Salvo penghormatan 21 tembakan menggema di Oslo pada Rabu (09/09) siang waktu setempat ketika peti jenazah Raja Norwegia Harald V meninggalkan istana kerajaan menuju Katedral Lutheran di ibu kota negara tersebut.
Ribuan warga berjejer di sepanjang jalan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada sang raja. Kawasan pusat kota ditutup untuk kendaraan dan skuter listrik, sementara polisi mengimbau masyarakat untuk tidak membawa sepeda, payung, atau benda tajam.
Norwegia kemudian mengheningkan cipta selama satu menit sebagai tanda dimulainya upacara pemakaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prosesi dan pemakaman tersebut menandai berakhirnya masa berkabung nasional selama 13 hari setelah mangkatnya Raja Harald V.
Selama 35 tahun bertakhta, Harald memodernisasi monarki Norwegia. Namun, ia tidak mengikuti tren sejumlah penguasa monarki Eropa yang memilih turun takhta pada usia lanjut. Takhta kemudian diwariskan kepada putranya, Raja Haakon VIII.
"Ia mampu menyeimbangkan wibawa seorang kepala negara dengan sikap yang membumi," kata Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre dalam pidato penghormatannya. "Ia membuat Norwegia menjadi lebih besar. Ia berbicara tentang 'kita' di Norwegia, di mana setiap orang hadir untuk saling membantu."
Warga di seluruh Norwegia yang berpenduduk sekitar 5,6 juta jiwa juga menyaksikan prosesi tersebut. Menurut penyiar publik NRK, puluhan gereja, perpustakaan, pusat kebudayaan, dan balai kota menyediakan layar besar agar masyarakat dapat menyaksikan pemakaman bersama-sama.
Pemerintah menyatakan hari itu bukan hari libur nasional, tetapi sekolah dan tempat kerja diberi keleluasaan untuk mengizinkan siswa maupun karyawan menonton upacara tersebut.
Sebelum pemakaman berlangsung, warga Norwegia rela mengantre untuk memberikan penghormatan terakhir di depan peti jenazah Harald yang disemayamkan di kapel Istana Kerajaan. Pada akhir pekan, antrean sempat mencapai tujuh jam. Selama sepekan masa persemayaman, lebih dari 46.000 orang mengunjungi kapel tersebut.
"Cinta rakyat kepada Raja Harald tidak berakhir dengan kepergiannya, justru sebaliknya," ujar Uskup Olav Fykse Tveit, yang memimpin upacara pemakaman, merujuk pada berbagai penghormatan yang ditinggalkan warga di luar istana setelah sang raja wafat. "Lautan bunga, beserta pesan dan gambar yang menyertainya, menjadi bukti besarnya rasa hormat dan kasih sayang yang dimiliki masyarakat kepadanya."
Setelah upacara selesai, peti jenazah dipindahkan ke tempat peristirahatan terakhirnya di kapel Istana Kerajaan. Setelah itu, keluarga menggelar upacara tertutup yang hanya dihadiri kerabat dekat.
Siapa saja yang menghadiri pemakaman?
Pemakaman tersebut dihadiri kepala negara dan kepala pemerintahan dari berbagai negara. Di antaranya Pangeran William dan Putri Anne dari Inggris, Putra Mahkota Fumihito dan Putri Kiko dari Jepang, Raja Felipe dan Ratu Letizia dari Spanyol, serta anggota keluarga kerajaan Skandinavia dari Denmark dan Swedia.
Pemimpin lain seperti Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier juga turut hadir. Bendera di gedung-gedung pemerintahan Berlin bahkan dikibarkan setengah tiang untuk mengenang Harald, yang memimpin Norwegia selama 35 tahun.
Putra Harald V, Raja Haakon VIII, hadir bersama keluarganya, termasuk ibunya Ratu Sonja dan istrinya, Ratu Mette-Marit.
Di antara para pelayat yang hadir juga terdapat Marius Borg Høiby, putra sulung Ratu Mette-Marit dan anak tiri Raja Haakon VIII Høiby tidak memiliki gelar maupun tugas resmi dalam keluarga kerajaan. Namanya menjadi sorotan setelah mengajukan banding atas vonis pemerkosaan yang dijatuhkan dalam persidangan awal tahun ini, kasus yang membayangi keluarga kerajaan Norwegia.
Norwegia mempertahankan sistem monarki setelah meraih kemerdekaan dari Swedia pada 1905. Dalam referendum saat itu, sekitar tiga perempat pemilih mendukung keberlanjutan kerajaan.
Keluarga kerajaan Norwegia juga memiliki hubungan kekerabatan dengan sejumlah keluarga kerajaan Eropa. Harald V dan Haakon VIII merupakan kerabat Raja Charles III dari Inggris dan Raja Felipe VI dari Spanyol. Mereka sama-sama merupakan keturunan Ratu Victoria, penguasa Britania Raya dari 1837 hingga 1901.
Saat ini peran monarki di Norwegia sebagian besar bersifat simbolis. Kekuasaan politik berada di tangan pemerintah dan parlemen yang dipilih secara demokratis. Meski demikian, keluarga kerajaan tetap memainkan peran sebagai representasi penting Norwegia di panggung internasional.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Pratama Indra
Editor: Hani Anggraini
Simak Video 'Janji Raja Baru Norwegia yang Gantikan Mendiang Ayahnya Raja Harald V':
(ita/ita)









































