Diteken Turki-Pakistan-Saudi, Apa Tujuan Pakta Pertahanan Makkah?

Diteken Turki-Pakistan-Saudi, Apa Tujuan Pakta Pertahanan Makkah?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 12 Agu 2026 12:46 WIB
Diteken Turki-Pakistan-Saudi, Apa Tujuan Pakta Pertahanan Makkah?
Jakarta -

Turki, Pakistan, dan Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan bersejarah pada hari Jumat (7/8) yang "bertujuan memperkuat pencegahan kolektif terhadap segala bentuk agresi." Perjanjian Pertahanan Makkah itu diteken oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Ketiga negara memiliki mayoritas penduduk beragama Islam Sunni. Perjanjian yang ditandatangani di Makkah itu dimaksudkan untuk meningkatkan kerja sama di tengah ketidakpastian regional dan ancaman perang Iran.

Meski kerap dibandingkan dengan NATO, terlebih setelah Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan: serangan terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota, para ahli dan analis mengatakan bahwa kemungkinan besar perjanjian tidak terlaksana seperti itu.

Contohnya pada akhir pekan lalu, kelompok pemberontak Houthi di Yaman kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menganggap Arab Saudi sebagai musuh mereka. Pecahnya perang AS-Israel melawan Iran di akhir Februari, membuat Iran memandang Arab Saudi sebagai sekutu AS dan turut menyasarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, setelah serangan Houthi yang terjadi di akhir pekan lalu tidak otomatis membuat Turki dan Pakistan langsung membela Arab Saudi dan meluncurkan serangan balik. Para analis juga mengatakan baik Turki dan Pakistan kemungkinan tidak akan menyerang sekutu Houthi, Iran. Pakistan pun saat ini masih bertindak sebagai mediator antara Iran dan AS.

Perjanjian pertahanan yang fleksibel?

Perjanjian ini lebih ditujukan sebagai upaya pencegahan dan sebagai perjanjian pertahanan yang fleksibel, kata Dania Thafer, direktur eksekutif lembaga think tank Gulf International Forum (GIF) yang berbasis di Washington, kepada DW akhir pekan lalu.

ADVERTISEMENT

"Jika Anda melihat pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian ini, ada Arab Saudi, yang berada di tengah-tengah konflik ini. Namun, ada juga Turki dan Pakistan, yang keduanya memiliki hubungan baik dengan Iran dan juga dengan AS. Jadi, menurut saya, ini adalah 'lapisan pencegah' tambahan bagi Arab Saudi," jelas Thafer. "Saya rasa Arab Saudi sedang mempertimbangkan upaya pencegahan berlapis terhadap ancaman regional yang muncul."

Aliansi ini kemungkinan akan berjalan dalam beberapa tahap dengan tujuan jangka pendek seperti kestabilan kawasan, menurut Kamran Bokhari, peneliti senior di Middle East Policy Council di Washington, kepada DW.

Transfer teknologi dan investasi

Para pakar lain menyatakan bahwa tujuan jangka panjangnya akan lebih berfokus pada kerja sama pertahanan daripada soal pertempuran.

"Ketiga negara ini saling melengkapi dengan sangat baik," kata Andreas Krieg, dosen bidang keamanan di King's College London, kepada kantor berita AFP pekan lalu.

Arab Saudi memiliki kekayaan minyak namun teknologi pertahanan yang terbatas dan hingga saat ini masih bergantung pada AS. Sementara itu, Turki dan Pakistan membutuhkan investasi dan memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Turki daam hal ini memiliki sektor industri pertahanan yang maju, jelas Krieg lebih lanjut. Pakistan adalah satu-satunya negara di antara ketiganya yang memiliki senjata nuklir.

"Turki memiliki teknologi dan kapasitas produksi, tetapi membutuhkan pasar dan investasi. Pakistan memiliki tenaga kerja, institusi militer, dan pencegah nuklir, tetapi membutuhkan pembiayaan dan kemampuan industri," kata Krieg.

Siapa yang jadi sasaran Pakta Makkah?

