Jejak Perdagangan Ilegal dari Satwa Langka di India

Jejak Perdagangan Ilegal dari Satwa Langka di India

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 18 Sep 2026 15:22 WIB
Orangutan di alam liar hanya berasal dari pulau Sumatra di Indonesia dan Kalimantan. Orangutan muda ini ditemukan di sebuah hutan di India (Odisha Forest Department/AFP)
Orangutan di alam liar hanya berasal dari pulau Sumatra di Indonesia dan Kalimantan. Orangutan muda ini ditemukan di sebuah hutan di India (Odisha Forest Department/AFP)
New Delhi -

Lima bayi orangutan ditemukan di sebuah hutan di distrik Balasore, negara bagian Odisha, India timur, pekan lalu. Satwa yang habitat alaminya berada di Sumatra dan Kalimantan itu ditemukan petugas kehutanan saat berpatroli.

Kementerian Kehutanan Indonesia meminta otoritas India menyelidiki asal-usul orangutan berbulu kemerahan tersebut dan memulangkannya jika terbukti berasal dari Indonesia.

Temuan ini tentunya memunculkan satu pertanyaan: bagaimana satwa eksotis tersebut masuk ke India? Bagaimana negara tersebut menjadi bagian dari jalur perdagangan ilegal satwa liar?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jejak perjalanan lima bayi orangutan

Penemuan lima bayi orangutan tersebut lantas menimbulkan kebingungan.

"Penemuan di pesisir timur India ini cukup membingungkan. Kasus ini mirip dengan kejadian beberapa tahun lalu, ketika sejumlah kanguru hidup ditemukan berkeliaran di jalan raya di Benggala Barat," kata Kanitha Krishnasamy, Direktur TRAFFIC untuk Asia Tenggara, jaringan pemantau perdagangan satwa liar, kepada DW.

ADVERTISEMENT

"Apa yang dilakukan orangutan di India? Apakah mereka diselundupkan dari negara asalnya, Malaysia atau Indonesia, atau berasal dari sebuah fasilitas?" tanyanya.

Pemerintah Odisha kemudian meminta Biro Pengendalian Kejahatan Satwa Liar menyelidiki bagaimana satwa yang statusnya terancam punah tersebut bisa sampai ke wilayah itu.

"Hewan-hewan ini tidak ditemukan di India dan sebagian besar hidup di hutan hujan Malaysia, Indonesia, Kalimantan, dan Sumatra di Asia Tenggara," kata Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Odisha, Ganesh Ram Singh Khuntia.

"Kami menduga sindikat penyelundupan satwa liar internasional mungkin telah melepaskan mereka di hutan distrik Balasore."

Otoritas India menyita ular piton, burung beo, dan kura-kura raksasa

Orangutan menjadi satwa terbaru dalam serangkaian temuan satwa liar eksotis di India.

Pada November 2024, otoritas di Bengaluru menyita 40 satwa langka yang tiba dari Kuala Lumpur, Malaysia. Di antaranya ada kura-kura raksasa Aldabra, owa, buaya Amerika, dan iguana.

Kemudian pada Juni 2025, Bea Cukai Mumbai menyita 284 satwa eksotis dalam empat kiriman dari Bangkok, Thailand, yang meliputi ular dan kura-kura.

Sebulan berselang, petugas bea cukai di Pune menyita 20 satwa eksotis dari penumpang yang tiba dari Bangkok. Petugas menemukan 14 piton pohon hijau, empat burung nuri ara bermata ganda, dan dua kelinci belang Sumatra.

Ribuan satwa hasil perdagangan ilegal ditemukan di India

Data TRAFFIC mencatat ada 7.272 satwa, baik hidup maupun mati, disita dari bagasi penumpang dalam upaya penyelundupan antara Thailand dan India sepanjang Januari 2022 hingga Mei 2025. Lebih dari 80 persen penyitaan terjadi di India.

Satwa yang ditemukan beragam, mulai dari reptil, burung, hingga mamalia. Banyak di antaranya diduga akan diperdagangkan sebagai hewan peliharaan eksotis.

"Kami menemukan ratusan spesies dan ribuan satwa yang diperdagangkan secara ilegal ke India melalui jalur udara dan darat. Situasinya berubah drastis sejak sekitar 2020," kata peneliti dan praktisi konservasi Uttara Mendiratta kepada DW.

"Baik volume perdagangan ilegal maupun jumlah spesies yang terlibat, banyak di antaranya terancam punah, sungguh mengejutkan."

Penyelundupan satwa meningkat, penegakan hukum tertinggal?

Menurut TRAFFIC, India dan Malaysia menjadi dua negara yang paling banyak teridentifikasi dalam rantai perdagangan ilegal owa pada 2025, dengan pergerakan satwa dari Malaysia menuju India.

Trishala Ashok, pembuat film konservasi dan komunikator sains, mengatakan skala perdagangan tersebut masih sulit dipastikan.

"Sistem penegakan hukum kita belum berkembang secepat perdagangan ini," kata Ashok kepada DW. "Kita masih menangani kasus satu per satu, alih-alih memetakan jaringan, penyandang dana, pemasok, dan pembeli di baliknya."

Tito Joseph dari Wildlife Protection Society of India mengatakan situasinya semakin memburuk.

"Penyelundupan spesies eksotis memang selalu ada di India," kata Joseph kepada DW.

Namun, menurut Joseph, praktik tersebut meningkat signifikan sejak 2018. Ia mencatat sejumlah rute penyelundupan, mulai dari Myanmar melalui wilayah timur laut India menuju bagian lain negara itu, hingga jalur dari Bangladesh ke India. Sementara melalui jalur udara, Thailand dan Malaysia menjadi sumber utama satwa liar yang diselundupkan.

Satwa eksotis juga masuk melalui perbatasan darat di wilayah timur laut India, tidak hanya melalui bandara.

"Yang baru adalah banyaknya satwa liar hidup yang masuk. Ada indikasi bahwa sejumlah pedagang yang sebelumnya terlibat dalam penyelundupan hewan hidup seperti kura-kura bintang, kini juga terlibat dalam pengadaan satwa liar eksotis lainnya," kata Mendiratta.

Ketika media sosial jadi pasar satwa ilegal

Analisis Humane World for Animals India pada Juni 2026 menyebut permintaan terhadap satwa eksotis didorong oleh meningkatnya minat memelihara hewan eksotis serta keberadaan pasar digital yang minim pengawasan.

"Secara global, platform media sosial turut mendorong dan memfasilitasi perdagangan ilegal satwa liar dengan menjadi ruang bagi orang-orang untuk memamerkan koleksi hewan mereka," kata ahli biologi satwa liar dan ilmuwan konservasi Ravi Chellam kepada DW. "Platform ini juga menjadi pasar daring yang memungkinkan perdagangan ilegal berkembang pesat."

"Masalah ini semakin rumit dengan adanya koleksi pribadi yang sangat besar, berisi satwa dari berbagai belahan dunia, milik orang-orang kaya dan terkenal," kata Chellam.

Melacak asal-usul satwa juga semakin sulit setelah satwa tersebut melewati beberapa negara.

"Penyitaan tidak boleh menjadi akhir dari penyelidikan. Itu seharusnya menjadi awal," kata pembuat film konservasi Trishala Ashok.

"Siapa yang memasok hewan-hewan itu? Siapa yang mengatur pergerakannya? Siapa yang membayarnya? Siapa yang menunggunya?" tanyanya. "Selama kita belum mulai menelusuri jejak-jejak tersebut, kita akan terus menyita kiriman tanpa membongkar jaringan di baliknya."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Levie Wardana

Editor: Adelia Dinda Sani

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini