TOEFL dan GRE Dihentikan, Sanksi AS Hambat Pelajar Iran

TOEFL dan GRE Dihentikan, Sanksi AS Hambat Pelajar Iran

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 04 Sep 2026 08:27 WIB
TOEFL dan GRE Dihentikan, Sanksi AS Hambat Pelajar Iran
Jakarta -

Pelajar Iran yang berharap dapat melanjutkan studi ke luar negeri kini menghadapi kendala baru setelah ujian TOEFL* dan GRE* dihentikan di dalam negeri menyusul perubahan aturan sanksi Amerika Serikat (AS).

"Seluruh rencana saya bergantung pada ujian ini," kata seorang peserta TOEFL di Teheran kepada DW.

Ia mengatakan telah menghabiskan waktu berbulan-bulan mempersiapkan pendaftaran program Doktoral, menghubungi profesor, dan mengumpulkan berbagai dokumen, meski menghadapi gangguan internet dan berbagai tantangan lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ETS, organisasi yang berbasis di AS dan menyelenggarakan kedua ujian tersebut, mengumumkan penghentian ujian di Iran setelah Office of Foreign Assets Control (OFAC) Departemen Keuangan AS membekukan General License G, yang sebelumnya memungkinkan layanan pendidikan tertentu tetap berlangsung di Iran.

"Setelah OFAC menangguhkan General License G, ETS segera menghentikan penyelenggaraan ujian TOEFL dan GRE di Iran," kata organisasi tersebut dalam pemberitahuan resminya.

ETS menambahkan bahwa warga negara Iran masih dapat mengikuti ujian tersebut di luar Iran dan pihaknya sedang mencari cara untuk kembali menyelenggarakan ujian di Iran.

TOEFL merupakan tes kemampuan bahasa Inggris berbasis di AS yang diterima oleh universitas di seluruh dunia. Sementara itu, GRE adalah tes standar yang diwajibkan sejumlah program pascasarjana, terutama di AS dan Kanada.

Sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari 2026, AS semakin memperluas sanksi terhadap perdagangan dan ekspor Iran. Kebijakan tersebut turut memperparah berbagai gangguan terhadap perekonomian Iran.

Belum ada kepastian kapan ujian kembali digelar

Sebuah lembaga di Iran yang menyelenggarakan ujian TOEFL mengatakan kepada DW bahwa pendaftaran baru telah dihentikan setelah perubahan terbaru terkait sanksi.

Lembaga tersebut menambahkan bahwa penghentian ujian kemungkinan hanya sementara. Namun, belum ada tanggal kapan ujian akan kembali digelar.

Ketidakpastian ini menjadi persoalan serius bagi mahasiswa yang mendekati tenggat pendaftaran universitas dan beasiswa. Mereka telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk persiapan dan mengeluarkan biaya terkait pendaftaran.

Penghentian TOEFL terjadi setelah sebelumnya muncul masalah dengan penyelenggaraan IELTS di Iran, tes yang setara dengan TOEFL dari Inggris. Sebuah pusat IELTS di Teheran mengatakan kepada DW bahwa kesulitan terkait sanksi dalam melakukan transfer uang menjadi salah satu kendala utama untuk melanjutkan penyelenggaraan ujian.

Sebagian pelamar asal Iran sebelumnya telah bepergian ke negara-negara seperti Turki dan Armenia untuk mengikuti IELTS. Kini, peserta TOEFL dan GRE mungkin harus melakukan hal serupa.

Biaya pelamar semakin meningkat

Alireza, yang sedang mempersiapkan pendaftaran ke sebuah universitas di Italia, mengatakan penghentian TOEFL telah mengganggu rencana cadangan yang sebelumnya ia siapkan setelah ujian IELTS tidak lagi tersedia.

"Universitas-universitas Eropa biasanya menerima IELTS. Namun karena IELTS telah dihentikan di Iran, setelah berkomunikasi secara intensif dengan pihak universitas, mereka sepakat mengizinkan (mahasiswa Iran) memenuhi persyaratan nilai melalui hasil TOEFL yang setara," kata Alireza kepada DW.

"Namun sekarang TOEFL juga dihentikan di Iran. Bepergian ke negara tetangga hanya untuk mengikuti ujian sangat mahal, terutama dalam kondisi ekonomi Iran saat ini," tambahnya.

Peserta lain mengatakan kepada DW bahwa mengikuti ujian di Turki atau Armenia berarti harus membayar biaya perjalanan dan sedikitnya satu malam akomodasi, selain biaya ujian.

Bagi mahasiswa yang berharap mendapatkan beasiswa atau pendanaan penuh, biaya tambahan tersebut dapat menjadi beban yang signifikan.

Mahasiswa luncurkan petisi

Peserta TOEFL dan GRE asal Iran telah meluncurkan petisi daring yang mendesak ETS memulihkan akses terhadap kedua ujian tersebut.

Petisi itu menyebut ribuan mahasiswa kehilangan akses terhadap tes yang diperlukan untuk bisa diterima di universitas, beasiswa, program pascasarjana, dan kesempatan akademik lainnya. Banyak di antara mereka, menurut petisi tersebut, telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk persiapan, membayar biaya ujian, dan menyusun jadwal pendaftaran berdasarkan tanggal ujian tertentu.

"Mahasiswa tidak seharusnya kehilangan persiapan selama bertahun-tahun atau kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi hanya karena akses terhadap ujian yang diwajibkan tiba-tiba dihentikan," demikian bunyi petisi tersebut.

Narges, pelamar asal Iran yang terdampak penghentian ujian, mengatakan ia melihat petisi tersebut beredar di berbagai grup Telegram yang digunakan oleh pembelajar bahasa dan mahasiswa yang mendaftar ke universitas luar negeri.

"Saya ragu petisi ini akan berdampak," katanya. "Tetapi saya tetap akan menandatanganinya."

Para penggagas petisi mendesak OFAC memberikan pengecualian khusus untuk ujian akademik standar. Mereka juga meminta ETS memulihkan layanan TOEFL dan GRE di Iran sesegera mungkin sesuai dengan ketentuan hukum.

Mereka berpendapat bahwa sanksi yang ditujukan kepada pemerintah Iran seharusnya tidak membatasi kesempatan pendidikan bagi warga biasa yang tidak memiliki peran dalam kebijakan negara.

Ketika sanksi AS berdampak pada pendidikan di Iran

Hingga baru-baru ini, General License G menyediakan jalur hukum bagi pertukaran akademik dan layanan pendidikan tertentu untuk tetap berlangsung meski sanksi AS terhadap Iran diberlakukan secara lebih luas.

Bagi banyak mahasiswa, penghentian ujian ini menjadi hambatan terbaru dalam rangkaian kendala untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Bahar, yang sedang mendaftar program Doktoral, mengatakan banyak mahasiswa Iran sebelumnya telah mengalihkan fokus dari Amerika Serikat karena semakin sulit memperoleh visa.

"Universitas-universitas Amerika adalah pilihan pertama kami karena umumnya lebih banyak menawarkan pendanaan untuk program Doktoral dibandingkan universitas-universitas Eropa," katanya kepada DW.

Kini, menurutnya, para pelamar semakin banyak beralih ke Eropa dan Australia. Namun, penghentian ujian telah menciptakan hambatan baru.

"Bagi kami, sekarang pada dasarnya tidak ada perbedaan antara IELTS dan TOEFL, karena dalam kedua kasus kami harus meninggalkan Iran untuk mengikuti tes bahasa Inggris," kata Bahar.

Bagi mahasiswa yang mendekati tenggat pendaftaran, penundaan tidak selalu berarti hanya menunggu beberapa bulan. Mereka bisa kehilangan satu siklus penerimaan, kehilangan kesempatan mendapatkan beasiswa, atau menunda rencana akademik selama satu tahun atau lebih.

Meskipun ETS mengatakan sedang mencari kemungkinan untuk kembali menyelenggarakan ujian di Iran, saat ini belum ada indikasi kapan hal tersebut dapat dilakukan. Bagi banyak pelamar, pilihannya kini terbatas: menunggu tanpa kepastian kapan ujian kembali tersedia, atau mengeluarkan biaya jauh lebih besar untuk mengikuti ujian yang sama di luar negeri.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid

*GRE (Graduate Record Examination) adalah tes standar internasional yang digunakan sebagai syarat pendaftaran kuliah ke jenjang pascasarjana (S2 dan S3) atau sekolah bisnis di berbagai negara.

*TOEFL (Test of English as a Foreign Language) adalah standar untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris seseorang yang bukan penutur asli.

(ita/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini