Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertemu di Bishkek, ibu kota Kirgizstan, di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), kelompok negara yang kerap dipandang sebagai penyeimbang dominasi Amerika Serikat (AS).
Pertemuan itu berlangsung di tengah dampak perang AS-Israel melawan Iran, yang telah mengganggu pasar energi global, serta perang Rusia di Ukraina, yang kini memasuki tahun kelima.
India tetap aktif di SCO, tetapi berupaya mencegah organisasi itu berkembang menjadi blok yang secara terbuka berseberangan dengan negara-negara Barat. Sikap ini sejalan dengan kebijakan India yang selama ini berusaha menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan besar, termasuk negara-negara yang saling bersaing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, strategi menjaga keseimbangan itu kini makin sulit. Rusia masih dikenai sanksi Barat akibat perang di Ukraina. Sementara itu, India menghadapi tekanan dari AS terkait pembelian minyak Rusia, di saat hubungan dagang New Delhi dan Washington juga menghadapi berbagai gesekan.
Mantan Duta Besar India untuk AS, Meera Shankar, mengatakan kepada DW bahwa hubungan India dengan Rusia tidak ditujukan untuk menentang Washington.
"India memiliki hubungan strategis jangka panjang dengan Rusia. Hubungan ini tidak ditujukan untuk melawan negara mana pun, melainkan untuk membantu India mencapai kepentingan nasionalnya," kata Shankar.
Hubungan energi India-Rusia makin erat
Energi menjadi bidang yang mengalami perubahan paling besar dalam hubungan India dan Rusia.
Sebelum 2022, ketika Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina, Rusia hanya memasok sebagian kecil impor minyak mentah India. Namun, setelah Moskow menawarkan minyak dengan harga diskon, situasinya berubah cepat. Minyak Rusia kemudian mengambil porsi besar dalam impor India dan menjadikan Rusia salah satu pemasok minyak utama negara itu.
Pembelian minyak Rusia juga menjadi salah satu sumber ketegangan terbesar dalam hubungan India-AS. Washington mendesak New Delhi untuk mengurangi pembelian minyak dari Rusia. India menegaskan bahwa mendapatkan pasokan energi dengan harga terjangkau dan pasokan yang stabil merupakan bagian dari kepentingan nasionalnya.
Gejolak pasokan energi global membuat pilihan India semakin rumit. Perang AS-Israel melawan Iran tahun ini dan gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz telah mempengaruhi pembelian energi India dari negara-negara Teluk dan mendorong kenaikan harga.
Shankar mengatakan India merespons situasi tersebut dengan mencari lebih banyak sumber pasokan, termasuk dari Rusia dan AS.
"Dalam jangka panjang, transisi menuju ekonomi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil akan memperkuat kemandirian energi India. Namun, hal ini tidak akan terjadi dalam waktu singkat," tambahnya.
Hingga saat itu tiba, kata Shankar, India akan mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk menjaga kestabilan pasokan dan melindungi masyarakatnya.
Masa depan kerja sama pertahanan India-Rusia
Pertahanan tetap menjadi pilar utama lainnya dalam hubungan kedua negara. Namun, tren di sektor ini sudah terlihat cukup jelas: India perlahan mengurangi ketergantungannya pada persenjataan dan perlengkapan militer Rusia.
Perang Ukraina telah memunculkan pertanyaan mengenai kapasitas produksi Rusia, jadwal pengiriman, dan kemampuannya menyediakan suku cadang, padahal selama puluhan tahun Moskwa menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan militer India.
"India tetap menjadi salah satu pembeli senjata Rusia yang tertua dan terbesar, bahkan mungkin pembeli besar terakhirnya," kata Aravind Yelery, profesor madya di Jawaharlal Nehru University di ibu kota India, New Delhi, kepada DW.
"New Delhi semakin enggan berkomitmen pada program jet tempur generasi kelima Rusia dan tidak terlalu berminat membeli peralatan militer Rusia yang baru, kecuali jika dapat dimasukkan ke dalam rencana produksi dalam negeri India," tambahnya.
Meski India telah mulai membeli persenjataan dari lebih banyak negara, bukan berarti kerja sama pertahanannya dengan Rusia akan berakhir.
Namun, bentuk hubungan itu mulai berubah. India ingin kerja sama dengan Rusia ikut memperkuat industri pertahanan dalam negeri, bukan hanya menjadikan India sebagai pembeli sistem persenjataan siap pakai.
Faktor Cina
Ketergantungan Rusia yang semakin besar terhadap Cina juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam hubungan India-Rusia.
Sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada awal 2022, Cina menjadi sangat penting bagi Rusia sebagai pasar, pemasok, dan mitra ekonomi. Kedekatan itu membuat Rusia semakin sulit memainkan peran sebagai kekuatan yang dapat membantu India mengimbangi Cina.
Yelery melihat perbedaan mendasar antara hubungan Rusia dengan Cina dan hubungan Rusia dengan India.
"Secara strategis, hubungan Rusia dengan Cina pada dasarnya tetap bersifat transaksional, sebuah ketergantungan yang tidak mampu dikorbankan Rusia. Sementara itu, hubungan Rusia dengan India didasarkan pada kemitraan," katanya.
India masih memiliki sejumlah alasan untuk mempertahankan kedekatan dengan Rusia, mulai dari energi, pertahanan, akses ke pasar Rusia, hingga hubungan politik yang telah berlangsung lama di kawasan Eurasia. Namun, cara India memandang pentingnya Rusia secara strategis kini telah berubah.
Strategi "America plus" India
Pakar strategi C Raja Mohan mengatakan ketergantungan Rusia yang semakin besar terhadap Cina telah mengurangi peran strategis Rusia bagi New Delhi.
"Rusia tidak lagi berada dalam posisi untuk membantu India mengimbangi Cina," kata Mohan, profesor studi Amerika di Jindal Global University, kepada DW.
Karena itu, India juga mulai mengubah apa yang diharapkannya dari hubungan dengan Rusia.
Hubungan dengan Moskwa kini lebih banyak diarahkan pada kepentingan yang konkret, seperti keamanan energi, pasokan pertahanan, perdagangan, dan akses terhadap teknologi. Sementara itu, dalam strategi geopolitiknya yang lebih luas, India semakin mengandalkan hubungan dengan AS dan para sekutunya.
India telah meningkatkan kerja sama pertahanan dan teknologi dengan Washington, sekaligus mempererat hubungan dengan mitra seperti Prancis dan Israel.
Mohan menyebut pendekatan ini sebagai strategi "America plus", yaitu India mempertahankan kemitraannya dengan AS tanpa hanya bergantung pada Washington, dengan tetap memperluas hubungan dengan kekuatan besar lainnya.
"India berusaha mengurangi risiko jika kebijakan Amerika berubah-ubah, tetapi tetap menyadari bahwa Washington adalah mitra terpentingnya," katanya.
Apa yang diinginkan Modi dan Putin?
Rajan Kumar, profesor studi Rusia di Jawaharlal Nehru University, mengatakan Putin ingin mendapatkan kepastian bahwa India tidak akan menjauh dari Moskwa meskipun mendapat tekanan dari Washington.
"Presiden Putin membutuhkan jaminan dari Perdana Menteri Modi bahwa India tidak akan meninggalkan Rusia ketika negara itu menghadapi krisis terburuknya sejak dekade 1990-an," kata Kumar kepada DW.
Ia tidak memperkirakan adanya perubahan besar dalam hubungan kedua negara. "Menurut saya, pertemuan ini lebih membahas kelanjutan hubungan yang sudah ada di tengah tekanan AS," tambahnya.
Perdagangan energi dan cara pembayarannya, upaya meningkatkan ekspor India ke Rusia, kerja sama pertahanan, serta pandangan kedua negara terhadap perang di Ukraina dan Iran kemungkinan akan menjadi sejumlah isu utama dalam pembicaraan.
Ujian yang lebih besar akan datang di Delhi pada September mendatang, ketika Putin diperkirakan kembali berkunjung untuk menghadiri KTT BRICS.
Pertemuan di Bishkek mungkin cukup untuk memastikan hubungan politik kedua negara tetap terjaga. Namun, pertemuan di Delhi akan menjadi ujian apakah hubungan politik tersebut juga bisa menghasilkan kemajuan nyata dalam perdagangan, energi, pertahanan, dan teknologi.
Hubungan kedua negara tidak lagi sama seperti sebelum perang Ukraina. Energi kini memegang peran jauh lebih besar, India mulai mengurangi ketergantungannya pada persenjataan Rusia, sementara kedekatan Moskwa dengan Beijing telah mengubah posisi Rusia dalam perhitungan strategis India.
"Hubungan ini memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar transaksi atau kesepakatan tertentu. Putin tampaknya memahami bahwa India memiliki posisi dan pengaruh strategisnya sendiri, sesuatu yang tidak bisa digantikan hanya oleh besarnya pengaruh Cina terhadap Rusia," kata Yelery.
Artikel ini ditulis pertama kali dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara
Editor: Hani Anggraini
Simak juga Video 'Putin dan Xi Jinping Bertemu di Kyrgyzstan, Bahas Apa?':
(ita/ita)









































