Pemakaman Ratko Mladic yang difasilitasi negara di Beograd pekan ini memunculkan pertanyaan mendesak di Brussel: bagaimana jika sebuah calon negara anggota Uni Eropa ikut mengagungkan seorang penjahat perang layaknya pahlawan? Bagi banyak pihak, kasus Mladic menunjukkan bahwa proses keanggotaan Serbia bukan cuma mandek, tapi juga tidak lagi punya cukup dukungan politik.
"Sudah terlalu lama Uni Eropa memperlakukan Serbia sebagai kandidat yang normal," kata Engjellushe Morina dari European Council on Foreign Relations kepada DW, meski Belgrade terus mengalami kemunduran dalam demokrasi dan penegakan hukum.
Naim Leo Besiri dari Institute for European Affairs Serbia menambahkan: "Selama lima tahun terakhir, pemerintahan yang berkuasa di Serbia tidak menjalankan apa pun yang telah dijanjikan dalam agenda reformasi."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjauh dari Eropa
Kedua pakar menunjuk pada penolakan Beograd untuk bergabung dalam sanksi Uni Eropa terhadap Rusia. Standar demokrasi juga merosot di bawah Presiden nasionalis Aleksandar Vucic, sementara hubungan dengan Kosovo tetap tegang.
Ratko Mladic yang telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan PBB atas genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang, dimakamkan di Beograd pada Senin (8/9) dengan penghormatan militer dan dihadiri perwakilan pemerintah. Presiden Vucic tidak ikut serta, tetapi memfasilitasi pengiriman jenazah dan pemakaman, serta membela prosesi perkabungan di ruang publik.
Brussel bereaksi dengan nada keras. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut peran pemerintah Serbia dalam pemakaman Mladic mengejutkan. Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengecam glorifikasi penjahat perang. Komisaris Perluasan Keanggotaan Marta Kos bahkan membatalkan kunjungannya ke Serbia.
Uni Eropa terlalu lunak?
Namun, bagi Morina dan Besiri, respons UE belum cukup. Keduanya menilai Vucic telah terlalu lama diberi ruang untuk bermain mata dengan Rusia. Dalam pandangan mereka, Vucic selama ini dianggap sebagai mitra utama untuk menjaga stabilitas Balkan Barat dan mempertahankan Serbia tetap berpihak ke Barat, meski mengabaikan nilai-nilai dasar Eropa.
Besiri mengatakan, organisasi sipil Serbia telah bertahun-tahun memperingatkan Brussel terhadap memburuknya situasi kebebasan media, supremasi hukum, dan institusi demokrasi. Namun, menurutnya, Uni Eropa sebagian besar menutup mata.
Hubungan ekonomi menunjukkan kuatnya ikatan Uni Eropa dan Serbia. Uni Eropa merupakan mitra dagang, investor, dan donor keuangan terbesar bagi Serbia. Secara politik, bagaimanapun, Serbia justru membangun kemitraan erat dengan Moskow.
Karena itu, salah satu alasan yang kerap dikemukakan untuk mempertahankan hubungan dengan Serbia adalah kekhawatiran bahwa tekanan yang lebih besar justru akan mendorong Beograd semakin dekat dengan Rusia atau Cina.
Berpadu dengan Moskow
Morina mengakui bahwa mengisolasi Serbia akan berbahaya. Namun, menurut dia, ada pilihan lain antara terus berkompromi dan meninggalkan hubungan sama sekali. Uni Eropa harus tetap terlibat dengan masyarakat Serbia, sembari memaksa Vucic membuat pilihan politik yang jelas, katanya.
Besiri mengatakan Rusia dan Cina tidak akan pernah bisa menggantikan pasar Eropa. Menurut dia, Vucic menggunakan kedua negara itu sebagai ancaman untuk mencegah Brussel mengambil tindakan yang lebih tegas.
Kedua peneliti melihat adanya strategi di balik pendekatan saat ini: Vucic memperoleh keuntungan dari kerja sama tanpa menjalankan reformasi yang diperlukan. Sementara itu, Brussel dapat terus mengklaim bahwa Serbia masih terikat dengan Eropa.
Batas tekanan finansial
Uni Eropa tidak sepenuhnya pasif. Brussel mulai memberikan tekanan finansial. Pembayaran lanjutan melalui Growth Plan untuk Balkan Barat ditahan karena kekhawatiran mengenai independensi peradilan.
Besiri meragukan langkah itu akan mengubah perhitungan politik Vucic. Pemotongan dana secara luas, menurut dia, justru dapat lebih merugikan masyarakat daripada elite politik. Dia mendorong langkah yang lebih terarah terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kemunduran demokrasi dan penyalahgunaan institusi negara.
Bisakah pemilu bawa perubahan?
Pemilu parlemen awal pada 25 Oktober dapat menguji strategi politik Vucic. Setelah 12 tahun menjabat sebagai presiden, dia ingin tetap mendominasi politik Serbia dengan menjadi perdana menteri berikutnya.
Besiri mengatakan oposisi di Serbia masih rapuh. "Sangat sulit menang secara demokratis dalam pemilu yang tidak demokratis."
Tak satu pun dari kedua pakar berharap satu pemilu dapat memulihkan institusi Serbia atau mengubah secara mendasar hubungannya dengan Uni Eropa.
Rekonsiliasi masih jauh
Rekonsiliasi di kawasan itu tampaknya bahkan lebih jauh. Menurut Besiri, Serbia harus terlebih dahulu mengakui perannya dalam perang pada 1990-an dan menerima fakta-fakta yang telah ditetapkan mengenai kejahatan yang terjadi. Sebaliknya, narasi yang menempatkan orang Serbia semata-mata sebagai korban masih mengakar kuat dalam politik, pendidikan, dan media Serbia.
"Apa yang terjadi belakangan ini pada dasarnya merupakan kebalikan dari semua yang telah dibangun selama bertahun-tahun," kata Morina.
Pemakaman Mladic, tambahnya, bukan penyebab perkembangan tersebut. Peristiwa itu hanya kembali menunjukkan betapa jauhnya Serbia saat ini dari rekonsiliasi kawasan maupun keanggotaan Uni Eropa.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid
Lihat juga Video 'Sungai Danube Mengering, Bangkai Kapal Jerman Era Hitler Bermunculan':










































