Amanal Petros, dari Pengungsi Jadi Juara Eropa

Amanal Petros, dari Pengungsi Jadi Juara Eropa

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 21 Agu 2026 15:02 WIB
Amanal Petros, dari Pengungsi Jadi Juara Eropa
Jakarta -

Amanal Petros berdiri di Victoria Square, Birmingham, Inggris dengan bendera Jerman tersampir di bahunya dan medali emas tergantung di dadanya. Sebelas bulan setelah nyaris meraih gelar juara dunia di Tokyo, atlet berusia 31 tahun itu akhirnya memenangkan kejuaraan maraton berkelas dunia pertamanya.

Setelah menempuh sekitar 25 dari total 42 kilometer jarak perlombaan, Petros memacu kecepatannya saat melalui tanjakan. Tak seorang pun mampu mengimbanginya. Ia bahkan sempat menikmati momen kemenangannya dalam dua kilometer terakhir perlombaan.

Petros menyentuh garis finis dengan catatan waktu 2 jam 9 menit 11 detik, rekor baru untuk nomor maraton putra dalam Kejuaraan Atletik Eropa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya ingin memastikan kemenangan lebih cepat dan rencana itu berjalan dengan sempurna," kata Petros setelah perlombaan.

Fakta bahwa pelari Italia Pietro Riva finis hanya terpaut tujuh detik di belakangnya sama sekali tidak mencerminkan betapa dominannya kemenangan tersebut. "Semuanya terkendali," dikatakan Petros.

Kedatangan yang terlambat tak jadi hambatan

Masalah saat memasuki Inggris membuat Petros baru tiba di Birmingham pada hari Sabtu (15/08), sehari sebelum perlombaan berlangsung. Sejumlah laporan media menyebutkan adanya kendala terkait visa elektronik miliknya.

"Prosesnya sangat berlarut lama. Benar-benar buruk. Kami harus bolak-balik selama dua hari," ungkapnya. Namun, Asosiasi Atletik Jerman (DLV) kemudian membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Di hari perlombaan, para pelari harus menghadapi lintasan yang terdiri dari delapan putaran, tanjakan, serta banyak tikungan. Sebelumnya, Petros telah mempersiapkan diri selama berbulan-bulan di dataran tinggi Kenya.

"Ada 120 tikungan dan banyak tanjakan. Itu tantangan yang luar biasa berat," katanya setelah perlombaan.

Ia mempersembahkan medali emas tersebut kepada ibunya.

"Ibu saya adalah ratu bagi saya dan sumber kekuatan saya. Dengan mengingat sosoknya memberi saya energi dan motivasi baru. Beliau memang yang terbaik," tegas Petros.

Ibunda Petros berada lebih dari 5.000 kilometer darinya saat itu. Ibunya tinggal di wilayah Tigray, Ethiopia.

Datang ke Jerman seorang diri saat berusia 16 tahun

Petros lahir di kota pelabuhan Assab, Eritrea, pada tahun 1995. Saat masih kecil, ia melarikan diri bersama keluarganya dari perang antara Eritrea dan Ethiopia menuju wilayah Tigray di Ethiopia utara. Di sana ia tumbuh bersama dua adik perempuannya. Sejak usia lima tahun, ia sudah bekerja di ladang dan menggembala ternak.

Pada usia 16 tahun, Petros meninggalkan Ethiopia sendirian dan tiba di Jerman pada awal tahun 2012. Awalnya, ia ditempatkan di pusat penampungan pencari suaka. Sementara itu, ibu dan kedua adiknya tetap tinggal di Tigray.

Pada akhir tahun 2021, akibat konflik yang melanda wilayah Tigray, Petros tidak dapat berkomunikasi dengan keluarganya selama lebih dari dua bulan.

"Situasi saat itu sangat berat, kadang-kadang saya tidak bisa tidur nyenyak dan mengalami mimpi buruk. Tetapi saya berusaha untuk tidak kehilangan harapan," ujarnya kepada DW saat itu.

Berlari menjadi penyelamatnya dalam situasi tersebut. "Jika saya menyerah dalam olahraga ini, berarti saya kehilangan segalanya," kata Petros.

