Harga Aluminium Meroket, Indonesia Gandakan Konsumsi Batu Bara

Harga Aluminium Meroket, Indonesia Gandakan Konsumsi Batu Bara

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 02 Sep 2026 11:00 WIB
Harga Aluminium Meroket, Indonesia Gandakan Konsumsi Batu Bara
Jakarta -

Indonesia berambisi meningkatkan produksi aluminium ketika perang Iran mengganggu pasokan global dan mendorong kenaikan harga logam tersebut. Untuk mempercepat pembangunan smelter, Indonesia mengandalkan cadangan batu bara yang melimpah, meski langkah itu berlawanan dengan upaya mengurangi emisi karbon.

Gangguan produksi di Timur Tengah membuat kawasan Asia Tenggara berpeluang mengambil alih sebagian pasokan aluminium dunia. Timur Tengah biasanya menghasilkan sekitar 9% aluminium dunia, tetapi produksi kawasan tersebut diperkirakan turun 44% tahun ini dibandingkan dengan 2025, menurut lembaga informasi komoditas Fastmarkets.

Perang Iran dorong peluang baru

Kekurangan energi membuat Emirates Global Aluminium membatalkan sejumlah kesepakatan, sementara Qatar Aluminium Ltd. memangkas produksi. Serangan Iran juga merusak fasilitas Aluminium Bahrain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum perang Iran, aluminium diperdagangkan pada kisaran US$3.150–3.250 (sekitar Rp55,9–57,7 juta) per metrik ton. Harga kemudian melonjak hingga US$3.780 (sekitar Rp67,1 juta) pada Juni dan kini berada di sekitar US$3.400 (sekitar Rp60,3 juta)

Andy Farida dari Fastmarkets mengatakan bahwa ketidakpastian pasokan mendorong konsumen untuk mencari alternatif.

"Ketika pasokan begitu tidak pasti, pengguna akhir mencari alternatif," kata Farida. "Perang tersebut benar-benar mempercepat transformasi ini dan menempatkan Indonesia di peta."

Indonesia berencana meningkatkan kapasitas produksinya secara besar-besaran. Menurut Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), produksi alumina Indonesia ditargetkan meningkat empat kali lipat menjadi 32,5 juta metrik ton pada akhir dekade ini. Produksi aluminium juga ditargetkan naik dari sekitar 1 juta metrik ton pada 2025 menjadi 14,5 juta metrik ton pada 2030.

Smelter baru bergantung pada batu bara

Peningkatan produksi tersebut membutuhkan energi dalam jumlah besar. Proses produksi aluminium dimulai dari penambangan bijih bauksit yang kemudian dimurnikan menjadi alumina sebelum dilebur menjadi aluminium.

CREA mencatat 32 proyek pembangkit listrik tenaga batu bara off-grid yang sedang dipertimbangkan untuk secara khusus memasok listrik bagi smelter aluminium. Fasilitas semacam ini dikenal sebagai "captive coal".

Data publik mengenai emisi dari pembangkit tersebut masih terbatas, kata Syahdiva Moezbar dari CREA di Jakarta.

"Ledakan captive coal di seluruh Indonesia pada dasarnya tidak dapat terlacak. Itulah yang membuatnya sangat mengkhawatirkan," ujarnya.

Langkah tersebut juga berlawanan dengan janji Indonesia untuk mengurangi penggunaan batu bara, bahan bakar fosil utama yang menghasilkan polusi paling tinggi dan menjadi sumber emisi pemanasan global.

Industri aluminium sendiri menyumbang sekitar 2% dari emisi gas rumah kaca global setiap tahun, setara dengan sekitar 1,1 miliar ton karbon dioksida ekuivalen, menurut World Economic Forum.

Indonesia memiliki mitra penting dalam ekspansi tersebut, yakni Cina. Perusahaan-perusahaan Cina telah berinvestasi dalam sekitar tiga perempat dari proyek aluminium yang direncanakan di Indonesia. Menurut CREA, investasi Cina di sektor aluminium Indonesia saat ini mencapai antara 5,5 miliar dan 6 miliar dolar AS dan diperkirakan akan meningkat menjadi 30 miliar dolar AS pada 2030.

Menurut Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute di Jakarta, ekspansi perusahaan Cina ke Indonesia berkaitan dengan pembatasan produksi aluminium di dalam negeri Cina yang diberlakukan sejak 2017.

Ekspansi cepat picu kekhawatiran lingkungan

Indonesia mengategorikan nikel dan aluminium sebagai "mineral transisi" karena keduanya dapat digunakan dalam teknologi yang disebut bersih, termasuk baterai kendaraan listrik dan panel surya.

Namun, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai penggunaan batu bara untuk menghasilkan logam yang dikategorikan sebagai mendukung transisi energi.

Binbin Mariana dari kelompok advokasi lingkungan Market Forces mengatakan belum jelas produk akhir apa logam asal Indonesia, termasuk aluminium dan nikel, yang akan digunakan.

"Ini adalah celah yang sangat besar, seekor gajah bisa melewati celah itu," katanya. "Anda mengatakan ini produk hijau, tetapi produk itu ditenagai batu bara… Itu jelas greenwashing."

Smelter aluminium sebenarnya dapat menggunakan sumber energi yang lebih bersih seperti tenaga air. Namun, menurut Adhiguna, pilihan tersebut membutuhkan waktu lebih lama dan biaya lebih tinggi.

"Faktor kecepatan benar-benar yang menyebabkan kekacauan," katanya. "Ini benar-benar bertentangan dengan semangat dan komitmen terhadap gerakan iklim."

Muhammad Al Amin dari Wahana Lingkungan Hidup atau WALHI mengatakan bahwa peningkatan pembangkit captive coal untuk aluminium berpotensi memperburuk kabut asap beracun yang kerap menyelimuti kota-kota di Asia Tenggara, termasuk Jakarta.

"Jika perusahaan ingin memperluas captive coal untuk aluminium, menurut saya ini kabar yang sangat buruk dan perkembangan yang sangat buruk," katanya. "Kita sudah melihatnya, kita sudah merasakannya, bagaimana masyarakat menderita akibat dampak captive coal."

CREA memperkirakan bahwa jika seluruh proyek aluminium yang direncanakan mulai beroperasi pada 2030, cadangan bauksit Indonesia dapat habis dalam waktu kurang dari 12 tahun.

Tenaga surya jadi sumber listrik terbesar di Cina

Cina untuk pertama kalinya memiliki kapasitas terpasang tenaga surya yang lebih besar daripada kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga batu bara, menurut otoritas energi nasional Cina pada Selasa (1/9).

Hingga akhir Juli, kapasitas terpasang sistem fotovoltaik mencapai 1.286 gigawatt, sedikit di atas kapasitas pembangkit berbahan bakar batu bara yang mencapai 1.285 gigawatt. Televisi pemerintah Cina menyebut tenaga surya kini mencakup 31,5% dari total kapasitas terpasang pembangkit listrik.

Cina selama bertahun-tahun memperluas pembangkit tenaga surya, terutama di wilayah barat dan barat laut negara itu. Namun, negara tersebut juga termasuk salah satu penghasil emisi karbon dioksida terbesar, salah satunya akibat produksi batu bara.

Ekspansi tenaga surya di Cina mulai melambat. Dari Januari hingga Juli tahun ini, penambahan kapasitas surya turun 62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut otoritas energi nasional.

Penurunan tersebut terjadi setelah perubahan standar yang mulai berlaku sejak musim panas tahun lalu menghapus jaminan harga bagi proyek tenaga surya dan memungkinkan harga ditentukan oleh kekuatan pasar.


Editor: Rizki Nugraha

Simak juga Video 'Kabar Terbaru Penggeledahan Soal Korupsi Batu Bara':

(ita/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini