Iran Perkuat Kendali Atas Ruang Sosial, Termasuk Kafe

Iran Perkuat Kendali Atas Ruang Sosial, Termasuk Kafe

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 11 Sep 2026 10:37 WIB
Iran Perkuat Kendali Atas Ruang Sosial, Termasuk Kafe
Jakarta -

Dalam beberapa bulan terakhir, aparat Iran memperketat pengawasan terhadap kafe-kafe di ibu kota Teheran. Mereka dicurigai menjadi tempat tumbuhnya sentimen anti-pemerintah dan memfasilitasi aksi protes.

Menurut organisasi hak asasi manusia HRANA, sedikitnya tujuh kafe dan restoran ditutup pada 19 Juli saja karena diduga melanggar aturan wajib hijab.

Sebelumnya, sejumlah media, termasuk Javan, surat kabar yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menyebut kafe sebagai "tempat berkumpul para demonstran" yang dinilai mengancam "keamanan nasional".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terbaru, kafe-kafe "Vanak Park" di Teheran disegel. Sedikitnya 200 orang kehilangan pekerjaan akibat penutupan tersebut.

Pengetatan terhadap ruang sosial

Aparat meyakini kafe, karena keberadaannya yang luas dan popularitasnya, dapat berperan dalam mengorganisasi aksi protes massal.

ADVERTISEMENT

Kekhawatiran pemerintah berakar pada gelombang protes terbaru di Iran yang dimulai pada 28 Desember 2025 dan berkembang menjadi pemberontakan terbesar di negara itu sejak Revolusi Islam 1979.

Saediniya, jaringan kafe ternama dengan 10 cabang di Iran, menutup seluruh cabangnya pada hari itu sebagai bentuk dukungan terhadap seruan mogok. Kafe tersebut kemudian dituduh melakukan "propaganda melawan negara".

Mahkamah Agung Iran kini menguatkan vonis terhadap Sadegh Saedinia, pemilik jaringan kafe tersebut, berupa hukuman 12 tahun 6 bulan penjara serta penyitaan aset.

Dia ditangkap karena mendukung aksi protes. Seluruh cabang jaringan kafenya juga disita dan ditutup atas perintah pengadilan.

Kafe lain, termasuk "Lamiz" dan "Voria", mengalami nasib serupa. Voria dimiliki pesepak bola Iran ternama. Keduanya disegel atas perintah pengadilan karena dianggap secara tidak langsung mendukung seruan untuk berunjuk rasa. Namun, penutupan kafe tidak hanya terjadi saat aksi protes berlangsung. Praktik itu terus berlanjut.

Maraknya budaya kafe

Jumlah kafe di Teheran meningkat pesat dalam satu dekade terakhir, dari sekitar 300 pada awal 2010-an menjadi sebanyak 4.000 saat ini, menurut berbagai perkiraan.

Sejumlah pakar mengaitkan pertumbuhan itu dengan perubahan gaya hidup perkotaan dalam beberapa tahun terakhir. Mereka melihatnya bukan sekadar pertumbuhan jenis usaha tertentu, melainkan tanda perubahan sosial dan budaya yang lebih luas dalam masyarakat Iran.

"Pertumbuhan kafe yang begitu pesat di tengah masyarakat, sampai batas tertentu, dapat dilihat sebagai respons sosial terhadap kehidupan dalam krisis yang berkepanjangan," kata Saba Alaleh, psikolog klinis dan psikoanalis yang meneliti persoalan politik dan sosial, kepada layanan DW berbahasa Persia.

"Dalam situasi seperti itu, orang tidak sekadar mencari tempat untuk mengonsumsi sesuatu atau bersenang-senang. Mereka mencari ruang untuk sejenak menjauh dari tekanan kehidupan sehari-hari," ujarnya.

"Dalam pengertian ini, kafe menjadi ruang ketiga. Ia bukan rumah dan bukan tempat kerja, melainkan ruang di antara keduanya. Di sana, orang dapat sejenak melepaskan diri dari peran dan tekanan sehari-hari, berhubungan dengan orang lain, dan merasakan bahwa hidup masih dapat dijalani secara wajar dan normal."

Tren kafe terutama populer di kalangan Generasi Z, yang menanggung dampak terberat dari inflasi yang tak terkendali dan tingginya biaya hidup di Iran.

"Anak-anak muda yang berkumpul di kafe ini tidak selalu berasal dari keluarga berada," kata Nasser, pemilik kafe di Teheran, kepada DW. "Di banyak kawasan Teheran, anak muda dari kelas menengah juga bertemu di kafe. Banyak pelanggan kami berasal dari kelompok ini."

Kopi rasa politik

Bahkan sebelum gelombang protes nasional terbaru yang dimulai pada akhir tahun lalu, penutupan kafe sudah menjadi praktik yang lazim dilakukan pemerintah Iran.

Namun, sebagian besar penertiban dan penutupan itu dilakukan dengan dalih menegakkan aturan wajib hijab.

Protes yang dimulai pada akhir Desember 2025 mengubah keadaan. Kafe semakin sering menjadi sasaran, dengan beragam alasan.

"Mereka menutup kafe kami dengan alasan kami melayani pelanggan yang tidak mengenakan hijab. Tetapi itu hanya dalih," kata Nasser.

"Di luar sana, di jalan-jalan Teheran, perempuan dan anak perempuan praktis sudah meninggalkan hijab wajib. Tetapi pemerintah mengharapkan kami tidak mengizinkan mereka masuk ke kafe," tambahnya.

Mempertahankan kendali atas ruang sosial

Menurut Alaleh, persoalannya kini bukan lagi semata-mata penertiban terhadap perempuan yang tidak mengenakan hijab.

"Pemerintah otoriter pada umumnya berusaha mengendalikan arus informasi, interaksi sosial, dan pengorganisasian warga," ujarnya. "Setiap ruang di luar pengawasan langsung penguasa yang memungkinkan tumbuhnya kepercayaan, dialog, dan ikatan sosial dapat melemahkan sebagian monopoli pemerintah atas ruang sosial."

Menurut pakar tersebut, penertiban terhadap kafe dan pengunjungnya merupakan bagian dari upaya pemerintah mempertahankan monopoli atas ruang sosial.

Dia menegaskan bahwa bagi aparat keamanan, sekelompok anak muda yang duduk bersama secara santai pun dapat dilihat sebagai munculnya jaringan sosial independen di luar struktur kekuasaan formal.

"Semakin luas dan mengakar jaringan independen ini, semakin sulit bagi pemerintah mempertahankan kendali eksklusif atas ruang publik," kata Alaleh.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Simak juga Video 'Trump: Saya Tidak Percaya pada Kata Penyesalan':

(ita/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini