Tembok Berlin jadi simbol pembatas yang paling tersohor di Jerman selama 28 tahun. Tembok tersebut membelah Berlin Barat, kawasan enklave Dari Republik Federasi Jerman, dengan Berlin Timur yang berlokasi di Republik Demokratik Jerman.
Proyek pembangunan Tembok Berlin dimulai pada 1961 atas perintah pemimpin komunis Jerman setelah 3 juta orang melarikan diri ke area Barat. Mereka mencoba menyelamatkan diri dari kondisi perekonomian yang sulit, kebebasan yang terampas, dan pengawasan berlebihan dari pemerintah. Tembok Berlin ditujukan agar tidak ada lagi orang yang pindah ke area Barat. Pemerintah Jerman Timur sengaja membangun pembatas yang kompleks. Ada begitu banyak penjaga di tembok yang terbentang sejauh 155 kilometer.
Tembok Berlin didesain agar tidak bisa ditembus. Meskipun pada kenyataannya sekitar 5000 orang melewati perbatasan tersebut. Tembok tersebut juga memutus hampir seluruh jalur lalu lintas dan saluran komunikasi antara Berlin Timur dan Berlin Barat kecuali area Checkpoint Charlie.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tembok tersebut, kekerasan yang dilakukan Republik Demokratik Jerman terlihat jelas. Antara 1961 hingga 1989, sedikitnya 140 orang tewas di sana. Selain sekitar 100 orang yang mencoba melarikan diri, penjaga perbatasan dan warga yang kebetulan melintas juga kehilangan nyawa.
Dari Tembok Berlin, terlihat jelas kekerasan yang dilakukan Republik Demokratik Jerman. Setidaknya ada 140 orang yang dibunuh antara 1961-1989. Di samping itu, sekitar 100 orang yang berupaya melarikan diri juga kehilangan nyawa.
Bagaimana Tembok Berlin menjadi Monumen Tersohor
Runtuhnya Tembok Berlin berbarengan dengan jatuhnya blok komunis di Eropa Timur pada 9 November 1989. Reunifikasi Jerman terjadi satu tahun setelahnya.
Saat ini, sisa-sisa reruntuhan Tembok Berlin di Jerman setidaknya bisa ditemukan di dua tempat yakni East Side Gallery dan Berlin Wall Memorial.
Ketika Tembok Berlin runtuh, warga Berlin bersemangat untuk segera membongkar struktur represif itu. Pada saat yang sama, individu, pemerintah, dan institusi di berbagai belahan dunia juga tertarik untuk memperoleh kepingan tembok tersebut. Salah satu yang paling berminat adalah Amerika Serikat.
Menurut perkiraan Yayasan Federal untuk Studi Kediktatoran Komunis di Jerman Timur, saat ini sisa-sisa Tembok Berlin paling banyak ada di Amerika Serikat. Kepingan Tembok Berlin bisa ditemukan di depan markas besar CIA di Langley maupun di sebuah toilet pria di Las Vegas.
"Amerika Serikat memainkan peran besar dalam pemisahan Jerman," kata direktur yayasan, Anna Kaminsky. "Tembok Berlin adalah isu yang hampir selalu disebut oleh presiden-presiden Amerika dalam kebijakan luar negeri. Bagi Amerika Serikat, ini pada dasarnya merupakan persoalan emosional β terutama bagi para prajurit AS yang ditempatkan di Berlin."
Potongan Tembok Berlin tersebar tidak hanya di Amerika Serikat melainkan juga di berbagai belahan dunia. Mulai dari Selandia Baru, Islandia, Indonesia hingga Chili. Yayasan Jerman mendata ada 57 negara di luar Jerman yang setidaknya memiliki satu bagian tembok. Tiap potongan punya kisah tersendiri dan ditafsirkan secara berbeda. Ada kalanya kepingan tembok diperoleh oleh individu atau perusahaan swasta, sementara di lain waktu pemerintah Jerman atau Senat Berlin yang memberikannya sebagai hadiah.
Sebagai peringatan dan permohonan penyatuan
Di Korea Selatan potongan Tembok Berlin ada di di enam lokasi berbeda. Salah satunya di Dorasan. Daerah paling utara dari jaringan kereta api Korea Selatan yang letaknya di sepanjang perbatasan Korea Utara. Pada 2015, PResiden Jerman Joachim Gauck dan perwakilan pemerintah Korea Selatan meresmikan "Platform Unifikasi" yang intinya menyerukan untuk "Mewujudkan persatuan Korea dan membantu dunia menjadi lebih damai" Di sana juga ada kutipan dari Gauck yang menyebut: "Mencari kebebasan bersama-sama."
Potongan Tembok Berlin di sejumlah negara bekas Blok Timur jadi simbol demokrasi yang diperjuangkan dengan susah payah. Hal itu terjadi di Bulgaria, ketika pemerintah kota Sofia meminta potongan Tembok Berlin kepada Senat Berlin pada 2006. Kini potongan tersebut berdiri di samping monumen untuk para korban komunisme di Bulgaria. Di dekat potongan Tembok Berlin tersebut tertulis, "Pada 13 Agustus 1961, sebuah tembok memisahkan Berlin dan Jerman, serta Eropa dan dunia. Bulgaria terjebak di sisi timur tembok hingga 9 November 1989 ketika rakyat merobohkannya. Segmen Tembok Berlin ini adalah hadiah dari Berlin untuk warga Sofia sebagai tanda Eropa yang bersatu kembali dan bukti bahwa rakyat Bulgaria kini bebas."
Bagian Tembok Berlin yang ada di Sofia tampak kusam dan abu-abu persis seperti tembok aslinya. Namun, banyak bagian lain telah dilukis atau diberi grafiti yang menandakan simbol perdamaian dan persahabatan. Kini, potongan-potongan tembok tersebut lebih terlihat sebagai bagian dari budaya pop dibandingkan komponen perbatasan yang dulu ditakuti.
Seniman Prancis sekaligus warga pilihan Berlin, Thierry Noir, melukis sisi Tembok Berlin di Berlin Barat dengan figur-figur berukuran besar khas karyanya bahkan sebelum 9 November 1989. Namun kemudian ia meninggalkan jejak permanen pada bagian-bagian tembok tersebut.
Ketua acara "Germany & Next Topmodel," Heidi Klum, memiliki sebuah potongan tembok yang dilukis oleh Noir dan ditaruh di halaman rumahnya di California. Potongan itu merupakan hadiah dari suaminya, yang lahir di Jerman Timur.
Kontroversi: Bagian dinding dijual untuk keuntungan
Setelah Tembok Berlin runtuh, pemerintahan transisi Republik Demokratik Jerman saat itu menugaskan sebuah perusahaan milik negara untuk menjual sisa-sisa struktur tersebut demi keuntungan finansial. Perusahaan itu kemudian bekerja sama dengan sebuah lembaga di Berlin Barat untuk melukis permukaan tembok yang tersisa agar lebih menarik dan meningkatkan harga jual.
"Hal itu memicu banyak protes karena melihat pemerintah Republik Demokratik Jerman, yang telah membangun tembok sebagai saksi bisu penewasan begitu banyak manusia, justru ingin meraup keuntungan dengan menjualnya," kata Anna Kaminsky. Namun penjualan tersebut setidaknya dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi lembaga nirlaba. Meski demikian, perusahaan swasta pun ikut meraih keuntungan dari tembok tersebut.
Sebuah karya yang mengkritik praktik ini dapat ditemukan di kota Trondheim, Norwegia. Di sana, seniman Lars O. Ramberg menciptakan sebuah patung berjudul "Kapitalistischer Realismus" atau Realisme Kapitalis untuk pemerintah kota. Pada bagian tembok itu, ia menuliskan kata "SALE." Menurut penjelasan sang seniman, Tembok Berlin melambangkan pencapaian kebebasan sekaligus menjadi contoh bagaimana nilai simbolis tersebut dapat diperjualbelikan. Ia menambahkan bahwa dirinya pun turut menjadi bagian dari masalah ini dengan membeli segmen tembok dan menciptakan karya tersebut.
Dalam 10 tahun terakhir, permintaan untuk potongan Tembok Berlin menurun secara signifikan. "Sejarah dunia terus berjalan dan politik global kini berbeda," tutur Anna Kaminsky. "Dampak ikonik dari tembok itu telah memudar selama beberapa dekade. Tembok tersebut semakin kehilangan posisinya sebagai simbol."
Sebagian orang menilai hal ini juga memiliki sisi positif β karena, tidak peduli seberapa berwarna atau di mana pun ia berdiri,tembok itu tetap menjadi simbol kediktatoran.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman.
Diadaptasi oleh: Joan Aurelia Rumengan
Editor: Yuniman farid
Lihat juga Video: Ada Keris di Humboldt Forum Berlin, Kok Bisa?










































