Bisnis Perang dengan Rusia, Hujan Duit Buat Diktator Korut

Bisnis Perang dengan Rusia, Hujan Duit Buat Diktator Korut

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 13 Agu 2026 10:10 WIB
Bisnis Perang dengan Rusia, Hujan Duit Buat Diktator Korut
Jakarta -

Selama bertahun-tahun, citra satelit malam hari Korea Utara hanya menampakkan sedikit titik cahaya. Kelangkaan suplai listrik membuat kota-kota di penjuru negeri dirundung gelap. Namun, dalam enam tahun sejak April 2020, luas wilayah yang diterangi di pusat Pyongyang melebar lebih dari dua kali lipat. Tingkat kecerahannya meningkat tiga kali lipat.

Portal informasi NK News menyebut meningkatnya pasokan listrik di kota-kota besar merupakan pencapaian pemerintah. Pada 2021, diktator Kim Jong Un mengumumkan dalam Kongres Partai ke-8 rencana pembangunan 50 ribu hunian baru di ibu kota. Dia berhasil merealisasikan rencana tersebut, antara lain di kawasan baru Hwasong, dengan dua blok apartemen setinggi 40 lantai yang bentuknya menyerupai rudal balistik antarbenua Hwasong.

"Kisah sukses terbesar"

Kompleks hunian bertingkat tinggi itu bukan satu-satunya tanda meningkatnya kemakmuran Korea Utara. Pelancong asing yang telah lama mengenal negeri itu melaporkan betapa ibu kota Pyongyang kini tampil lebih modern—dengan banjir mobil impor, termasuk kendaraan listrik dari Cina, aplikasi telepon pintar untuk pembayaran melalui kode QR dan pemesanan taksi, serta pusat-pusat perbelanjaan yang menjual merek fesyen dan kosmetik Barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Pyongyang, rezim menyelesaikan pembangunan rumah sakit terbesar dan sebuah rumah kaca seluas Central Park di New York. Di pantai timur, Kim pada Juni 2025 meresmikan resor pantai Wonsan-Kalma sepanjang lima kilometer yang mampu menampung 20 ribu tamu. Wall Street Journal pada Juni menyebut Korea Utara sebagai "kisah sukses ekonomi terbesar di dunia".

Bisnis perang yang menguntungkan

Rezim komunis itu diduga membiayai investasi domestik terutama dari pendapatan besar yang diperoleh melalui dukungannya dalam perang Rusia melawan Ukraina. Menurut laporan Institute for National Security Strategy (INSS) Korea Selatan pada Maret, Korea Utara meraup hingga US$14,4 miliar atau sekitar Rp257 triliun dari penjualan amunisi kepada Moskow dan pengiriman pasukan. Bloomberg Economics baru-baru ini memperkirakan dukungan militer kepada Rusia menghasilkan lebih dari US$14 miliar bagi Korea Utara antara 2022 dan 2025.

Hampir US$8 miliar lainnya berasal dari perdagangan dengan Cina, penyewaan tenaga kerja Korea Utara ke luar negeri, kegiatan ekspor, dan kejahatan siber. Dalam serangan terbesar di dunia terhadap platform Bybit pada Februari 2025, misalnya, peretas yang diduga berasal dari Korea Utara mencuri Ethereum senilai US$1,5 miliar, sebuah jaringan dengan mata uang virtualnya sendiri. Sebagai pembanding, produk domestik bruto Korea Utara pada tahun sebelumnya mencapai US$27 miliar.

Kim: "Semuanya telah berubah"

Peran Korut sebagai pendukung Rusia menambah pengaruh politik dan militer dinasti Kim. Dia pula yang mendorong peluncuran dua kapal perusak berbobot 5.000 ton belum lama ini. Selama 15 tahun berkuasa, rejim komunis di Pyongyang belum pernah memiliki pengaruh dan uang sebanyak sekarang.

Padahal, selama pandemi Covid-19 posisi sang autokrat justru melemah. Dalam Kongres Partai Buruh pada awal 2021, dia mengakui sambil menangis bahwa "hampir semua sektor ekonomi tertinggal dari harapan". Lima tahun kemudian, pada kongres partai berikutnya, tujuh baris meriam artileri berdiri di depan gedung. Kim bersorak "semuanya telah berubah secara mendasar."

Kemitraan dengan Rusia membuat Korea Utara tak lagi berstatus paria dalam politik dunia. Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi Kim di Pyongyang pada Juni 2024. Pemimpin Cina Xi Jinping datang pada Juni tahun ini, tiga bulan setelah diktator Belarus Alexander Lukashenko. Pada September 2025, Kim berdiri di sisi Xi dan Putin dalam perayaan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II di Beijing.

Menyewakan tentara dengan harga tinggi

Belum diketahui apakah Rusia atau Korea Utara yang lebih dulu mencetuskan gagasan menggunakan persediaan amunisi raksasa milik negeri miskin itu untuk perang di Ukraina. Menurut perkiraan Ukraina, pada 2024 dan 2025 Korea Utara memasok separuh amunisi yang dibutuhkan Rusia di garis depan. Selain itu, Pyongyang memasok meriam swagerak, peluncur roket multipel, dan rudal balistik. Saat ini, menurut keterangan Ukraina, Korea Utara berencana mengirim satu unit rudal yang terdiri atas 90 tentara, enam peluncur, dan hingga 120 rudal ke Rusia untuk bertempur melawan Ukraina.

Sebanyak 16 ribu hingga 22 ribu tentara Korea Utara telah membantu Rusia memukul mundur pasukan Ukraina dari Provinsi Kursk di perbatasan dan kemudian membersihkan wilayah tersebut dari ranjau. Menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Kim kini berniat menempatkan 30 ribu hingga 50 ribu tentara tambahan di Rusia. Bisnis ini menguntungkan: menurut laporan INSS, setiap bulan Kim menerima US$2.800 untuk seorang prajurit, US$3.000 untuk seorang perwira, dan US$6.000 hingga US$10.000 atau Rp178 juta untuk setiap tentara yang tewas.

Seperti pada zaman Soviet, perdagangan timbal balik sebagian besar berlangsung melalui sistem barter. Sebagai imbalan atas amunisi, senjata, dan tentara, Moskow memasok minyak mentah dan produk minyak, gandum, serta peralatan militer—mulai sistem pertahanan udara hingga teknologi untuk membuat drone, rudal, dan kapal selam.

Program pembangunan daerah

Namun, menurut para pakar, kebangkitan ekonomi tidak dirasakan sebagian besar penduduk Korea Utara. Kenaikan harga pangan dan depresiasi mata uang won menghantam banyak rumah tangga miskin yang tidak memiliki akses terhadap valuta asing. Di banyak keluarga, perempuan kini juga harus bekerja untuk mempertahankan taraf hidup.

Pada musim semi 2024, Kim memang mengampanyekan program pembangunan "20x10" untuk daerah-daerah di luar ibu kota Pyongyang yang mendapat pasokan lebih baik. Program itu diduga hendak dibiayai dari pendapatan tambahan rezim. Setiap tahun, pabrik-pabrik modern akan dibangun di 20 kota atau kabupaten. Dalam sepuluh tahun, dengan cara ini akan lahir 200 proyek industri regional.

Namun, proyek 20x10 kemungkinan besar akan gagal, kata Andrey Lankov, pakar Korea Utara dan profesor di Universitas Kookmin di Seoul. "Masalahnya, pabrik-pabrik itu bukan hanya tidak memiliki infrastruktur, tetapi juga mengabaikan mekanisme penyediaan listrik, komponen, dan bahan baku." Secara khusus, pabrik-pabrik tersebut akan dioperasikan berdasarkan prinsip ekonomi terencana, yang menurutnya tidak cocok bagi usaha kecil dan menengah.

"Berbeda dengan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Korea Utara pada pertengahan 2010-an, pertumbuhan saat ini bukan hasil reformasi ekonomi internal, melainkan semata-mata keberuntungan dari dunia internasional," kata Lankov.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Ayu Purwaningsih

Tonton juga video "AS dan Sekutunya Ingatkan Ancaman Siber Korut, Pyongyang: Politis!"

(ita/ita)


Berita Terkait