Akankah Sekolah di China Hapus Bahasa Inggris dari Mata Pelajaran Pokok?

Akankah Sekolah di China Hapus Bahasa Inggris dari Mata Pelajaran Pokok?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 11 Sep 2026 15:19 WIB
Akankah Sekolah di China Hapus Bahasa Inggris dari Mata Pelajaran Pokok?
Jakarta -

Mulai dari ekonomi dan sains hingga media sosial dan hiburan, bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa yang dominan di dunia. Satu dari lima penduduk dunia secara aktif menggunakan bahasa ini. Di Cina, seorang profesor matematika dengan spesialisasi aljabar vektor mempertanyakan dominasi bahasa asing tersebut. Tang Jiafeng berpendapat bahwa bahasa Inggris harusnya dihapuskan dari mata pelajaran pokok di sekolah dasar, sekolah menengah, dan universitas di Republik Rakyat Cina.

Tang yakin bahwa tidak ada negara lain di dunia yang sejauh ini memberikan nilai setinggi itu kepada bahasa Inggris seperti yang dilakukan Cina. "Anak-anak kita kesulitan belajar bahasa Inggris, bahkan sebelum mereka benar-benar menguasai bahasa ibu mereka sendiri. Padahal, kita adalah peradaban yang telah berusia ribuan tahun. Bahasa Inggris hanyalah sebuah alat. Cukup jika kita bisa menggunakannya. Tradisi memuja dan meniru budaya Barat harus diakhiri," jelas profesor matematika tersebut.

Bahasa Inggris, mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD

Bahasa Inggris memang dianggap sulit, karena bahasa Mandarin bukanlah bahasa yang menggunakan sistem huruf. Di Cina, bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib mulai kelas 3. Mata pelajaran ini dinilai setara dengan mata pelajaran bahasa Mandarin dan matematika dalam ujian masuk sekolah menengah, ujian nasional smp, serta ujian akhir sma. Pada ujian akhir sekolah menengah atas, nilai maksimal yang dapat diraih adalah 150 poin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berapa banyak sumber daya dan waktu yang diinvestasikan oleh anak-anak kita, orang tua, dan sekolah ke dalam mata pelajaran yang bagi sebagian besar orang sama sekali tidak relevan bagi kehidupan profesional mereka?" demikian ujar sang ahli matematika tersebut menjelaskan pandangannya. Namanya sang profesor menjadi tersohor setelah membuat banyak mahasiswa meraih nilai sempurna dalam ujian matematika nasional. Untuk mahasiswa angkatan 2011 saja, ada enam orang dari satu kelas yang meraih nilai sempurna.

"AI yang menerjemahkan"

Pendapat Tang dengan cepat menyebar di internet. "Mengapa harus menghafal bahasa Inggris,jika Kecerdasan Buatan (AI)bisa menerjemahkan semuanya dalam hitungan detik?" komentar seorang warganet asal Beijing. Usulan lain dari warganet provinsi Guangdong adalah dengan menyesuaikan poin penilaian, misalnya cukup 120 poin maksimal bukan 150 poin, pada ujian akhir SMA.

ADVERTISEMENT

Banyak orang tua menginvestasikan dana untuk les privat yang khusus belajar soal-soal ujian. Selain itu, semua mahasiswa sarjana harus lulus ujian bahasa Inggris untuk dapat diterima di program magister. Tang menduga bahwa hal ini dapat menyebabkan banyak ilmuwan muda berbakat di bidang sains gagal, meskipun mereka memiliki potensi tinggi untuk menjadi peneliti terkemuka.

Tanpa kemampuan bahasa Inggris, tidak ada daya saing

Tidak diragukan lagi bahwa bahasa Inggris juga penting untuk mata pelajaran MINT (singkatan bahasa Inggris untuk Matematika, Informatika, Ilmu pengetahuan alam, dan Teknologi). Dalam penelitian mengenai tema-tema futuristik, hasil studi biasanya diterbitkan dalam bahasa Inggris. Pengurangan jam pelajaran bahasa Inggris dapat menyebabkan menurunnya daya saing Cina, demikian kekhawatiran yang beredar di internet. Salah satu pendukung bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib adalah Hu Xijin, mantan pemimpin redaksi surat kabar milik negara "Global Times", yang kerap dikenal karena pernyataan-pernyataan nasionalisnya.

Hu menekankan bahwa penguasaan bahasa asing sangat penting bagi setiap orang di dunia, "Karena kita terutama hidup di masa kini," sembari menyinggung perdebatan tentang ujian sejarah di Cina yang tidak diperhitungkan dalam skor akhir.

"Masa kini ini ditandai oleh globalisasi. Pembukaan diri Cina bukan hanya kebijakan negara, tetapi juga memperluas ruang gerak masyarakat serta jangkauan kepentingan hidup mereka yang beragam, baik material maupun non-material," jelas Hu.

Oleh karena itu, hubungan dengan dunia luar tidak dapat disamakan dengan ikatan intelektual sejarah masa lalu, lanjut Hu. "Memaksakan pertentangan antara bahasa asing dan budaya tradisional Cina dengan memaksakan pertanyaan mana yang lebih penting, berisiko menetapkan prioritas yang salah dan mempolitisasi diskusi publik secara tidak perlu," tegas mantan pimred tersebut.

Bagi Hu keterbukaan dalam berinteraksi dengan dunia luar merupakan prioritas utama. Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pokok akan meningkatkan kesempatan. Anak-anak di daerah pedesaan pun mendapatkan akses ke bahasa asing yang penting serta akses ke dunia global.

Studi bahasa kurang diminati

Universitas-universitas Cina yang dengan jurusan khusus bahasa asing mendapat tekanan untuk menyesuaikan tujuan pendidikannya dan mempersiapkan mahasiswanya agar siap menghadapi pasar kerja di masa depan.

Contohnya, semakin sedikit lulusan SMA yang tertarik mempelajari atau mengambil studi bahasa Jerman, demikian dijelaskan seorang dosen dari Beijing dengan identitas anonim kepada DW. Oleh karena itu, kurikulum baru Universitas Studi Luar Negeri Beijing mengadopsi model "bahasa asing dengan penjurusan studi" misalnya bahasa Inggris dikombinasikan dengan ilmu hukum, teknologi informasi, atau ilmu ekonomi.

Perdebatan serupa pernah terjadi dalam Gerakan Penguatan Dinasti Qing, dinasti kekaisaran Cina terakhir, pada akhir abad ke-19. "Pelajarilah keunggulan dari luar negeri agar kelak dapat mengungguli mereka," kata Wei Yuan, seorang cendekiawan istana pada masa itu. Belajar dari luar negeri memang lebih efektif jika menggunakan bahasa yang digunakan di sana.

Meskipun kini dalam beberapa bidang, terlihat negara-negara lain yang justru belajar dari Cina, seperti teknologi baterai untuk industri otomotif hingga robotika humanoid.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

Tonton juga video "Prabowo Ingin Bahasa Mandarin hingga Prancis Diajarkan Sejak Kelas 1 SD"

(ita/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini