Perselisihan di tengah jalan raya di Gurugram, kota di pinggiran New Delhi, menjadi viral pekan lalu setelah seorang perempuan pengendara sepeda motor berusia 27 tahun diduga dikejar dan ditabrak sebuah mobil.
Kedua pihak memberikan keterangan berbeda mengenai awal perselisihan. Kepada media India, pengemudi mobil mengatakan rombongan pengendara sepeda motor menyalip kendaraannya, lalu memperlambat laju di depannya.
Sementara itu, Shivani Chauhan, perempuan yang mengendarai sepeda motor tersebut, mengatakan mobil itu terus membuntutinya. Menurut Chauhan, cekcok bermula ketika ia meminta orang-orang di dalam mobil menjaga jarak aman.
Rekaman kamera yang terpasang di sepeda motor Chauhan memperlihatkan mobil tersebut menabraknya dari samping, lalu melaju meninggalkan lokasi. Chauhan terjatuh dan terguling di jalan.
"Saya bisa saja mengalami patah tulang parah atau luka dalam, bahkan meninggal. Orang-orang seperti itu membuat jalanan Gurugram dan Delhi terasa tidak aman," kata Chauhan, seperti dikutip sejumlah media India.
Menurut pemberitaan media, pengemudi mobil mengaku kehilangan kendali atas kendaraannya. Ia juga mengaku meninggalkan lokasi karena takut mendapat serangan balasan dari rombongan pengendara sepeda motor tersebut. Polisi kemudian menangkapnya atas sejumlah dugaan tindak pidana, termasuk percobaan pembunuhan dan penguntitan.
Dari cekcok hingga tabrakan dan tembakan
Kasus Chauhan menjadi contoh terbaru betapa cepatnya perselisihan di jalan raya India yang semakin padat berubah menjadi kekerasan.
Pada Maret lalu di Hassan, negara bagian Karnataka, India selatan, sejumlah pemuda dilaporkan meneriaki pengemudi SUV Toyota Fortuner agar memperlambat laju kendaraannya.
Menurut polisi, pengemudi itu justru berbalik arah dan menabrak kelompok tersebut. Satu orang tewas dan tiga lainnya terluka parah.
Pada bulan yang sama, di Kota Dehradun, India bagian utara, perselisihan antara pengendara dua SUV, Toyota Fortuner dan Mahindra Scorpio, mengenai siapa yang harus memberi jalan berujung aksi kejar-kejaran dan penembakan.
Insiden itu menewaskan Mukesh Joshi, seorang pensiunan perwira Angkatan Darat berpangkat brigadir yang tidak terlibat dalam perselisihan awal.
"Orang-orang di dalam mobil Scorpio menunggu di luar klub hingga dini hari, lalu mengejar Fortuner. Saat penembakan terjadi, sang brigadir yang sedang berjalan kaki pada pagi hari terkena peluru di dada," kata pejabat senior kepolisian Pramendra Dobhal.
Kekhawatiran terhadap keselamatan di jalan mendorong pemerintah Daman, sebuah kota kecil di pesisir utara Mumbai, mengambil langkah tak biasa. Pada 9 September, pejabat setempat mengumpulkan para pemilik SUV Mahindra Thar dan Toyota Fortuner untuk mengucapkan ikrar keselamatan berlalu lintas secara publik.
Saurabh Mishra, pejabat tertinggi pemerintahan distrik tersebut, memperingatkan bahwa kendaraan berukuran besar seperti itu tidak boleh digunakan untuk mengintimidasi orang lain atau memamerkan kekuasaan.
Kendaraan bertambah, jalan kian sesak
Jalan raya India dikenal berbahaya. Data pemerintah menunjukkan, rata-rata 485 orang meninggal setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas pada 2024. Data tersebut juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan jumlah kendaraan kini jauh melampaui perluasan jaringan jalan.
Menurut data industri, sekitar 2,63 juta SUV terjual di India dalam periode 12 bulan hingga Maret 2026. Jumlah itu mencakup 56% dari seluruh penjualan mobil di negara tersebut.
Bertambahnya SUV di jalan memang tidak serta-merta berarti semakin banyak orang mengemudi secara agresif. Namun, ukuran dan tinggi kendaraan, serta kesan yang ditimbulkannya, dapat mempengaruhi jalannya perselisihan di jalan.
"Bagi sebagian pengemudi, kendaraan itu menjadi sarana untuk menunjukkan kekuatan dan dominasi," kata mantan perwira polisi Yashovardhan Azad kepada DW.
"Mereka mengemudi seolah kebal hukum untuk menunjukkan kuasa kepada pengendara kendaraan yang lebih kecil," ujar Azad.
Ia menyerukan penegakan hukum yang lebih tegas dengan memanfaatkan teknologi baru, pemberian hukuman berat, serta program nasional untuk mendorong perilaku berkendara yang lebih aman.
"Menabrak kendaraan yang lebih kecil dengan sengaja bukan sekadar mengemudi ugal-ugalan. Itu menunjukkan adanya niat melakukan kejahatan," katanya.
Di balik kemudi SUV, merasa kuat dan kebal
Pakar keselamatan jalan sekaligus pendiri Community Against Drunken Driving, Prince Singhal, menilai persoalan ini berkaitan dengan kendaraan maupun perilaku pengemudinya.
"Teror yang melibatkan SUV bukan sekadar persoalan lalu lintas, tetapi juga masalah perilaku," kata Singhal kepada DW.
"Pengemudi SUV memegang kendali atas seekor 'binatang buas &rsquo, dan pola pikir merekalah yang menentukan bagaimana akhirnya."
Menurut Singhal, SUV memang menjadi pilihan praktis untuk menghadapi jalan rusak dan menempuh perjalanan jauh. Namun, desain kendaraan ini juga membawa risiko tersendiri.
"Kap mesin dan bemper yang lebih tinggi meningkatkan risiko cedera fatal pada kepala dan dada pejalan kaki, anak-anak, pesepeda, serta pengguna jalan lainnya dibandingkan mobil biasa yang lebih rendah," ujarnya.
Singhal mengatakan, saat mengendarai SUV, pengemudi kerap merasakan "sensasi psikologis seolah tak terkalahkan". Perasaan ini dapat mendorong perilaku agresif, intimidasi terhadap pengguna jalan lain, dan pelanggaran aturan.
Ketika persoalan lalu lintas dianggap serangan pribadi
Psikiater Ravi Prakash, yang meneliti perilaku berlalu lintas di Veditha Mind Care Clinic di Bengaluru, sependapat. Menurutnya, pengemudi "merasa kuat sekaligus terlindungi di dalam kendaraan yang besar dan kokoh".
Namun, ia mengingatkan bahwa ada persoalan psikologis lain yang turut berperan.
"Ada fenomena psikologis yang disebut 'personalisasi', ketika seseorang menafsirkan tindakan biasa dari orang yang tidak dikenalnya sebagai sesuatu yang ditujukan secara pribadi kepadanya," kata Prakash kepada DW.
Seseorang yang memotong jalur mungkin sedang terburu-buru. Namun, pengemudi lain bisa menganggap tindakan itu sebagai upaya menunjukkan siapa yang lebih berkuasa. Perasaan dihina kemudian dapat mengusik harga diri dan memicu lonjakan amarah.
"Biasanya, menyakiti orang lain bukanlah tujuan awal," ujar Prakash.
Mula-mula, pengemudi berusaha menunjukkan dominasinya dengan mengebut, membunyikan klakson, memberi isyarat, atau berteriak. Ketika cara itu tidak berhasil, keinginan untuk menghukum bisa muncul. Prakash menyebutnya sebagai "ilusi keadilan melalui pembalasan".
Sosiolog: Perilaku yang dibiarkan bisa menjadi budaya
Sosiolog Dipankar Gupta menilai amarah di jalan raya terjadi "karena aturan lalu lintas tidak ditegakkan secara tegas". Persoalan ini pun tidak terbatas pada pengemudi SUV.
"Pengendara sepeda motor juga terlibat dalam perselisihan di jalan," katanya kepada DW.
"Ini seperti anak yang tidak didisiplinkan, lalu mengamuk," ujar Gupta, menggambarkan lemahnya kedisiplinan berlalu lintas secara lebih luas. Ketika aturan terus diabaikan dan orang enggan menanggung konsekuensinya, menurut Gupta, situasinya menjadi seperti "adu jotos" di sekolah.
Namun, dengan keberadaan kamera di mana-mana, perilaku semacam itu kini semakin sulit luput dari perhatian.
"Kemarahan itu bukan hal baru. Yang berubah adalah sekarang semua orang punya kamera, baik kamera dasbor, kamera di helm, maupun ponsel," kata Deepanshu Gupta, salah satu pendiri organisasi nirlaba keselamatan jalan CrashFree India, kepada DW.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa merekam kejadian tidak sama dengan mencegahnya.
"Setiap pengemudi tahu bahwa kemungkinan mereka benar-benar harus menanggung konsekuensi sangat kecil," ujarnya.
"Apa pun yang terus dibiarkan akan menjadi budaya. Mengemudi secara agresif dianggap biasa di sini, tetapi budaya bisa berubah melalui penegakan hukum," kata Deepanshu Gupta.
Ia juga menjelaskan bahwa India belum mengatur perilaku agresif di jalan raya sebagai tindak pelanggaran tersendiri. Akibatnya, polisi harus memilih antara ketentuan tentang mengemudi ugal-ugalan dan tuduhan yang jauh lebih berat, seperti percobaan pembunuhan.
"Hampir tidak ada pilihan di antara keduanya," katanya.
Dalam kondisi seperti ini, pengemudi memikul tanggung jawab besar, terutama ketika kendaraan berukuran besar terlibat perselisihan dengan pengguna jalan yang lebih rentan.
"Semakin besar kendaraan yang Anda bawa ke jalan, semakin besar pula tanggung jawab Anda untuk menjaga keselamatan pengguna jalan lain," ujarnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu
Editor: Tezar Aditya Rahman
Lihat juga Video: Detik-detik Bus Tabrak Mobil yang Sedang Isi BBM di India
(nvc/nvc)