Seorang pejabat Turki yang dikutip oleh Reuters mengatakan bahwa perjanjian tersebut bersifat murni pertahanan dan terbuka bagi negara-negara tetangga di kawasan yang mungkin ingin bergabung. Mesir dianggap sebagai mitra potensial, namun juga harus mempertimbangkan sekutu-sekutu lainnya, termasuk Uni Emirat Arab. Uni Emirat Arab, yang masih bersitegang dengan Arab Saudi belum bergabung.

Ia juga mengatakan bahwa pakta ini tidak menggantikan atau meniadakan perjanjian bilateral atau multilateral sebelumnya antara para pihak dan juga tidak ditujukan kepada satu pihak atau untuk mengancam pihak tertentu.

Namun, tidak diragukan lagi bahwa perjanjian ini dipahami sebagai upaya pencegahan, terutama terhadap Iran dan Israel.

Tujuan perjanjian ini bukan untuk meraih kemenangan militer apa pun, tulis Khalid al-Jaber, direktur Middle East Council on Global Affairs yang berbasis di Doha, dalam kolom opini hari Minggu untuk media berita Qatar, Al Jazeera. "Tujuannya adalah mencegah hegemoni," jelasnya.

"Berkurangnya pengaruh Amerika dapat membuat kawasan ini berada dalam tatanan yang ditetapkan oleh dua pihak: Israel dan Iran," lanjut al-Jaber. "Pakta Makkah paling tepat dipahami sebagai upaya awal untuk membangun poros ketiga, sebuah blok yang tidak perlu melawan salah satu dari kedua kekuatan tersebut, tetapi memiliki pengaruh yang cukup untuk mencegah salah satu dari keduanya memonopoli kawasan."

Bagaimana respon Israel?

Dua pihak yang menandatangani perjanjian yaitu Pakistan dan Arab Saudi, tidak mengakui dan memiliki hubungan bilateral resmi dengan Israel. Meskipun dalam kasus Arab Saudi, kemungkinan ada beberapa hubungan rahasia. Turki mengakui kedaulatan Israel, namun keduanya sedang bersitegang akibat aktivitas Israel di Gaza, yang disebut Turki sebagai tindakan genosida.

Presiden Turki Erdogan pekan lalu menyatakan bahwa tindakan Israel di Suriah dan Lebanon juga merupakan ancaman bagi keamanan Turki.

"Perkembangan [pakta Makkah] ini menimbulkan tantangan signifikan bagi Israel, semakin menjauhkan prospek normalisasi dengan Riyadh, dan memupus visi 'Timur Tengah baru &rsquo," tulis Oshrit Birvadker, peneliti di Jerusalem Institute for Strategy and Security, dalam editorial hari Sabtu untuk media Israel Hayom.

Birvadker juga meyakini bahwa aliansi trilateral baru ini akan memperparah persaingan dan ketegangan yang semakin meningkat antara Turki dan Israel.

Picu ragam reaksi di Iran

Institute for National Security Studies di Universitas Tel Aviv mengamati bagaimana reaksi masyarakat Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tampaknya tidak terlalu terganggu dengan adanya perjanjian tersebut. Di platform media sosial X ia memposting bahwa "Ketika umat Muslim bersatu, kita dapat menghadapi setiap tantangan dari pihak luar yang berniat jahat."

Para pengamat menganggap hal ini sebagai hal yang positif, sebagian sebagai argumen Iran untuk mengusir AS dari kawasan tersebut.

Beberapa pengamat Iran berpendapat bahwa Arab Saudi mungkin berusaha memanfaatkan hubungan Turki dan Pakistan yang lebih baik dengan Iran guna meningkatkan keamanan negaranya dari serangan Iran.

Namun, politisi Iran lainnya bersikap kritis, dengan menyatakan bahwa Arab Saudi tidak merasa aman dengan AS sekutunya juga dengan Turki maupun Pakistan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

Tonton juga video "Pakta Pertahanan Makkah Disebut Cuma Gertakan Belaka"

(ita/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini