Migran Ilegal Gali Terowongan, Lithuania Siaga di Perbatasan

Migran Ilegal Gali Terowongan, Lithuania Siaga di Perbatasan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 13 Agu 2026 18:00 WIB
Migran Ilegal Gali Terowongan, Lithuania Siaga di Perbatasan
Jakarta -

Terowongan bawah tanah kini menjadi jalur baru yang digunakan para migran untuk masuk secara ilegal ke Lithuania dari Belarus. Bukan melalui pagar perbatasan yang telah diperkuat, mereka menggali jalan dari bawah tanah. Para pakar menilai, kemunculan terowongan ini bukan sekadar persoalan migrasi ilegal, tetapi juga bisa menjadi bagian dari upaya Belarus untuk mempertahankan tekanan di perbatasan dan menciptakan ketidakstabilan politik di Lithuania.

Penjaga perbatasan Lithuania mengatakan telah menemukan 12 terowongan semacam itu sejak awal tahun, tersebar di sepanjang perbatasan dengan Belarus. Panjang terowongan di sisi Lithuania mencapai 25 meter. Mereka memperkirakan bahwa mereka masih akan menemukan lebih banyak terowongan.

Perbatasan Lithuania dengan Belarus memiliki panjang sekitar 700 kilometer, dengan sekitar 550 kilometer di antaranya telah dipagari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami memiliki sistem seismik darat yang dapat dengan mudah mendeteksi getaran berintensitas tinggi yang berlangsung dalam waktu lama," kata Jenderal Rustamas Liubajevas, komandan Badan Penjaga Perbatasan Negara Lithuania, kepada DW.

"Kemudian kami menunggu di luar terowongan hingga penggalian mencapai tahap akhir. Ketika para migran keluar, kami menangkap mereka," ujarnya. Ia menambahkan, hingga 40 migran yang keluar melalui terowongan tersebut telah ditangkap.

Kantor Kejaksaan Lithuania mengonfirmasi kepada DW bahwa penyelidikan awal sedang berlangsung terhadap sekitar 20 orang yang diduga terlibat dalam penggalian terowongan secara ilegal. Mereka juga dapat dikenakan tuduhan penyelundupan manusia. Karena penyelidikan masih berlangsung, media saat ini tidak diizinkan untuk mengunjungi lokasi terowongan.

Liubajevas mengaku heran bahwa para migran mencoba menyeberang melalui bawah tanah.

"Dibutuhkan banyak upaya untuk menggali terowongan, sementara para migran hampir langsung ditangkap. Paling banyak, hanya satu kelompok kecil yang berhasil lolos," katanya.

Apakah pemerintah Belarus membantu?

Kerumitan terowongan tersebut membuat Liubajevas meyakini bahwa para migran tidak bekerja sendirian.

"Mereka tidak mungkin bisa melakukannya tanpa dukungan logistik dari otoritas Belarus, karena mereka membutuhkan banyak material, seperti kayu, untuk memperkuat dinding terowongan," tegasnya. Ia menambahkan, Belarus tampaknya ingin "mempertahankan tingkat ketegangan yang tinggi di perbatasan."

Presiden Belarus Alexander Lukashenko telah membantah memfasilitasi arus migrasi ke negara-negara tetangga. Terowongan migran serupa sebelumnya juga ditemukan di negara tetangga, Polandia.

Margarita Seselgyte, Direktur Institute of International Relations and Political Science di Vilnius University, sependapat dengan pandangan Liubajevas.

"Belarus mengawasi perbatasannya dengan sangat ketat, dan negara tersebut bukan bagian dari rute migrasi alami bagi migran dari Afghanistan, Iran, atau Sri Lanka," katanya kepada DW. Menurutnya, setidaknya Minsk pasti membiarkan aktivitas penggalian tersebut berlangsung tanpa tindakan apa pun.

Seselgyte melihat terowongan tersebut sebagai "serangan hibrida untuk menimbulkan kecemasan di masyarakat kami."

"Tidak ada kekosongan dalam dunia keamanan. Ketika Lithuania menutup celah dan memperkuat pagar perbatasannya, Belarus kini membantu para migran melewatinya dari bawah," ujarnya.

Masalah yang telah lama berlangsung di sayap timur Eropa

Menurut Seselgyte, Minsk membantu sekutunya, yaitu Moskow. Rusia, melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022, termasuk dari wilayah Belarus, tempat Rusia mengerahkan pasukannya dengan dalih latihan militer.

"Lithuania sangat vokal dalam hal pertahanan terhadap Rusia, baik dalam menghadapi ancaman konvensional maupun ancaman hibrida, di tingkat Uni Eropa dan NATO. Mereka ingin membungkam suara tersebut dengan menciptakan kekacauan di negara kami," kata ilmuwan politik itu.

"Tujuan utamanya kemungkinan besar adalah melemahkan dukungan terhadap Ukraina dan mengganggu persatuan Eropa," tambahnya.

Linas Kojala, CEO Geopolitics and Security Studies Center yang berbasis di Vilnius, mengatakan terowongan-terowongan tersebut membuat pasukan penjaga perbatasan tetap sibuk, meskipun hanya sedikit migran yang berhasil masuk.

Ia menggambarkan terowongan tersebut sebagai "fase lain dari serangan berupa penggunaan migrasi sebagai senjata yang telah kami hadapi sejak 2021."

Pada tahun itu, puluhan ribu migran masuk ke Lithuania, Polandia, dan Latvia melalui Belarus. Uni Eropa menyebut peristiwa tersebut sebagai "instrumentalisasi migran yang disponsori negara di perbatasan eksternal Uni Eropa" yang diorganisasi oleh Lukashenko.

"Latvia, Polandia, Lithuania, dan negara-negara lainnya sejak itu telah membangun perbatasan eksternal dan kami berhasil menurunkan migrasi ilegal hingga tingkat minimum," kata Kojala kepada DW.

Penjaga perbatasan Lithuania mencatat 1.652 upaya masuk ilegal ke negara tersebut pada 2025.

Namun, menurut Kojala, angka tersebut tidak akan pernah turun menjadi nol kecuali Minsk menangani masalah tersebut dari sisi Belarus.

"Dan itu tidak mungkin terjadi. Belarus jelas berusaha menciptakan sebanyak mungkin masalah," katanya.

'Migrasi telah lama digunakan sebagai alat strategis'

Belarus bukan negara pertama yang menggunakan migrasi sebagai instrumen strategis, kata Robert Gonzci, analis di Migration Research Institute yang berbasis di Budapest.

"Ini merupakan cara yang relatif murah dan berisiko rendah untuk memberikan tekanan kepada negara lain. Sejak 1950-an, terdapat banyak kasus terdokumentasi mengenai pemerintah yang menciptakan atau memanipulasi arus migrasi," tulisnya dalam email kepada DW.

Ia menambahkan, bahkan Kekaisaran Asyur, yang runtuh pada abad ke-7 sebelum Masehi, menggunakan migrasi untuk memperkuat kendali imperiumnya.

Gonzci tidak menutup kemungkinan bahwa jaringan penyelundup yang bekerja secara independen berada di balik terowongan-terowongan yang baru ditemukan tersebut dan tidak sepenuhnya dikendalikan oleh otoritas Belarus.

Ia mengatakan Belarus dan Rusia telah menggunakan migrasi sebagai senjata untuk "mengalihkan perhatian Barat dari agenda strategis Rusia yang lebih luas serta menciptakan ketidakstabilan di sepanjang sayap timur NATO dengan memicu ketegangan politik dan sosial di negara-negara Eropa."

Negara-negara yang mengorganisasi operasi semacam itu, yang sering kali merupakan rezim otoriter, memiliki keunggulan strategis tersendiri, kata Gonzci.

"Targetnya biasanya adalah negara demokratis yang menghadapi dilema mendasar: mereka harus melindungi kedaulatan dengan mengamankan perbatasan, tetapi pada saat yang sama harus memenuhi kewajiban hukum dan komitmen kemanusiaan," tulisnya.

Negara-negara Eropa timur 'menunjukkan ketahanan'

Namun, para pakar tampaknya sepakat bahwa negara-negara di sayap timur Uni Eropa telah menangani tantangan tersebut dengan cukup baik.

"Kerja sama dan koordinasi antara negara-negara Nordik dan Baltik serta Polandia semakin meningkat karena negara-negara tersebut menghadapi tantangan yang serupa. Misi Frontex dari Uni Eropa juga telah mengirimkan peralatan tambahan," kata Seselgyte.

Lithuania saat ini menerima dukungan teknis dari negara-negara tetangga.

"Kami sedang menguji peralatan pemindai dari Polandia yang dapat mengidentifikasi ruang kosong di bawah tanah. Jika alat tersebut bekerja dengan baik, kami akan membelinya dan mengerahkan peralatan tersebut," jelas Liubajevas.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid

Lihat juga Video: BP2MI Gagalkan Pengiriman 8 Pekerja Migran Ilegal ke UEA

(ita/ita)


Berita Terkait