekat dengan Eropa. Pandangan serupa turut disampaikan dalam sejumlah pertemuan di sela-sela konferensi.

Ann Webster, seorang kepala sekolah dari Leicester, berbicara mengenai percakapan yang ia lakukan dengan komunitasnya yang memilih Brexit.

"Orang-orang tidak bodoh, mereka menyadari bahwa mereka menjadi lebih miskin setelah Brexit," katanya.

Burnham sendiri mengakui dalam pidatonya bahwa "Brexit tidak memberi kita kendali, Brexit telah menimbulkan lebih banyak kerugian daripada manfaat".

Ia berjanji membangun konsensus mengenai hubungan baru dengan Eropa, meski tidak menjelaskan lebih jauh seperti apa bentuk hubungan tersebut.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha

Simak juga Video: Kata-kata Manis Trump Agar Inggris Buka Ladang Minyak Laut Utara

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini