Gletser-gletser di pegunungan tinggi, yang terbentuk sejak zaman es, kini menyusut dan kian tak stabil. Penggunaan berlebihan bahan bakar fosil kian memanaskan iklim dan memicu ambruknya siklus alami cuaca Bumi.
Ketidakstabilan suhu memudahkan lepasnya bongkahan besar gletser di pegunungan tinggi. Massa es dan batu dapat meluncur menjadi longsoran, yang untuk sesaat membendung lembah, sebelum pecah dan melepaskan air yang menerjang dengan kekuatan dahsyat.
Menyusul runtuhnya gletser yang memicu apa yang dikenal sebagai tsunami gunung di Nepal dan Tibet pada 26 Agustus, ribuan orang masih hilang dan dikhawatirkan tewas. Berbeda dengan longsoran gletser 2025 yang menghancurkan kota Blatten di Swiss, di mana hampir seluruh penduduk berhasil dievakuasi, minimnya sistem peringatan dini di Himalaya membuat warga dan wisatawan tidak berdaya menghadapi banjir bandang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perubahan iklim di balik runtuhnya gletser
Para ilmuwan menyebut penyebab runtuhnya gletser merupakan bagian dari jaringan kompleks perubahan yang saling berkaitan di lanskap pegunungan tinggi, yang sebagian dipicu oleh naiknya suhu global.
Levan Tielidze, peneliti geomorfologi glasial di Universitas Monash, Australia, mengatakan Himalaya bukanlah, seperti yang sering dibayangkan, "lingkungan yang beku dan relatif stabil," melainkan "sistem dinamis di mana gletser, salju, lapisan beku abadi, lereng bebatuan, sungai, dan proses monsun saling berinteraksi."
"Seiring iklim menghangat, komponen-komponen ini berubah secara bersamaan, artinya bahaya bisa merembet dari satu proses ke proses lainnya," katanya kepada DW. Ketika bebatuan, es, dan air berinteraksi dengan cara yang semakin tidak terduga di puncak-puncak tertinggi dunia, aliran puing yang dihasilkan "bisa berubah menjadi banjir bencana jauh ke hilir."
Hampir 25 tahun lalu, satu gletser menabrak gletser lainnya di Pegunungan Kaukasus, Ossetia Utara, Rusia, dalam apa yang saat itu tercatat sebagai runtuhan gletser terbesar dalam sejarah. Peristiwa itu memicu longsoran es dan puing yang meluncur lebih dari 24 kilometer dan menewaskan sekitar 125 orang.
"Bencana Gletser Kolka adalah salah satu peringatan awal tentang meningkatnya frekuensi dan potensi keparahan bahaya terkait gletser semacam itu," kata Tielidze.
Sementara itu, PBB menyebut gletser di pegunungan Nepal telah menyusut sepertiga dalam 30 tahun, yang menambah ketidakstabilannya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bahkan jika emisi dari pembakaran bahan bakar fosil cukup rendah untuk mencegah planet menghangat lebih dari 2 derajat Celsius dibanding masa pra-industri, kawasan Hindu Kush Himalaya yang lebih luas bisa kehilangan hingga setengah tutupan gletsernya dibanding level 2020 pada akhir abad ini.
Bagi Dipesh Chapagain, ilmuwan senior di Institut Universitas PBB untuk Lingkungan dan Keamanan Manusia, ada "bukti ilmiah yang kuat yang mengaitkan emisi gas rumah kaca dengan perubahan iklim global, yang pada gilirannya mendorong penyusutan gletser, pencairan lapisan beku abadi, dan longsoran es."
"Perubahan-perubahan ini meningkatkan frekuensi sekaligus intensitas bencana terkait iklim di kawasan pegunungan," tambahnya.
Chapagain telah mempelajari ratusan banjir letusan danau glasial (GLOF) di kawasan Hindu Kush Himalaya, yang terjadi ketika air lelehan dari gletser dan salju membentuk danau yang akhirnya jebol dan mengirimkan banjir bandang ekstrem ke hilir. Jumlah kejadian ini per dekade telah meningkat lima kali lipat sejak tahun 1950-an.
Runtuhnya gletser di Nepal dan Tibet memiliki kemiripan dengan kejadian GLOF. Namun yang terjadi sangat berbeda karena "melewati tahap pembentukan danau perantara sepenuhnya dan langsung memicu banjir bandang," kata Chapagain.
Longsoran itu juga menghasilkan aktivitas seismik setara sekitar Magnitudo 5,2 sebelum momentum aliran puing kaya air yang masuk ke sistem sungai membuatnya menempuh jarak sekitar 100 kilometer, catat Tielidze.
"Bahaya-bahaya ini semakin sulit untuk diklasifikasikan," katanya, merujuk pada cara bebatuan gunung, es, dan air berinteraksi dengan cara yang semakin tidak terduga akibat perubahan iklim.
Bisakah kita beradaptasi dengan dampak runtuhan gletser yang lebih ekstrem?
Runtuhan gletser 2025 di Pegunungan Alpen Swiss yang menghancurkan seluruh desa Blatten hanya menewaskan satu orang. Pemantauan terperinci terhadap deformasi gletser dan medan sekitarnya memungkinkan pihak berwenang mengevakuasi penduduk sebelum runtuhan katastrofik terjadi.
Namun ini jauh lebih sulit dilakukan di Hindu Kush Himalaya, yang memiliki lebih dari 63.700 gletser, kata Tielidze.
"Di Himalaya, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar memantau danau-danau berbahaya secara individual," katanya. "Kita perlu sistem terpadu yang menggabungkan pengamatan satelit, deteksi seismik, pemantauan gletser dan lereng, alat ukur sungai, prakiraan cuaca, dan peringatan otomatis."
Untuk kejadian yang berkembang cepat seperti bencana Nepal, mendeteksi pergerakan seismik bisa memberi komunitas di hilir "beberapa menit berharga untuk peringatan," tambahnya.
Chapagain mengatakan sifat lintas batas bahaya glasial di Himalaya menjadikan "kerja sama lintas batas dan regional dalam kesiapsiagaan bencana" sama mendesaknya dengan sistem peringatan dini.
Namun teknologi dan kapasitas adaptasi yang tersedia saat ini mungkin tidak cukup untuk "merespons bencana dalam skala seperti yang baru saja kita saksikan di Sungai Bhotekoshi, Nepal."
"Yang kita pelajari dari ini adalah kita bisa beradaptasi dengan perubahan iklim, tapi tidak dengan kiamat iklim," kata Shreya K.C., koordinator kelompok kerja advokasi berbasis di Kathmandu dari Loss and Damage Youth Coalition, dalam sebuah pernyataan.
Pengurangan emisi yang cepat dalam pemanasan planet yang mendorong pencairan dan ketidakstabilan gletser harus menyertai setiap langkah adaptasi.
"Kita tidak bisa merekayasa jalan keluar dari pemanasan tak terbatas," kata Tielidze. "Beberapa bahaya gunung akan tetap tidak terduga dan beberapa perubahan pada akhirnya akan melampaui kemampuan komunitas dan infrastruktur untuk beradaptasi."
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Editor: Rizki Nugraha
Tonton juga video "Korban Tewas Banjir Bandang Nepal Tembus 1.000 Orang"
(nvc/nvc)









