Ia juga menuturkan, "saya sudah kehilangan keluarga dan jika saya berhenti berlari, saya akan kehilangan satu-satunya hal yang masih saya miliki."

Situasi di Tigray pada saat itu bahkan terus menghantui pikirannya saat bertanding. "Saya selalu memikirkan keluarga saya," katanya pada tahun 2021.

Namun, ketika berlari ia berusaha mengesampingkan semua pikiran itu dan fokus pada perlombaan.

Bakat yang ditemukan di lapangan sepak bola

Tidak lama setelah tiba di Jerman, Petros mulai bermain sepak bola. Namun, seorang pengurus klub melihat kecepatan lari yang ia miliki dan memperkenalkannya kepada klub atletik setempat.

Pada Juni 2012, hanya beberapa bulan setelah kedatangannya, Petros mengikuti lomba lari 10 kilometer pertamanya dan menang dengan selisih sekitar dua setengah menit.

Beradaptasi dengan kehidupan di negara baru bukanlah hal yang mudah. Ia bercerita kepada DW, "mempelajari bahasa Jerman merupakan tantangan besar, tetapi memahami pola pikir masyarakat Jerman merupakan tantangan yang lebih besar lagi."

Petros memperoleh kewarganegaraan Jerman pada tahun 2015. Walaupun saat itu para imigran umumnya harus menunggu delapan tahun sebelum memenuhi syarat untuk menjadi warga negara Jerman. Pada Olimpiade 2021 di Jepang, ia pertama kali membela Jerman dalam nomor maraton.

Dalam beberapa tahun berikutnya, Petros semakin mendekati level atlet elite dunia. Pada Desember 2025, ia mencatat waktu 2 jam 4 menit 3 detik di Valencia, Spanyol. Ia memecahkan rekor nasional Jerman dalam lari maraton. Rekor Jerman lainnya pun ia ciptakan pada Maret 2025 di Berlin Half Marathon dengan catatan waktu 59 menit 22 detik.

Nyaris menjadi juara dunia

Petros hampir saja masuk ke dalam jajaran pelari terbaik dunia saat Kejuaraan Maraton Dunia di Tokyo pada September 2025.

Saat perlombaan menyisakan 350 meter, Petros meningkatkan kecepatannya dan menjadi pelari pertama yang memasuki stadion area finis. Di lintasan lurus menuju garis finis, ia sudah terlihat akan menjadi juara dunia yang baru.

Namun, Alphonce Simbu dari Tanzania berhasil menyalipnya di meter-meter terakhir. Keduanya mencatat waktu yang sama, yaitu 2 jam 9 menit 48 detik.

Alhasil kemenangan ditentukan dari foto di garis finis. Petros pun gagal meraih medali emas hanya dengan selisih 0,03 detik.

"Sebagai atlet profesional, saya harus menerima kenyataan itu dan terus melangkah maju," ujarnya setelah ajang tersebut.

Meski hanya meraih perak, ia berhasil memberikan medali pertama bagi Jerman di nomor maraton putra Kejuaraan Dunia sejak tahun 1983.

"Pencapaian ini sangat berarti bagi saya, terutama untuk keluarga saya dan untuk ibu saya," ucapnya setelah perlombaan tersebut. Saat itu Ia berencana mengirimkan video perlombaannya kepada sang ibu.

Ia pun menyampaikan, "mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa membawa ibu saya ke Jerman untuk menyaksikan kompetisi secara langsung."

Kini, sebelas bulan setelah kekalahan tipis di Tokyo, Petros akhirnya menikmati gelar internasional besarnya yang pertama di Birmingham.

"Perlombaan ini sangat-sangat berat, tetapi sedikit anggur merah akan membuat saya pulih dengan cepat," ujar Petros.

Lalu berapa banyak yang ia maksud dengan "sedikit"?

"Oh ya, satu, dua atau tiga gelas," kelakar Petros.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Muhammad Athif Aiman

Editor: Yuniman Farid



(ita/ita)


Berita Terkait