Amerika Serikat pada Kamis (13/08) menegaskan bisa mempertahankan blokade lautnya terhadap Iran tanpa batas waktu, sekaligus bersiap memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran, di tengah perundingan gencatan senjata yang kandas, pasokan minyak global yang menyusut, dan ketegangan regional yang kian memanas.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan militer AS memiliki kemampuan untuk mempertahankan kehadiran angkatan laut di kawasan guna menegakkan blokade terhadap Iran, yang telah menimbulkan kerusakan ekonomi parah bagi negara itu.
"AS bisa mempertahankan blokade semacam itu tanpa batas waktu karena kami akan merotasi kapal-kapal masuk dan keluar, seperti yang sudah kami lakukan, dan akan terus kami lakukan," kata Hegseth kepada wartawan dalam kunjungannya ke Panama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Keuangan Scott Bessent menambahkan bahwa Amerika Serikat berencana menjatuhkan tekanan finansial yang lebih besar lagi kepada Iran. "Pantau terus karena minggu depan akan ada pengumuman lebih lanjut. Kami akan menerapkan langkah-langkah yang belum pernah ada dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara," katanya dalam wawancara di program "Rob Schmitt Tonight" di Newsmax.
Harga bensin, bukan nuklir: Pergeseran prioritas AS
Dalam perkembangan yang mengungkap betapa kuatnya cengkeraman Iran atas situasi ini, Wakil Presiden JD Vance mengungkapkan bahwa prioritas utama AS dalam perang melawan Iran kini bukan lagi program nuklir Teheran, melainkan menurunkan harga bensin bagi konsumen Amerika.
"Saya tahu harga minyak turun hari ini dan sudah jauh turun dari puncaknya di awal konflik," kata Vance di Fox News. "Itu adalah tujuan nomor satu: menjaga harga minyak dan gas tetap murah bagi rakyat Amerika di seluruh negeri."
"Dan tentu saja tujuan nomor dua adalah memastikan Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir," tambahnya.
Pernyataan Vance mencerminkan kenyataan pahit bahwa perang ini kini berpusat pada perebutan kendali Selat Hormuz, jalur vital pasokan energi yang terbuka sebelum Trump memulai perang bersama Israel pada akhir Februari. Iran hampir sepenuhnya menutupnya sebagai bentuk pembalasan, dan itulah yang menjadi kartu truf Teheran terhadap Trump yang kini kesulitan menemukan jalan keluar dari konflik ini.
Vance selama ini dikenal sebagai salah satu anggota kabinet yang paling skeptis terhadap serangan yang dilancarkan terhadap Iran. Pernyataannya kini tampaknya mengonfirmasi pendekatan yang lebih berhati-hati yang kini dipilih Trump, yakni mempertahankan tekanan ekonomi kuat melalui blokade pelabuhan Iran dan mencegah Teheran menjual minyak.
Tekanan politik di dalam negeri
Trump menghadapi tekanan besar di dalam negeri untuk mengakhiri perang. Harga bahan bakar yang melambung telah menggerus tingkat persetujuannya, dan pemilihan paruh waktu pada November makin dekat.
Kubu Republik khawatir bahwa Trump dan perang yang telah membuat harga bensin melonjak akan membuat mereka kehilangan kendali atas Kongres.
Trump berulang kali menegaskan AS memiliki "kendali penuh" atas selat tersebut, yang langsung dibantah oleh Iran. Teheran menyatakan tidak akan membiarkan jalur itu dibuka kembali sebelum syarat-syaratnya dipenuhi, termasuk pencabutan sanksi ekonomi dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Syarat-syarat Iran ini mencerminkan ketentuan dari apa yang disebut memorandum of understanding yang dicapai pada Juni dan kemudian runtuh seiring dimulainya kembali pertempuran. Termasuk di dalamnya ketentuan untuk membentuk dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS untuk Iran.
Lalu lintas Hormuz anjlok di tengah klaim bersaing
Situasi di lapangan mencerminkan ketegangan yang masih membara. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun di bawah rata-rata bulanan menjelang akhir pekan akibat sentimen yang bergejolak antara AS dan Iran, dengan kedua negara saling mengklaim kendali atas selat tersebut.
Kepala baru unit paramiliter Basij Iran menyatakan pada Kamis bahwa Selat Hormuz "berada di bawah kendali dan pengelolaan Iran."
Berdasarkan data Kpler, total sembilan kapal melintasi selat pada Kamis, naik dari lima kapal sehari sebelumnya. Angka ini mencakup lima kapal masuk ke Teluk dan empat kapal keluar menuju Teluk Oman, sebagian besar melalui jalur pengiriman Iran.
Risiko pelayaran masih sangat nyata. Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, Abu Dhabi National Oil Company, mengonfirmasi bahwa dua kapalnya diserang saat melintas di Selat Hormuz pada Kamis malam tanpa ada korban luka, sementara Uni Emirat Arab menuduh Iran berada di balik serangan itu.
Sementara itu, 19 kapal komoditas melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Kamis dengan transponder menyala, relatif stabil dibanding 20 kapal sehari sebelumnya, menurut data Kpler. Beberapa kapal mungkin berlayar di jalur air utama itu dengan transponder dimatikan, yang tidak termasuk dalam hitungan.
Pasokan minyak global menyusut, ekonomi dunia terancam
Di tengah semua ini, tekanan terhadap perekonomian global terus meningkat. Badan Energi Internasional (IEA) pada Rabu memproyeksikan pasokan minyak global akan turun 4,3 juta barel per hari, atau sekitar 4%, tahun ini. Sebulan lalu, lembaga yang sama memperkirakan penurunan hanya 3,7 juta barel per hari.
Harga minyak turun lebih dari 2% pada Kamis setelah sepekan menguat, seiring investor mencermati tanda-tanda melemahnya permintaan global dan lonjakan tajam stok minyak mentah AS. Namun laporan bahwa Houthi yang didukung Iran di Yaman telah menarget kilang Saudi Aramco dengan drone mengusik pasar, memperbarui kekhawatiran tentang melebarnya perang regional.
Para ekonom global memproyeksikan penurunan tajam pertumbuhan dunia akibat perang ini, dan kemungkinan resesi di beberapa kawasan, dengan peringatan bahwa dampaknya akan semakin besar jika perang tidak segera diakhiri.
Ketika ditanya apakah mendeklarasikan gencatan senjata pada April lalu merupakan sebuah kesalahan, Hegseth menolak berkomentar.
"Saya tidak akan pernah mengomentari itu. Kami melakukan persis apa yang perlu kami lakukan untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir," kata Hegseth.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Editor: Rizki Nugraha
Tonton juga video "Trump Pindah Pesawat: Kemarin Bilang Gak Ada Ancaman, Sekarang Ada"
(ita/ita)









































